Banyak ahli muslim terutama yang memperhatikan masalah akhlak kepada Allah,
mengemukakan bahwa hati manusia merupakan kunci pokok pembahasan menuju
pengetahuan tentang Tuhan. Hati, sebagai pintu dan sarana Tuhan memperkenalkan
kesempurnaan diri-Nya. "Tidak dapat memuat dzat-Ku bumi dan langit-Ku, kecuali
"Hati" hamba-Ku yang mukmin, lunak dan tenang (HR Abu Dawud ). Hanya melalui
"hati manusialah" keseimbangan sejati antara Tuhan dan kosmos bisa dicapai.
Al Qur'an menggunakan istilah qalb (hati) 132 kali, makna dasar kata itu ialah
membalik, kembali, pergi maju-mundur, berubah, naik-turun. Diambil dari latar
belakangnya hati mempunyai sifat yang selalu berubah, sebab hati adalah lokus dari
kebaikan dan kejahatan, kebenaran dan kesalahan.
Hati adalah tempat dimana Tuhan mengungkapkan diri-Nya sendiri kepada manusia.
Kehadiran-Nya terasa di dalam hati, dan wahyu maupun ilham diturunkan kedalam
hati para Nabi maupun wali-Nya.
"Ketahuilah bahwa Tuhan membuat batasan antara manusia dan hatinya, dan bahwa
kepada-Nya lah kamu sekalian akan dikumpulkan" (QS 8:24)
"(Jibril) menurunkan wahyu ke dalam hati nuranimu dengan izin Tuhan,
membenarkan wahyu sebelumnya, menjadi petunjuk dan kabar gembira bagi orangorang
yang beriman" (QS 2:97)
Hati adalah pusat pandangan , pemahaman , dan ingatan ( dzikir )
"Apakah mereka tidak pernah bepergian di muka bumi ini supaya hatinya tersentak
memikirkan kemusnahan itu, atau mengiang di telinganya untuk didengarkan ?
sebenarnya yang buta bukan mata , melainkan " hati" yang ada di dalam dada." (QS
22:46)
"memang hati mereka telah kami tutup hingga mereka tidak dapat memahaminya,
begitu pula liang telinganya telah tersumbat" (QS 18:57 )
"Apakah mereka tidak merenungkan isi Al Qur'an? atau adakah hati mereka yang
terkunci?" (QS 47:24)
"Janganlah kamu turutkan orang yang hatinya telah Kami alpakan dari mengingat
Kami (dzikir), orang yang hanya mengikuti hawa nafsunya saja, dan keadaan orang
itu sudah keterlaluan" (QS 18:28)
"Sesungguhnya telah Kami sediakan untuk penghuni neraka dari golongan jin dan
manusia; mereka mempunyai hati, tetapi tidak menggunakannya untuk memahami
ayat-ayat Allah, mereka mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakan untuk melihat,
mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakan untuk mendengar. Mereka itu
seperti binatang ternak , bahkan lebih sesat lagi. Mereka adalah orang-orang yang
alpa (tidak berdzikir) " (QS 7:17 )
Iman tumbuh dan bersemayam di dalam hati, begitu juga kekafiran, kemungkaran
serta penyelewengan dari jalan yang lurus. Oleh sebab itu, Allah tetap menegaskan
bahwa perilaku seseorang tidak bisa hanya sekedar syarat sah rukun syariat saja,
akan tetapi harus sampai kepada
pusat iman yaitu "hati".
Mungkin kita hampir lupa bahwa peribadatan selalu menuntut pemurnian hati
(keikhlasan), sehingga akan menghasilkan sesuatu yang haq serta dampak iman
secara langsung.
Iman yang pernah diikrarkan oleh kaum Arab Badwi dihadapan Rasulullah bukan
kategori iman yang sebenarnya, sehingga seketika itu Allah menurunkan wahyu
untuk memperingatkan kepada mereka (Arab Badwi) :
"Orang-orang Badwi itu berkata : "kami telah beriman". Katakanlah (kepada
mereka) "Kamu belum beriman", tetapi katakanlah "kami telah tunduk", karena
iman itu belum masuk kedalam hatimu" (QS 49:14) .
Iman yang benar mempunyai ciri tersendiri dan diakui oleh Al Qur'an. Ia tertegun
dan terharu tatkala nama Allah disebut ... dan bahkan ia terdorong ingin meluapkan
kegembiraan dan kerinduannya dengan menjerit seraya bersujud dan menangis.
Bergetar hatinya dan bertambahlah imannya. Ia begitu kokoh dan mantap dalam
setiap langkahnya karena keIhsanan bersama dengan Allah yang selalu menjaga. Ia
akan selalu berbisik ke dalam lubuk hatinya tatkala menghadapi persoalan dan
kesulitan di dunia, karena disitulah Allah meletakkan ilham sebagai pegangan untuk
menentukan sikap. Sehingga kaum beriman akan selalu terjaga dalam hidayah dan
bimbingan Allah Swt.
Firman Allah Swt :
"Suatu musibah tidak akan menimpa seseorang kecuali atas izin Allah. Dan barang
siapa yang beriman kepada Allah, tentu Dia akan menunjuki "hatinya". Dan Tuhan
Maha Mengetahui segala-galanya" (QS 64:11)
"Keimanan telah ditetapkan Allah ke dalam "hatinya" serta dikokohkan pula Ruh dari
diri-Nya" (QS 58:22)
"Dan Kami tunjang pula mereka dengan petunjuk, dan Kami teguhkan hati mereka"
(QS 18:13-14)
"Dialah yang telah menurunkan ketentraman di dalam hati orang-orang yang
beriman supaya bertambah keimanannya disamping keimanan yang telah ada" (QS
48:4)
Syetan menggantikan kedudukan Allah bersemayam di istana hati manusia yang
lalai. Allah akan memalingkan dan menghinakan orang yang lalai akan Allah. Allah
akan mengunci dan mematikan hati sehingga ia diberi gelar "binatang ternak!!!"
Bahkan lebih sesat dari itu. Kalau sampai terjadi seperti ini maka tertutuplah hati
untuk menerima cahaya dari Allah Swt. Maka tidak heran jika perbuatannya akan
cenderung mengikuti langkah-langkah syetan yang dilarang oleh Allah, syetan
menggantikan posisi Allah menduduki hati yang tertutup dan dialah yang akan
menasehati dan membimbing ke jalan yang sesat. Kekejian itu akan menyeruak ke
dalam kalbu melalui hembusan ilham sehingga akal fikiran tidak mampu menghalau
datangnya petunjuk tersebut. Marah dan benci tidak pernah direncanakan, akan
tetapi ia datang langsung ke pusat hati, dan tubuh tanpa daya mengikuti kemauan
sihir sang iblis. Hati menjadi buta.......!!!
Allah berfirman :
"Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Allah Yang Maha Pemurah, Kami
adakan baginya syetan (yang menyesatkan) maka syetan itulah yang menjadi teman
yang selalu menyertai" (QS 43:36)
"Hai orang- orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah
syetan, maka sesungguhnya syetan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji
dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya niscaya
tidak seorangpun dari kamu sekalian bersih ( dari perbuatan keji dan mungkar )
selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah
Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui" (QS 24:21)
Iman dan kafir terletak di dalam hati, Allah telah membeberkan berikut contohcontohnya
antara orang yang dibukakan hatinya dan yang ditutup hatinya, serta
perilaku keduanya. Maka keputusannya terletak kepada kebebasan manusia itu
sendiri untuk memilih jalan yang sesat ataupun yang lurus. Karena disitu akan
mendapatkan bimbingan langsung baik jalan kesesatan maupun jalan ketaqwaan.
