Senin, 16 Februari 2009

Etika Islam

Masalah kemerosotan moral dewasa ini menjadi santapan keseharian masyarakat
kita. Meski demikian tidak jelas faktor apa yang menjadi penyebabnya. Masalah
moral adalah masalah yang pertama muncul pada diri manusia, "baik ideal maupun
realita". Secara ideal bahwa pada ketika pertama manusia di beri "ruh" untuk
pertama kalinya dalam hidupnya, yang padanya disertakan "rasio" penimbang baik
dan buruk (QS 91:7-8). Secara realita bahwa dalam kehidupan bermasyarakat,
dimana individu merupakan bagian dari masyarakat manusia, maka yang awal mula
muncul dalam kesadarannya ialah pertanyaan "What must be ?"(Apa yang
seharusnya), yang lalu disusul dengan "What must I do ?" (Apa yang harus
dilakukan) pelaksanaan "What must I do?", menanti lebih dulu jawaban "What must
be?". Pertanyaan "What must be?", ditujukan kepada kemampuan rohani pada diri
manusia yang berbentuk kategori-kategori tertentu yang tidak timbul dari
pengalaman maupun pemikiran, kemampuan ini bersifat intuitif dan apriori. Oleh
sebab itu masalah moral adalah masalah "normatif". Di dalam hidupnya manusia
dinilai!!! Atau akan melakukan sesuatu karena nilai!!! Nilai mana yang akan dituju
tergantung kepada tingkat pengertian akan nilai tersebut. Pengertian yang dimaksud
adalah bahwa manusia memahami apa yang baik dan buruk serta ia dapat
membedakan keduanya dan selanjutnya mengamalkannya. Pengertian tentang baikburuk
tidak dilalui oleh pengalaman akan tetapi telah ada sejak pertama kali "ruh"
ditiupkan. Demi jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada
jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya (QS 91:7-8). Pengertian (pemahaman)
baik dan buruk merupakan asasi manusia yang harus diungkap lebih jelas, "atas
dasar apa kita melakukan sesuatu amalan". Imam Al Ghazali menamakan pengertian
apriori sebagai pengertian "awwali". Dari mana pengertian-pengertian tersebut
diperoleh, sebagaimana ucapannya :
"Pikiran menjadi sehat dan berkeseimbangan kembali dan dengan aman dan yakin
dapat ia menerima kembali segala pengertian-pengertian awwali dari akal itu.
Semua itu terjadi tidak dengan mengatur alasan atau menyusun keterangan,
melainkan dengan Nur (cahaya) yang dipancarkan Allah SWT ke dalam batin dari
ilmu ma'rifat".
Di sini, Al Ghazali mengembalikannya ke dasar pengertian awwali yaitu pengertian
Ilahiyah. Sedang Plato menyebutnya "idea". Ia mengungkapkan bahwa "idea"
hakekatnya sudah ada, tinggal manusia mencarinya dengan cara menenangkan
pikiran atau disebut mencari inspirasi bagi seniman. Jelasnya "idea" bukan timbul
dari pengalaman atau ciptaan pikiran sehingga menghasilkan "ide". Kesadaran
tentang keberlangsungan ide yang sejak awal ruh ditiupkan, menyebabkan Allah
dalam firman-firmanNya menghendaki manusia masuk pada posisi asasinya yang
disebut "idul fitri", yaitu kembali kepada "kesejatian diri". Sebab kesejatian inilah
yang bisa dipertanggung-jawabkan kebenaran sikapnya karena perilaku yang keluar
bersandar pada kejernihan fitrah. Maka sesungguhnya fitrah itu sejalan dengan
kehendak Allah (fitrah Allah), yang disebut dalam Al Qur'an. "Maka hadapkanlah
wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah). (Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah
menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.

(itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya" (QS
30:30). Pada dasarnya fitrah manusia itu suci, akan tetapi proses penerimaan ide
(ilham) tersebut, terkadang menjadi tidak murni disebabkan kekotoran jiwa yang
diliputi nafsu syahwat. Dalam hal ini Allah berfirman dalam surat Asy Syams ayat 7-
8 :
"Dan demi jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu
(jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang
mensucikan jiwa itu Dan merugilah orang yang mengotorinya" (QS 91:7-8)".
Betapa bahayanya ilham-ilham tersebut bila diterima oleh jiwa yang kotor, sebab
pengetahuan-pengetahuan itu akan digunakan untuk melakukan hal-hal seperti :
mencuri, korupsi, menipu dan merusak alam semesta. Tetapi alangkah indahnya jika
ilham-ilham tersebut diterima oleh jiwa yang tenang dan bersih yang akan
menimbulkan kemaslahatan bagi dirinya maupun alam semesta. Maka dari sini dapat
dimengerti, walau seseorang sudah memiliki pengertian "baik buruk secara apriori",
bukan berarti ia telah tahu secara mutlak, namun pengertiannya masih bersifat
relatif dan hal itu akan lebih jelas jika disinari oleh wahyu ke-Tuhanan. Sebab ia
tidak akan mampu menelusuri secara intelektual tanpa adanya "daya spiritual"
dalam menerima ide yang sesuai dengan Fitrah Allah. Sebaliknya kalau dibiarkan
jiwa kita diam, terbelenggu oleh keinginan syahwat, maka apa yang diperoleh oleh
jiwa berupa ide ilmu pengetahuan akan digunakan sesuai dengan kepentingan
syahwatnya.