Firman Allah :
"Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan-Nya), maka Allah mengilhamkan kepada
jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya. Sungguh beruntunglah orang yang
menyucikan jiwa itu dan merugilah orang yang mengotorinya" (QS 91:7-10)
Ayat di atas memberikan pengertian atas pentingnya membersihkan jiwa, sehingga
apabila hal ini terjadi, maka Allah-lah yang akan membimbing ketaqwaan, keimanan,
serta ketulusan. Namun sebaliknya Allah akan menistakan manusia yang melalaikan
akan Allah serta mengotori hatinya dengan mengirim musuh Allah sebagai penasehat
dan menuntunnya ke jalan kesesatan.
Kemudian apa langkah selanjutnya, serta bagaimana terapi untuk mengembalikan
hati yang sudah terlanjur karam dilumpur nista ?
Pertama, kita sudah memahami bahwa penyebab utama dari ketidakmampuan
berbuat baik dan kesulitan menjaga dari perbuatan keji dan mungkar serta tidak
didengarnya setiap doa, adalah "tertutupnya mata hati dari NUR ILAHI ".
Kedua, konsentrasikan masalah mengurus hati dulu, jangan mempersoalkan hal
yang lain, karena "hati" sedang menderita sakit kronis. Kita harus perhatikan dengan
sungguh-sungguh, dan memasrahkan diri kepada Sang Pembuka Hati ... Dialah yang
menutup hati kita, membutakan, mentulikan, dan mengunci mati dan tidak
memberikan kefahaman atas ayat-ayat Allah yang turun ke dalam hati.
Mari kita perhatikan kedalam, kita jenguk hati kita yang sedang berbaring tak
berdaya, disitu terlihat syetan dengan leluasa memberikan wejangan dan petunjuk
bagaimana berbuat keji dan mungkar. Ia menuntun pikiran untuk menerawang ke
angkasa, mengajaknya mi'raj keangan-angan panjang dan melupakannya ketika
badan sedang shalat, sedang berwudhu' dan membaca Al Qur'an dan ibadah yang
lain. Kita sudah beberapa kali mencoba menepis ajakan itu namun apa daya
kekuatan iblis memang luar biasa, kita bukan tandingannya untuk melawan dan
mengusirnya. Ia ghaib dan licik ... ia berjalan melalui aliran darah manusia, ia bisa
menembus tembok ruang dan waktu, ia ada dalam fikiran dan bahkan bersemayam
di dalam hati manusia. Cukup sudah usaha kita untuk melawannya, namun gagal
dan gagal lagi.... ...
Namun ada yang yang tidak "MATI", yaitu diri sejati yang selalu melihat keadaan
hati kita yang sakit. Ialah "Bashirah" (QS 75:14), ia tidak pernah bersekongkol
dengan syetan, ia yang mengetahui kebohongan hati, kejahatan, dan ia selalu
mengikuti fitrah Allah, ia jujur, tawadhu', khusyu', kasih sayang dan adil ( lihat tafsir
sofwatut tafasir, oleh prof. Ali Assobuni).
Kita harus cepat mendengarkan suara Dia yang selalu mengajak ke arah kebajikan,
Ia sangat dekat dengan Allah, Ia sangat patuh, Ia penuh iman, Ia berbicara menurut
kata Allah (ilham), dan kedudukannya sangat tinggi di atas syetan dan jin sehingga
mereka tidak bisa menembus untuk menggodanya (QS 37:8). Anda bisa
merasakannya sekarang ... tatkala anda berbohong, Ia berkata lirih ... kenapa kamu
berbohong ... Ia tidak tidur tatkala kita tidur ... Ia melihat tatkala kita bermimpi
dikejar anjing ... Ia melihat ketika jin menggoda dan syetan menyesatkan, namun
hati tidak kuasa mengikuti kata bashirah yang oleh Allah digelari "RUH-KU". Maka
beruntunglah orang yang membersihkan jiwanya dan celakalah orang yang
mengotorinya (QS 91:9-10)
Kita kembali kepada persoalan hati ,
Mari kita perbaiki hati kita dengan cara mendatangi Allah, kita serahkan persoalan ini
... kerumitan hati yang selalu ragu-ragu ... ketidakmampuan menahan syahwat yang
bergolak keras ...
Mari kita contoh Nabi Yusuf ketika gejolak nafsu sudah menguasai hatinya, Ia tidak
kuasa lagi menahan syahwatnya tatkala Julaiha datang menghampiri untuk
mengajaknya berbuat mesum ... Ia cepat berpaling dan menghampiri Allah dan
mengadukan keadaan syahwatnya yang terus menerus mengajak kepada
keburukan. Kemudian Allah mendatangkan rahmat-Nya dan memalingkan hatinya,
mengangkat kekejian di dalam hatinya, dan akhirnya Nabi Yusuf terbebas dari
perbuatan yang dilaknat Allah Swt.
Allah sendiri yang akan memalingkan hati dari perbuatan keji dan mungkar sehingga
terasa sekali sentuhan Ilahi tatkala mengangkat kotoran hati dengan cara
menggantikannya dengan perbuatan baik dan ikhlas.
Allah berfirman :
"Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan
Yusuf, dan Yusuf-pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu, andaikata dia
tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan
daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hambahamba
Kami yang terpilih (ikhlash)" (QS 12:24)
Mungkin kita masih ragu-ragu ... apa mungkin kita bisa mendapatkan burhan dan
bimbingan Allah dalam menghindari perbuatan keji dan mungkar? Mari kita hindari
prasangka yang buruk terhadap Allah, kita timbulkan rasa percaya bahwa hanya
Allah-lah yang mampu memberikan hidayah dan bimbingan serta mencabut
persoalan yang kita hadapi.
Pada bab penyucian jiwa, telah saya sampaikan praktek berkomunikasi kepada Allah.
Saya berharap anda telah melakukannya dengan penuh hudhu' dan ikhlas, sehingga
anda juga akan dibukakan rahmat dan hidayah-Nya. Amin....
Mari kita kembali mecoba berkomunikasi kepada Allah seperti tercantum dalam bab
sebelumnya.
Ketika Allah membuka Hidayah ke dalam "Hati". Hilangkan rasa takut tersesat
didalam menempuh jalan ruhani ... bekal kita adalah tauhid, lambungkan jiwa
melayang menuju Allah ... dekatkan dan berbisiklah dengan kemurnian hati ...
jangan menghadap dengan konsentrasi pikiran, sebab anda akan mengalami pusing
dan tegang. Usahakanlah tubuh anda rileks dan pasrah ... biarkan hati bergerak
menyebut Asma-Nya yang Maha Agung ... Ajaklah perasaan dan fikiran untuk hadir
bersujud dihadapan-Nya.
Jangan hiraukan kebisingan di luar ... usahakan hati tetap teguh menyebut nama
Allah berulang-ulang ... sampai datang ketenangan dan hening serta rasa dingin
didalam kalbu ... kalau anda mengalami pusing dan penat ... berarti cara
berdzikirnya menggunakan kosentrasi didalam fikiran, maka ulangi dengan cara
berkomunikasi didalam jiwa / hati ...
Mohonlah kepada Allah agar dibukakan hati dan dimudahkan menempuh jalan
menuju makrifat
Biasanya ... kalau kita mendapatkan ketenangan dan kekhusyu'an didalam
berkomunikasi dengan Allah ... mula-mula hati menjadi sangat terang ... mudah
sekali menangis terharu tatkala kita menyebut Asma-Nya ... kita tidak kuasa
membendung air mata ketika shalat ... membaca Al Qur'an dan melihat keagungan
Allah yang lain ... hati sering bergetar manakala kita berhadapan dengan-Nya ...
badan turut berguncang dan berat dirasa seakan ada yang mendorong untuk
bersujud dan menangis ... keihsanan dan tauhid kepada Allah bertambah kuat.
Keyakinan bertambah lekat, serta perubahan demi perubahan didalam kalbu
semakin terlihat. Perilaku kita akan dibimbing ... perilaku hati yang semula kaku dan
cenderung kasar berubah dengan sendirinya ..menjadi lembut ... Yang semula shalat
fikiran turut melayang-layang berubah dengan kekhusyu'an dan terasa nikmatnya ...
dan seterusnya ...
HAL INI TIDAK AKAN PERNAH TERJADI, APABILA KITA HANYA MENJADIKAN ARTIKEL
INI SEBAGAI REFERENSI ILMU YANG HANYA UNTUK DIPERDEBATKAN, LALU
DISIMPAN DALAM ALMARI ...
Untuk lebih jelasnya mari kita lanjutkan perjalanan kita ini dengan mengikuti
bagaimana Allah mengajarkan manusia, binatang, para Nabi dan Rasul. Selanjutnya
anda akan saya ajak berguru kepada Yang Maha Mursyid ... Maha Mengetahui, Maha
Guru dari segala guru, Yang Maha Sakti. Dialah yang mengajarkan manusia apa-apa
yang belum diketahuinya. Dia mengajarkan binatang lebah untuk membuat
sarangnya. Dan ... kepada Dia-lah segala makhluk bergantung ... Dialah Sang Guru
Sejati ... Gurunya para Guru ... Gurunya para Nabi dan Rasul … Gurunya para
Wali dan Gurunya KITA yang bertaqwa !!!
Kamis, 19 Februari 2009
Mbah Jo
Mbah Jo dirawat ndhik rumah sakit. Jare doktere asmane wis kronis,
irungesampek dipasangi selang.
Wis pirang-pirang dino iki mbah Jo meneeng ae koyok wong koma, mripate
thok sing ketap-ketip. Dikiro wis wayahe mangkat, anake nyelukno
mudhin ben didungakno.
Pas mudhine enak-enak ndungo, moro-moro Mbah Jo megap-megap gak
isokambekan, raine pucet, tangane gemeter. Nganggo bahasa isyarat mbah
Jo nirokno wong nulis. Anake ngerti maksute, langsung dijupukno kertas
ambek pulpen.
Ambekmegap-megap, mbah Jo nulis surat. Karo siso-siso tenogone
mbah Jo ngekekno surate iku mau nang pak Mudhine. Ambek Pak Mudhine
kertase iku mau langsung disaki, rasane kok gak tepak moco surat
wasiat saiki, pikire pak Mudhin.
Mari ngesaki surat pak Mudhin nerusno ndungone. Gak sui mari ngono
mbah Jo mangkat. Akeh wong sing kelangan, soale masio sangar, mbah
Jo iku wonge apikan.
Pas selametan pitung dinane Mbah Jo, Pak Mudhin diundang maneh.
Mari mimpin ndungo, Pak Mudhin lagek iling lek dhe’e nganggo klambi
batik sing digawe pas mbah Jo mangkat. Lha ndhik sake lak onok titipan
surate Mbah Jo tah, waduh selamet iling aku rek, pikire pak Mudhin.
”Derek-derek sedoyo, onok surat seko almarhum Mbah Jo sing durung
taksampekno nang peno kabeh.
Lek ndhelok mbah Jo pas uripe, isine mestine nasehat kanggo anak
putune kabeh. Ayok diwoco bareng-bareng isi surate”. Mari ngono pak
Mudhin ngerogoh surat ndhik sake, bareng diwoco tibake munine..
HE.. NGALIO DHIN !!! OJOK NGADHEK NDHIK SELANG OXIGENKU
!!!
irungesampek dipasangi selang.
Wis pirang-pirang dino iki mbah Jo meneeng ae koyok wong koma, mripate
thok sing ketap-ketip. Dikiro wis wayahe mangkat, anake nyelukno
mudhin ben didungakno.
Pas mudhine enak-enak ndungo, moro-moro Mbah Jo megap-megap gak
isokambekan, raine pucet, tangane gemeter. Nganggo bahasa isyarat mbah
Jo nirokno wong nulis. Anake ngerti maksute, langsung dijupukno kertas
ambek pulpen.
Ambekmegap-megap, mbah Jo nulis surat. Karo siso-siso tenogone
mbah Jo ngekekno surate iku mau nang pak Mudhine. Ambek Pak Mudhine
kertase iku mau langsung disaki, rasane kok gak tepak moco surat
wasiat saiki, pikire pak Mudhin.
Mari ngesaki surat pak Mudhin nerusno ndungone. Gak sui mari ngono
mbah Jo mangkat. Akeh wong sing kelangan, soale masio sangar, mbah
Jo iku wonge apikan.
Pas selametan pitung dinane Mbah Jo, Pak Mudhin diundang maneh.
Mari mimpin ndungo, Pak Mudhin lagek iling lek dhe’e nganggo klambi
batik sing digawe pas mbah Jo mangkat. Lha ndhik sake lak onok titipan
surate Mbah Jo tah, waduh selamet iling aku rek, pikire pak Mudhin.
”Derek-derek sedoyo, onok surat seko almarhum Mbah Jo sing durung
taksampekno nang peno kabeh.
Lek ndhelok mbah Jo pas uripe, isine mestine nasehat kanggo anak
putune kabeh. Ayok diwoco bareng-bareng isi surate”. Mari ngono pak
Mudhin ngerogoh surat ndhik sake, bareng diwoco tibake munine..
HE.. NGALIO DHIN !!! OJOK NGADHEK NDHIK SELANG OXIGENKU
!!!
Senin, 16 Februari 2009
Etika Islam
Masalah kemerosotan moral dewasa ini menjadi santapan keseharian masyarakat
kita. Meski demikian tidak jelas faktor apa yang menjadi penyebabnya. Masalah
moral adalah masalah yang pertama muncul pada diri manusia, "baik ideal maupun
realita". Secara ideal bahwa pada ketika pertama manusia di beri "ruh" untuk
pertama kalinya dalam hidupnya, yang padanya disertakan "rasio" penimbang baik
dan buruk (QS 91:7-8). Secara realita bahwa dalam kehidupan bermasyarakat,
dimana individu merupakan bagian dari masyarakat manusia, maka yang awal mula
muncul dalam kesadarannya ialah pertanyaan "What must be ?"(Apa yang
seharusnya), yang lalu disusul dengan "What must I do ?" (Apa yang harus
dilakukan) pelaksanaan "What must I do?", menanti lebih dulu jawaban "What must
be?". Pertanyaan "What must be?", ditujukan kepada kemampuan rohani pada diri
manusia yang berbentuk kategori-kategori tertentu yang tidak timbul dari
pengalaman maupun pemikiran, kemampuan ini bersifat intuitif dan apriori. Oleh
sebab itu masalah moral adalah masalah "normatif". Di dalam hidupnya manusia
dinilai!!! Atau akan melakukan sesuatu karena nilai!!! Nilai mana yang akan dituju
tergantung kepada tingkat pengertian akan nilai tersebut. Pengertian yang dimaksud
adalah bahwa manusia memahami apa yang baik dan buruk serta ia dapat
membedakan keduanya dan selanjutnya mengamalkannya. Pengertian tentang baikburuk
tidak dilalui oleh pengalaman akan tetapi telah ada sejak pertama kali "ruh"
ditiupkan. Demi jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada
jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya (QS 91:7-8). Pengertian (pemahaman)
baik dan buruk merupakan asasi manusia yang harus diungkap lebih jelas, "atas
dasar apa kita melakukan sesuatu amalan". Imam Al Ghazali menamakan pengertian
apriori sebagai pengertian "awwali". Dari mana pengertian-pengertian tersebut
diperoleh, sebagaimana ucapannya :
"Pikiran menjadi sehat dan berkeseimbangan kembali dan dengan aman dan yakin
dapat ia menerima kembali segala pengertian-pengertian awwali dari akal itu.
Semua itu terjadi tidak dengan mengatur alasan atau menyusun keterangan,
melainkan dengan Nur (cahaya) yang dipancarkan Allah SWT ke dalam batin dari
ilmu ma'rifat".
Di sini, Al Ghazali mengembalikannya ke dasar pengertian awwali yaitu pengertian
Ilahiyah. Sedang Plato menyebutnya "idea". Ia mengungkapkan bahwa "idea"
hakekatnya sudah ada, tinggal manusia mencarinya dengan cara menenangkan
pikiran atau disebut mencari inspirasi bagi seniman. Jelasnya "idea" bukan timbul
dari pengalaman atau ciptaan pikiran sehingga menghasilkan "ide". Kesadaran
tentang keberlangsungan ide yang sejak awal ruh ditiupkan, menyebabkan Allah
dalam firman-firmanNya menghendaki manusia masuk pada posisi asasinya yang
disebut "idul fitri", yaitu kembali kepada "kesejatian diri". Sebab kesejatian inilah
yang bisa dipertanggung-jawabkan kebenaran sikapnya karena perilaku yang keluar
bersandar pada kejernihan fitrah. Maka sesungguhnya fitrah itu sejalan dengan
kehendak Allah (fitrah Allah), yang disebut dalam Al Qur'an. "Maka hadapkanlah
wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah). (Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah
menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.
(itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya" (QS
30:30). Pada dasarnya fitrah manusia itu suci, akan tetapi proses penerimaan ide
(ilham) tersebut, terkadang menjadi tidak murni disebabkan kekotoran jiwa yang
diliputi nafsu syahwat. Dalam hal ini Allah berfirman dalam surat Asy Syams ayat 7-
8 :
"Dan demi jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu
(jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang
mensucikan jiwa itu Dan merugilah orang yang mengotorinya" (QS 91:7-8)".
Betapa bahayanya ilham-ilham tersebut bila diterima oleh jiwa yang kotor, sebab
pengetahuan-pengetahuan itu akan digunakan untuk melakukan hal-hal seperti :
mencuri, korupsi, menipu dan merusak alam semesta. Tetapi alangkah indahnya jika
ilham-ilham tersebut diterima oleh jiwa yang tenang dan bersih yang akan
menimbulkan kemaslahatan bagi dirinya maupun alam semesta. Maka dari sini dapat
dimengerti, walau seseorang sudah memiliki pengertian "baik buruk secara apriori",
bukan berarti ia telah tahu secara mutlak, namun pengertiannya masih bersifat
relatif dan hal itu akan lebih jelas jika disinari oleh wahyu ke-Tuhanan. Sebab ia
tidak akan mampu menelusuri secara intelektual tanpa adanya "daya spiritual"
dalam menerima ide yang sesuai dengan Fitrah Allah. Sebaliknya kalau dibiarkan
jiwa kita diam, terbelenggu oleh keinginan syahwat, maka apa yang diperoleh oleh
jiwa berupa ide ilmu pengetahuan akan digunakan sesuai dengan kepentingan
syahwatnya.
Kembali kepada masalah "nilai". Seseorang pasti akan dinilai atau pasti akan
melakukan sesuatu karena nilai, dan jika "nilai" masih bersifat relatif, maka nilai
tersebut akan tergantung kepada dasar yang ia pakai. Bisa jadi, mencuri itu
mendapat nilai kebajikan apabila perilaku tersebut didasari oleh hukum-hukum
tentang permalingan, juga sekularisme, hedonisme, komunisme dan ateisme, dasardasar
inilah yang akan menilai perilaku itu baik atau buruk. Begitupun tata nilai ke-
Tuhanan (Islam), setiap "perilaku" Islam sangat menekankan orientasi niat yang
kuat, menyandarkan peribadatannya didasari konsep "LIlahi ta'ala". Pendasaran
kepada setiap "laku" manusia, mengandung tuntutan kesadaran, bukan paksaan!!!
Perilaku seseorang tersebut baru bisa dikatakan mempunyai nilai. Hal ini sesuai
dengan Hadist Nabi :
"Sesungguhnya segala perbuatan itu disertai niat. Dan seseorang diganjar sesuai
dengan niatnya" (Hadist riwayat Bukhari Muslim).
Dalam hadist tersebut jelas, setiap perilaku mempunyai dasar (niat), sehingga
perbuatannya dikategorikan baik atau buruk dimana ia menggantungkan niatnya.
Suatu riwayat, ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, diungkapkan masalah "niat".
"Maka barang siapa hijrahnya didasari (niat) karena Allah dan Rasulullah maka
hijrahnya akan sampai diterima oleh Allah dan Rasulullah. Dan barang siapa
hijrahnya didasari (niat) karena kekayaan dunia yang akan didapat atau karena
perempuan yang akan dikawin, maka hijrahnya terhenti (tertolak) pada apa yang ia
hijrah kepadanya" (Al Hadits).
Di sini sangat penting kesadaran akan "niat" untuk memperjelas perbedaan mana
yang baik menurut nafsu, dan baik menurut Allah. Perilaku yang lalai atau tidak
karena Allah seperti dalam shalat, maka nilai kelurusan shalat yang terhalang olehpikiran yang tidak khusyu' akan berakibat pada rusaknya nilai ibadah shalat. Seperti
yang termaktub dalam Al Qur'an surat Al Maa'uun ayat 4-5 :
"Maka celakalah bagi yang melakukan shalat karena"niat"-nya (lalai, terhambat oleh
keinginan supaya dilihat orang lain) (QS 107:4-5).
Perbuatan macam ini tidak bisa dikatakan sebagai "Dien". Sebab agama mempunyai
satu dasar penilaian yang sangat sempurna yakni; Islam, Iman, dan Ihsan. Etika
pada umumnya menentukan "sadar bebas" sebagai obyeknya, dan ternyata hal ini
hanya melihat dari segi lahiriah perbuatan. Setia dan bertingkah baik an-sich tanpa
memperhitungkan syarat lain, memang dapat digolongkan ke dalam "kebajikan".
Namun belum tentu dapat dikategorikan dalam kebajikan jika ditinjau lebih jauh
pada kondisi-kondisi lain, yakni pada apa perbuatan itu bersangkut paut atau apa
yang melatari perbuatan tersebut. Misalnya Abdullah memberikan sedekah kepada
fakir miskin. Ketika terjadi tindakan tersebut terdapat :
1. Subyek yang berbuat, yaitu "Abdullah".
2. Obyek yang diperbuat, yaitu Abdullah melakukan "sedekah".
3. Obyek yang terkena perbuatan, yaitu sedekah diberikan kepada fakir miskin.
4. Obyek yang dipergunakan, yaitu niat karena apa (bisa karena ingin dilihat orang,
karena Allah dll).
Pada faktor-faktor inilah disamping "niat" batin, Islam meletakkan nilai syarat yang
ikut ambil bagian dalam menilai suatu perbuatan sebagai tindakan etis. Tegas sekali
Islam mewajibkan "niat karena Allah" sebagai tanggung jawab penghambaan kepada
Kholiqnya.
Tanggung jawab Islam dalam syariat (etika ke-Tuhanan) selalu mengandung
kedalaman dimensi yang tidak saja tindakan fisik sebagai obyek nilai, juga di
dalamnya nilai psikologis merupakan tindakan etis yang secara naluriah,
mengembalikan kepada Fitrah Allah. Dalam tahapan ini manusia sampai kepada
tahapan tertinggi yang dalam tindakannya sesuai dengan kehendak Allah (Fitrah
Allah), diharapkan setiap perilaku (ibadah) sampai kepada syarat; Islam, Iman dan
Ihsan. Karena akan dikatakan (dinilai) sebagai agama apabila meliputi ketiga kriteria
tersebut.
Dalam Hadist riwayat Bukhori dan Muslim disebutkan :
"Artinya: sesungguhnya Jibril pernah datang kepada Nabi dalam bentuk seorang
Arab Badui, lalu ia bertanya kepadanya tentang Islam, maka Nabi menjawab, "Islam
itu, ialah hendaknya engkau bersaksi sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah dan
sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah, engkau mendirikan shalat, engkau
keluarkan zakat, engkau puasa bulan Ramadhan dan engkau pergi haji ke Baitullah
jika engkau mampu pergi ke sana. Lalu Jibril bertanya apakah Iman itu? Nabi
menjawab, "Yaitu hendaknya engkau beriman kepada Allah, kepada Malaikat-Nya,
kepada kitab-kitab-Nya, kepada para Utusan-Nya, bangkit dari kubur sesudah mati,
dan hendaknya engkau beriman kepada takdir tentang takdir baik dan buruknya.
Jibril bertanya lagi, apakah Ihsan itu? Nabi menjawab, yaitu hendaknya engkau
menyembah Allah yang seolah-olah engkau melihat Allah, sekalipun engkau tidak
bisa melihat-Nya tetapi Ia bisa melihat engkau. Kemudian dalam akhir Hadist itu
dikatakan Rasulullah saw bersabda (kepada para sahabatnya) : Dia itu Jibril, Ia
datang kepadamu untuk mengajarkan tentang agamamu".
Hal ini seluruhnya termasuk agama, dan agama (dien) itu sendiri berarti khudhu'
(tunduk) dan dzull (merendah) seperti perkataan : "Ku tundukkan dia, maka ia
tunduk" yakni : beribadah kepada Allah dan taat kepada-Nya serta merendahkan diri
kepada-Nya.
Agama meliputi :
a. Islam : berupa syariat Islam (syahadat, shalat, zakat, puasa, haji).
b. Iman : kepercayaan, keyakinan, transendental.
c. Ihsan : kekuatan psikologis dimana ia mengaitkan nilai perilakunya karena Allah.
Maka setiap peribadatan, apakah itu shalat, zakat, puasa akan terasa sia-sia apabila
dilakukan tanpa dibarengi dengan tunduk dan patuh serta merasakan adanya sikap
"ihsan" (seakan-akan melihat Allah, jika tidak mampu melihat-Nya sesungguhnya Ia
melihat kalian). Hal inilah yang selalu menjadi permasalahan pokok dan
mensosialisasi sebagai kebiasaan buruk yang tidak lagi menjadi masalah, padahal
kita bertahun-tahun melakukan peribadatan tidak mendapatkan apa-apa kecuali
capek dan sia-sia. Ihsan adalah kontak batin dan dialogis, responsif. Ihsan adalah
roh setiap peribadatan, dan menentukan diterima tidaknya peribadatan. Sikap ini
pula yang menjadikan ihsan itu rukun agama, yang apabila ditinggalkan salah satu
rukun agama, maka batallah sebagai agama. Permasalahan rukun agama ini telah
dihukumkan dan disyaratkan kepada orang yang sampai baligh. Sebagaimana Hadist
Rasulullah :
"Hukum tidak berlaku bagi tiga golongan; orang yang tidur sampai bangun, anak
kecil sampai mimpi basah, dan orang gila sampai sembuh" (Abu Dawud, Ibnu Majah
dan Annasay, hadist sohih).
Selanjutnya Islam mengajarkan bahwa seorang muslim yang beramal kebajikan,
tetapi tujuannya bukan LIlahi ta'ala tidak mungkin diterima amalnya, sebagaimana
firman Allah surat Az Zumar ayat 2 :
"Kami menurunkan kitab ini kepada engkau dengan sebenarnya, sebab itu
sembahlah Allah seraya mengihklaskan agama bagi-Nya saja" (QS 39:2).
Nash tersebut di atas merupakan kesimpulan dari tujuan etika Islam, yaitu
mengembalikan kepada posisi fitrah manusia, yang dengan kesadaran itu, maka ia
akan menjadi manusia paripurna dan ia akan berakhlaq sebagaimana akhlaq Allah,
dengan kecenderungan berbuat baik tanpa beban dan paksaan.
Untuk itu kecenderungan berbuat baik akan terjadi apabila kita mampu berusaha
membersihkan jiwa. Dan kebersihan jiwa akan didapat apabila kita melaksanakan
peribadatan sesuai dengan kriteria-kriteria pada penjelasan di atas
kita. Meski demikian tidak jelas faktor apa yang menjadi penyebabnya. Masalah
moral adalah masalah yang pertama muncul pada diri manusia, "baik ideal maupun
realita". Secara ideal bahwa pada ketika pertama manusia di beri "ruh" untuk
pertama kalinya dalam hidupnya, yang padanya disertakan "rasio" penimbang baik
dan buruk (QS 91:7-8). Secara realita bahwa dalam kehidupan bermasyarakat,
dimana individu merupakan bagian dari masyarakat manusia, maka yang awal mula
muncul dalam kesadarannya ialah pertanyaan "What must be ?"(Apa yang
seharusnya), yang lalu disusul dengan "What must I do ?" (Apa yang harus
dilakukan) pelaksanaan "What must I do?", menanti lebih dulu jawaban "What must
be?". Pertanyaan "What must be?", ditujukan kepada kemampuan rohani pada diri
manusia yang berbentuk kategori-kategori tertentu yang tidak timbul dari
pengalaman maupun pemikiran, kemampuan ini bersifat intuitif dan apriori. Oleh
sebab itu masalah moral adalah masalah "normatif". Di dalam hidupnya manusia
dinilai!!! Atau akan melakukan sesuatu karena nilai!!! Nilai mana yang akan dituju
tergantung kepada tingkat pengertian akan nilai tersebut. Pengertian yang dimaksud
adalah bahwa manusia memahami apa yang baik dan buruk serta ia dapat
membedakan keduanya dan selanjutnya mengamalkannya. Pengertian tentang baikburuk
tidak dilalui oleh pengalaman akan tetapi telah ada sejak pertama kali "ruh"
ditiupkan. Demi jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada
jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya (QS 91:7-8). Pengertian (pemahaman)
baik dan buruk merupakan asasi manusia yang harus diungkap lebih jelas, "atas
dasar apa kita melakukan sesuatu amalan". Imam Al Ghazali menamakan pengertian
apriori sebagai pengertian "awwali". Dari mana pengertian-pengertian tersebut
diperoleh, sebagaimana ucapannya :
"Pikiran menjadi sehat dan berkeseimbangan kembali dan dengan aman dan yakin
dapat ia menerima kembali segala pengertian-pengertian awwali dari akal itu.
Semua itu terjadi tidak dengan mengatur alasan atau menyusun keterangan,
melainkan dengan Nur (cahaya) yang dipancarkan Allah SWT ke dalam batin dari
ilmu ma'rifat".
Di sini, Al Ghazali mengembalikannya ke dasar pengertian awwali yaitu pengertian
Ilahiyah. Sedang Plato menyebutnya "idea". Ia mengungkapkan bahwa "idea"
hakekatnya sudah ada, tinggal manusia mencarinya dengan cara menenangkan
pikiran atau disebut mencari inspirasi bagi seniman. Jelasnya "idea" bukan timbul
dari pengalaman atau ciptaan pikiran sehingga menghasilkan "ide". Kesadaran
tentang keberlangsungan ide yang sejak awal ruh ditiupkan, menyebabkan Allah
dalam firman-firmanNya menghendaki manusia masuk pada posisi asasinya yang
disebut "idul fitri", yaitu kembali kepada "kesejatian diri". Sebab kesejatian inilah
yang bisa dipertanggung-jawabkan kebenaran sikapnya karena perilaku yang keluar
bersandar pada kejernihan fitrah. Maka sesungguhnya fitrah itu sejalan dengan
kehendak Allah (fitrah Allah), yang disebut dalam Al Qur'an. "Maka hadapkanlah
wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah). (Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah
menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.
(itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya" (QS
30:30). Pada dasarnya fitrah manusia itu suci, akan tetapi proses penerimaan ide
(ilham) tersebut, terkadang menjadi tidak murni disebabkan kekotoran jiwa yang
diliputi nafsu syahwat. Dalam hal ini Allah berfirman dalam surat Asy Syams ayat 7-
8 :
"Dan demi jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu
(jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang
mensucikan jiwa itu Dan merugilah orang yang mengotorinya" (QS 91:7-8)".
Betapa bahayanya ilham-ilham tersebut bila diterima oleh jiwa yang kotor, sebab
pengetahuan-pengetahuan itu akan digunakan untuk melakukan hal-hal seperti :
mencuri, korupsi, menipu dan merusak alam semesta. Tetapi alangkah indahnya jika
ilham-ilham tersebut diterima oleh jiwa yang tenang dan bersih yang akan
menimbulkan kemaslahatan bagi dirinya maupun alam semesta. Maka dari sini dapat
dimengerti, walau seseorang sudah memiliki pengertian "baik buruk secara apriori",
bukan berarti ia telah tahu secara mutlak, namun pengertiannya masih bersifat
relatif dan hal itu akan lebih jelas jika disinari oleh wahyu ke-Tuhanan. Sebab ia
tidak akan mampu menelusuri secara intelektual tanpa adanya "daya spiritual"
dalam menerima ide yang sesuai dengan Fitrah Allah. Sebaliknya kalau dibiarkan
jiwa kita diam, terbelenggu oleh keinginan syahwat, maka apa yang diperoleh oleh
jiwa berupa ide ilmu pengetahuan akan digunakan sesuai dengan kepentingan
syahwatnya.
Kembali kepada masalah "nilai". Seseorang pasti akan dinilai atau pasti akan
melakukan sesuatu karena nilai, dan jika "nilai" masih bersifat relatif, maka nilai
tersebut akan tergantung kepada dasar yang ia pakai. Bisa jadi, mencuri itu
mendapat nilai kebajikan apabila perilaku tersebut didasari oleh hukum-hukum
tentang permalingan, juga sekularisme, hedonisme, komunisme dan ateisme, dasardasar
inilah yang akan menilai perilaku itu baik atau buruk. Begitupun tata nilai ke-
Tuhanan (Islam), setiap "perilaku" Islam sangat menekankan orientasi niat yang
kuat, menyandarkan peribadatannya didasari konsep "LIlahi ta'ala". Pendasaran
kepada setiap "laku" manusia, mengandung tuntutan kesadaran, bukan paksaan!!!
Perilaku seseorang tersebut baru bisa dikatakan mempunyai nilai. Hal ini sesuai
dengan Hadist Nabi :
"Sesungguhnya segala perbuatan itu disertai niat. Dan seseorang diganjar sesuai
dengan niatnya" (Hadist riwayat Bukhari Muslim).
Dalam hadist tersebut jelas, setiap perilaku mempunyai dasar (niat), sehingga
perbuatannya dikategorikan baik atau buruk dimana ia menggantungkan niatnya.
Suatu riwayat, ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, diungkapkan masalah "niat".
"Maka barang siapa hijrahnya didasari (niat) karena Allah dan Rasulullah maka
hijrahnya akan sampai diterima oleh Allah dan Rasulullah. Dan barang siapa
hijrahnya didasari (niat) karena kekayaan dunia yang akan didapat atau karena
perempuan yang akan dikawin, maka hijrahnya terhenti (tertolak) pada apa yang ia
hijrah kepadanya" (Al Hadits).
Di sini sangat penting kesadaran akan "niat" untuk memperjelas perbedaan mana
yang baik menurut nafsu, dan baik menurut Allah. Perilaku yang lalai atau tidak
karena Allah seperti dalam shalat, maka nilai kelurusan shalat yang terhalang olehpikiran yang tidak khusyu' akan berakibat pada rusaknya nilai ibadah shalat. Seperti
yang termaktub dalam Al Qur'an surat Al Maa'uun ayat 4-5 :
"Maka celakalah bagi yang melakukan shalat karena"niat"-nya (lalai, terhambat oleh
keinginan supaya dilihat orang lain) (QS 107:4-5).
Perbuatan macam ini tidak bisa dikatakan sebagai "Dien". Sebab agama mempunyai
satu dasar penilaian yang sangat sempurna yakni; Islam, Iman, dan Ihsan. Etika
pada umumnya menentukan "sadar bebas" sebagai obyeknya, dan ternyata hal ini
hanya melihat dari segi lahiriah perbuatan. Setia dan bertingkah baik an-sich tanpa
memperhitungkan syarat lain, memang dapat digolongkan ke dalam "kebajikan".
Namun belum tentu dapat dikategorikan dalam kebajikan jika ditinjau lebih jauh
pada kondisi-kondisi lain, yakni pada apa perbuatan itu bersangkut paut atau apa
yang melatari perbuatan tersebut. Misalnya Abdullah memberikan sedekah kepada
fakir miskin. Ketika terjadi tindakan tersebut terdapat :
1. Subyek yang berbuat, yaitu "Abdullah".
2. Obyek yang diperbuat, yaitu Abdullah melakukan "sedekah".
3. Obyek yang terkena perbuatan, yaitu sedekah diberikan kepada fakir miskin.
4. Obyek yang dipergunakan, yaitu niat karena apa (bisa karena ingin dilihat orang,
karena Allah dll).
Pada faktor-faktor inilah disamping "niat" batin, Islam meletakkan nilai syarat yang
ikut ambil bagian dalam menilai suatu perbuatan sebagai tindakan etis. Tegas sekali
Islam mewajibkan "niat karena Allah" sebagai tanggung jawab penghambaan kepada
Kholiqnya.
Tanggung jawab Islam dalam syariat (etika ke-Tuhanan) selalu mengandung
kedalaman dimensi yang tidak saja tindakan fisik sebagai obyek nilai, juga di
dalamnya nilai psikologis merupakan tindakan etis yang secara naluriah,
mengembalikan kepada Fitrah Allah. Dalam tahapan ini manusia sampai kepada
tahapan tertinggi yang dalam tindakannya sesuai dengan kehendak Allah (Fitrah
Allah), diharapkan setiap perilaku (ibadah) sampai kepada syarat; Islam, Iman dan
Ihsan. Karena akan dikatakan (dinilai) sebagai agama apabila meliputi ketiga kriteria
tersebut.
Dalam Hadist riwayat Bukhori dan Muslim disebutkan :
"Artinya: sesungguhnya Jibril pernah datang kepada Nabi dalam bentuk seorang
Arab Badui, lalu ia bertanya kepadanya tentang Islam, maka Nabi menjawab, "Islam
itu, ialah hendaknya engkau bersaksi sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah dan
sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah, engkau mendirikan shalat, engkau
keluarkan zakat, engkau puasa bulan Ramadhan dan engkau pergi haji ke Baitullah
jika engkau mampu pergi ke sana. Lalu Jibril bertanya apakah Iman itu? Nabi
menjawab, "Yaitu hendaknya engkau beriman kepada Allah, kepada Malaikat-Nya,
kepada kitab-kitab-Nya, kepada para Utusan-Nya, bangkit dari kubur sesudah mati,
dan hendaknya engkau beriman kepada takdir tentang takdir baik dan buruknya.
Jibril bertanya lagi, apakah Ihsan itu? Nabi menjawab, yaitu hendaknya engkau
menyembah Allah yang seolah-olah engkau melihat Allah, sekalipun engkau tidak
bisa melihat-Nya tetapi Ia bisa melihat engkau. Kemudian dalam akhir Hadist itu
dikatakan Rasulullah saw bersabda (kepada para sahabatnya) : Dia itu Jibril, Ia
datang kepadamu untuk mengajarkan tentang agamamu".
Hal ini seluruhnya termasuk agama, dan agama (dien) itu sendiri berarti khudhu'
(tunduk) dan dzull (merendah) seperti perkataan : "Ku tundukkan dia, maka ia
tunduk" yakni : beribadah kepada Allah dan taat kepada-Nya serta merendahkan diri
kepada-Nya.
Agama meliputi :
a. Islam : berupa syariat Islam (syahadat, shalat, zakat, puasa, haji).
b. Iman : kepercayaan, keyakinan, transendental.
c. Ihsan : kekuatan psikologis dimana ia mengaitkan nilai perilakunya karena Allah.
Maka setiap peribadatan, apakah itu shalat, zakat, puasa akan terasa sia-sia apabila
dilakukan tanpa dibarengi dengan tunduk dan patuh serta merasakan adanya sikap
"ihsan" (seakan-akan melihat Allah, jika tidak mampu melihat-Nya sesungguhnya Ia
melihat kalian). Hal inilah yang selalu menjadi permasalahan pokok dan
mensosialisasi sebagai kebiasaan buruk yang tidak lagi menjadi masalah, padahal
kita bertahun-tahun melakukan peribadatan tidak mendapatkan apa-apa kecuali
capek dan sia-sia. Ihsan adalah kontak batin dan dialogis, responsif. Ihsan adalah
roh setiap peribadatan, dan menentukan diterima tidaknya peribadatan. Sikap ini
pula yang menjadikan ihsan itu rukun agama, yang apabila ditinggalkan salah satu
rukun agama, maka batallah sebagai agama. Permasalahan rukun agama ini telah
dihukumkan dan disyaratkan kepada orang yang sampai baligh. Sebagaimana Hadist
Rasulullah :
"Hukum tidak berlaku bagi tiga golongan; orang yang tidur sampai bangun, anak
kecil sampai mimpi basah, dan orang gila sampai sembuh" (Abu Dawud, Ibnu Majah
dan Annasay, hadist sohih).
Selanjutnya Islam mengajarkan bahwa seorang muslim yang beramal kebajikan,
tetapi tujuannya bukan LIlahi ta'ala tidak mungkin diterima amalnya, sebagaimana
firman Allah surat Az Zumar ayat 2 :
"Kami menurunkan kitab ini kepada engkau dengan sebenarnya, sebab itu
sembahlah Allah seraya mengihklaskan agama bagi-Nya saja" (QS 39:2).
Nash tersebut di atas merupakan kesimpulan dari tujuan etika Islam, yaitu
mengembalikan kepada posisi fitrah manusia, yang dengan kesadaran itu, maka ia
akan menjadi manusia paripurna dan ia akan berakhlaq sebagaimana akhlaq Allah,
dengan kecenderungan berbuat baik tanpa beban dan paksaan.
Untuk itu kecenderungan berbuat baik akan terjadi apabila kita mampu berusaha
membersihkan jiwa. Dan kebersihan jiwa akan didapat apabila kita melaksanakan
peribadatan sesuai dengan kriteria-kriteria pada penjelasan di atas
Argowilis
Onok wong papat podho gak kenale numpak sepur Argowilis jurusan Suroboyo
Bandung.
Sing pertama ibu-ibu umure sekitar 60an. Ketokane termasuk keluarga
ningrat lek ndhelok pacakane.
Sebelahe ibu-ibu iku onok cewek ayu koyok covergirl majalah umure
sekitar 20an.
Ndhik ngarepe ibu-ibu iku mau onok tentara berseragam dinas, lengkap
karotanda jasane. Pokoke berwibawa, umure 50an.
Sebelahe tentara mau onok arek lanang gondrong umure 25an. Ketokane
rocker.