Kembali kepada masalah "nilai". Seseorang pasti akan dinilai atau pasti akan
melakukan sesuatu karena nilai, dan jika "nilai" masih bersifat relatif, maka nilai
tersebut akan tergantung kepada dasar yang ia pakai. Bisa jadi, mencuri itu
mendapat nilai kebajikan apabila perilaku tersebut didasari oleh hukum-hukum
tentang permalingan, juga sekularisme, hedonisme, komunisme dan ateisme, dasardasar
inilah yang akan menilai perilaku itu baik atau buruk. Begitupun tata nilai ke-
Tuhanan (Islam), setiap "perilaku" Islam sangat menekankan orientasi niat yang
kuat, menyandarkan peribadatannya didasari konsep "LIlahi ta'ala". Pendasaran
kepada setiap "laku" manusia, mengandung tuntutan kesadaran, bukan paksaan!!!
Perilaku seseorang tersebut baru bisa dikatakan mempunyai nilai. Hal ini sesuai
dengan Hadist Nabi :
"Sesungguhnya segala perbuatan itu disertai niat. Dan seseorang diganjar sesuai
dengan niatnya" (Hadist riwayat Bukhari Muslim).
Dalam hadist tersebut jelas, setiap perilaku mempunyai dasar (niat), sehingga
perbuatannya dikategorikan baik atau buruk dimana ia menggantungkan niatnya.
Suatu riwayat, ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, diungkapkan masalah "niat".
"Maka barang siapa hijrahnya didasari (niat) karena Allah dan Rasulullah maka
hijrahnya akan sampai diterima oleh Allah dan Rasulullah. Dan barang siapa
hijrahnya didasari (niat) karena kekayaan dunia yang akan didapat atau karena
perempuan yang akan dikawin, maka hijrahnya terhenti (tertolak) pada apa yang ia
hijrah kepadanya" (Al Hadits).
Di sini sangat penting kesadaran akan "niat" untuk memperjelas perbedaan mana
yang baik menurut nafsu, dan baik menurut Allah. Perilaku yang lalai atau tidak
karena Allah seperti dalam shalat, maka nilai kelurusan shalat yang terhalang olehpikiran yang tidak khusyu' akan berakibat pada rusaknya nilai ibadah shalat. Seperti
yang termaktub dalam Al Qur'an surat Al Maa'uun ayat 4-5 :
"Maka celakalah bagi yang melakukan shalat karena"niat"-nya (lalai, terhambat oleh
keinginan supaya dilihat orang lain) (QS 107:4-5).
Perbuatan macam ini tidak bisa dikatakan sebagai "Dien". Sebab agama mempunyai
satu dasar penilaian yang sangat sempurna yakni; Islam, Iman, dan Ihsan. Etika
pada umumnya menentukan "sadar bebas" sebagai obyeknya, dan ternyata hal ini
hanya melihat dari segi lahiriah perbuatan. Setia dan bertingkah baik an-sich tanpa
memperhitungkan syarat lain, memang dapat digolongkan ke dalam "kebajikan".
Namun belum tentu dapat dikategorikan dalam kebajikan jika ditinjau lebih jauh
pada kondisi-kondisi lain, yakni pada apa perbuatan itu bersangkut paut atau apa
yang melatari perbuatan tersebut. Misalnya Abdullah memberikan sedekah kepada
fakir miskin. Ketika terjadi tindakan tersebut terdapat :
1. Subyek yang berbuat, yaitu "Abdullah".
2. Obyek yang diperbuat, yaitu Abdullah melakukan "sedekah".
3. Obyek yang terkena perbuatan, yaitu sedekah diberikan kepada fakir miskin.
4. Obyek yang dipergunakan, yaitu niat karena apa (bisa karena ingin dilihat orang,
karena Allah dll).
Pada faktor-faktor inilah disamping "niat" batin, Islam meletakkan nilai syarat yang
ikut ambil bagian dalam menilai suatu perbuatan sebagai tindakan etis. Tegas sekali
Islam mewajibkan "niat karena Allah" sebagai tanggung jawab penghambaan kepada
Kholiqnya.