Selama perjalanan, wong papat iku ngobrol macem-macem. Sampek
moro-moro sepure mlebu terowongan athik lampune mati, dhadhi petengan
pol. Wong papat iku malih meneng kabeh.
Gak sui moro-moro onok suoro pipi disun terus mari ngono suorone wong
dikaplok PLAK..!!!. Wis mari ngono sepi maneh.
Sing ibu-ibu iku mau mbatin, ”Wah hebat arek wedhok sebelahku iki,
isok menjaga harga diri, gak gelem diperlakukan sembarangan”.
Sing arek wedhok sebelae yo mbatin pisan, ”Gak salah tah, sing ngesun
mau iku, wong onok arek ayu koyok aku kok malah nenek-nenek tuwek
sing disun”.
Lha sing tentara iku ambek ngusap-ngusap pipine sing kenek kaplok
melok mbatin pisan, ”Jangkrik, gak melok ngesun tapi kenek kaplok. Dikiro
aku pengecut tah, lek aku gelem gak usah ngenteni peteng. Wah tersinggung
aku”.
Arek rocker iku karo ngempet ngguyu melok mbatin pisan, ”Kapan
maneh rek, isok ngaplok kolonel gathik konangan. Padahal sing tak sun
mau iku tanganku dhewe”.
Bandung.
Sing pertama ibu-ibu umure sekitar 60an. Ketokane termasuk keluarga
ningrat lek ndhelok pacakane.
Sebelahe ibu-ibu iku onok cewek ayu koyok covergirl majalah umure
sekitar 20an.
Ndhik ngarepe ibu-ibu iku mau onok tentara berseragam dinas, lengkap
karotanda jasane. Pokoke berwibawa, umure 50an.
Sebelahe tentara mau onok arek lanang gondrong umure 25an. Ketokane
rocker.
Selama perjalanan, wong papat iku ngobrol macem-macem. Sampek
moro-moro sepure mlebu terowongan athik lampune mati, dhadhi petengan
pol. Wong papat iku malih meneng kabeh.
Gak sui moro-moro onok suoro pipi disun terus mari ngono suorone wong
dikaplok PLAK..!!!. Wis mari ngono sepi maneh.
Sing ibu-ibu iku mau mbatin, ”Wah hebat arek wedhok sebelahku iki,
isok menjaga harga diri, gak gelem diperlakukan sembarangan”.
Sing arek wedhok sebelae yo mbatin pisan, ”Gak salah tah, sing ngesun
mau iku, wong onok arek ayu koyok aku kok malah nenek-nenek tuwek
sing disun”.
Lha sing tentara iku ambek ngusap-ngusap pipine sing kenek kaplok
melok mbatin pisan, ”Jangkrik, gak melok ngesun tapi kenek kaplok. Dikiro
aku pengecut tah, lek aku gelem gak usah ngenteni peteng. Wah tersinggung
aku”.
Arek rocker iku karo ngempet ngguyu melok mbatin pisan, ”Kapan
maneh rek, isok ngaplok kolonel gathik konangan. Padahal sing tak sun
mau iku tanganku dhewe”.
Kamis, 12 Februari 2009
Penyucian Jiwa
Saudara-saudaraku, ... sementara ini, saya anggap Saudara semua sudah mengerti
tetang dasar-dasar agama, ... persoalan-persoalan furuiyah (khilafiyah / perbedaan
pendapat) mari kita kesampingkan dulu, ... kita hadapkan hati kita dan wajah kita
kehadirat Allah dengan penuh tawaddhu' dan rasa ihsan. Seandainya kebetulan
saudara adalah seorang yang mahir tentang agama sementara yang lain kurang
dalam hal pengetahuan agama. Bisakah kiranya kita mencontoh sayyidina Bilal bin
Rabah seorang budak berkulit hitam dan sayyidina Salman Alfarisi yang
intelektualnya diacungi jempol oleh Rasulullah. Dimana keduanya sangat mencolok
mata dari segi fisik dan derajat dimata manusia, namun keduanya duduk sama
derajatnya di hadapan Allah tanpa melihat dia sebagai apa. Merekalah contoh orang
yang mendapatkan petunjuk dan rasa iman yang tinggi serta kemakrifatan akan
Tuhannya.
Saya mengingatkan kembali bahwa setiap tulisan saya, adalah bertujuan mengajak
bersama-sama menelusuri kajian "Dzauq" atau kedalaman rasa iman, yang bahkan
Rasulullah menyebutnya sebagai "halawatul iman" (manisnya iman )
Kajian pada bab-bab sebelumnya sudah saya jelaskan secara singkat mengenai
syariat, etika Islam, dan hakikat manusia , dimana didalamnya tercantum persoalan
dasar untuk menelusuri jalan Allah . Kita tinggal menjalaninya dengan perlahan dan
sungguh-sungguh !!!
Yang pertama sekali kita perhatikan adalah sosok " JIWA"
Allah berfirman :
"Demi jiwa dan Dia yang menyempurnakannya dan memperkenalkannya kepadanya
keburukannya dan kebaikannya. Sungguh beruntung orang yang dapat mensucikan
jiwa itu, dan merugilah orang yang mengotorkannya" (QS 91: 7-10).
Ketahuilah bahwa jiwa adalah musuh dengan wajah seorang teman. Kekejaman dan
daya tipunya tidak ada habisnya. Menolak kejahatannya dan menaklukkannya
merupakan tugas yang paling penting, karena jiwa adalah musuh yang paling buruk,
lebih buruk dari setan dan kaum kafir......
Untuk melatih jiwa dan membawanya kembali kepada keadaan yang sejahtera dan
membuatnya meningkat dari sifat menguasai kejahatan menuju tingkat berdamai
dengan Allah merupakan tugas besar. Puncak kebahagiaan manusia terletak pada
penyucian jiwa. Sementara puncak kesengsaraan manusia terletak pada tindakan
membiarkan jiwa mengalir sesuai dengan tabiat alamiah. Itulah sebabnya Allah
befirman : "Sungguh beruntung orang yang membersihkan jiwanya dan sungguh
merugi orang yang mengotorinya ... "
Alasannya karena penyucian jiwa dan latihan jiwa mengakibatkan dikenalnya jiwa,
dan pengenalan jiwa menimbulkan pengetahuan akan Tuhan, sebab barang siapa
yang mengenal jiwanya sendiri akan mengenal Tuhannya.
Pembersihan dari kotoran yang melekat pada jiwa, adalah salah satu fokus kita kali
ini, sehingga kita benar-benar bisa merasakan bagaimana rasanya hati kita menjadi
bening dan nyaman. Jiwa menjadi tenang dan akan mendapat sapaan Allah seperti
dalam ayat-Nya :
"Wahai jiwa yang tenang datanglah kehadirat Tuhanmu dengan keadaan ridho dan
diridhai " (QS 89:27-28).
Jiwa yang seperti inilah yang kita tuju, tentunya dengan niat dan perjuangan yang
sungguh-sungguh.
Membuka Jalur Komunikasi Dengan Allah
Rasulullah pernah berwasiat kepada Sayyidina Muadz bin Jabal tentang bacaan doa
yang didawamkan "Ya Allah , ajarkan aku tentang ingat (dzikir ) kepada Engkau, dan