Tanggung jawab Islam dalam syariat (etika ke-Tuhanan) selalu mengandung
kedalaman dimensi yang tidak saja tindakan fisik sebagai obyek nilai, juga di
dalamnya nilai psikologis merupakan tindakan etis yang secara naluriah,
mengembalikan kepada Fitrah Allah. Dalam tahapan ini manusia sampai kepada
tahapan tertinggi yang dalam tindakannya sesuai dengan kehendak Allah (Fitrah
Allah), diharapkan setiap perilaku (ibadah) sampai kepada syarat; Islam, Iman dan
Ihsan. Karena akan dikatakan (dinilai) sebagai agama apabila meliputi ketiga kriteria
tersebut.
Dalam Hadist riwayat Bukhori dan Muslim disebutkan :
"Artinya: sesungguhnya Jibril pernah datang kepada Nabi dalam bentuk seorang
Arab Badui, lalu ia bertanya kepadanya tentang Islam, maka Nabi menjawab, "Islam
itu, ialah hendaknya engkau bersaksi sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah dan
sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah, engkau mendirikan shalat, engkau
keluarkan zakat, engkau puasa bulan Ramadhan dan engkau pergi haji ke Baitullah
jika engkau mampu pergi ke sana. Lalu Jibril bertanya apakah Iman itu? Nabi
menjawab, "Yaitu hendaknya engkau beriman kepada Allah, kepada Malaikat-Nya,
kepada kitab-kitab-Nya, kepada para Utusan-Nya, bangkit dari kubur sesudah mati,
dan hendaknya engkau beriman kepada takdir tentang takdir baik dan buruknya.
Jibril bertanya lagi, apakah Ihsan itu? Nabi menjawab, yaitu hendaknya engkau
menyembah Allah yang seolah-olah engkau melihat Allah, sekalipun engkau tidak
bisa melihat-Nya tetapi Ia bisa melihat engkau. Kemudian dalam akhir Hadist itu
dikatakan Rasulullah saw bersabda (kepada para sahabatnya) : Dia itu Jibril, Ia
datang kepadamu untuk mengajarkan tentang agamamu".
Hal ini seluruhnya termasuk agama, dan agama (dien) itu sendiri berarti khudhu'
(tunduk) dan dzull (merendah) seperti perkataan : "Ku tundukkan dia, maka ia
tunduk" yakni : beribadah kepada Allah dan taat kepada-Nya serta merendahkan diri
kepada-Nya.
Agama meliputi :
a. Islam : berupa syariat Islam (syahadat, shalat, zakat, puasa, haji).
b. Iman : kepercayaan, keyakinan, transendental.
c. Ihsan : kekuatan psikologis dimana ia mengaitkan nilai perilakunya karena Allah.
Maka setiap peribadatan, apakah itu shalat, zakat, puasa akan terasa sia-sia apabila
dilakukan tanpa dibarengi dengan tunduk dan patuh serta merasakan adanya sikap
"ihsan" (seakan-akan melihat Allah, jika tidak mampu melihat-Nya sesungguhnya Ia
melihat kalian). Hal inilah yang selalu menjadi permasalahan pokok dan
mensosialisasi sebagai kebiasaan buruk yang tidak lagi menjadi masalah, padahal
kita bertahun-tahun melakukan peribadatan tidak mendapatkan apa-apa kecuali
capek dan sia-sia. Ihsan adalah kontak batin dan dialogis, responsif. Ihsan adalah
roh setiap peribadatan, dan menentukan diterima tidaknya peribadatan. Sikap ini
pula yang menjadikan ihsan itu rukun agama, yang apabila ditinggalkan salah satu
rukun agama, maka batallah sebagai agama. Permasalahan rukun agama ini telah
dihukumkan dan disyaratkan kepada orang yang sampai baligh. Sebagaimana Hadist
Rasulullah :
"Hukum tidak berlaku bagi tiga golongan; orang yang tidur sampai bangun, anak
kecil sampai mimpi basah, dan orang gila sampai sembuh" (Abu Dawud, Ibnu Majah
dan Annasay, hadist sohih).
Selanjutnya Islam mengajarkan bahwa seorang muslim yang beramal kebajikan,
tetapi tujuannya bukan LIlahi ta'ala tidak mungkin diterima amalnya, sebagaimana
firman Allah surat Az Zumar ayat 2 :
"Kami menurunkan kitab ini kepada engkau dengan sebenarnya, sebab itu
sembahlah Allah seraya mengihklaskan agama bagi-Nya saja" (QS 39:2).
Nash tersebut di atas merupakan kesimpulan dari tujuan etika Islam, yaitu
mengembalikan kepada posisi fitrah manusia, yang dengan kesadaran itu, maka ia
akan menjadi manusia paripurna dan ia akan berakhlaq sebagaimana akhlaq Allah,
dengan kecenderungan berbuat baik tanpa beban dan paksaan.
Untuk itu kecenderungan berbuat baik akan terjadi apabila kita mampu berusaha
membersihkan jiwa. Dan kebersihan jiwa akan didapat apabila kita melaksanakan
peribadatan sesuai dengan kriteria-kriteria pada penjelasan di atas

Tidak ada komentar: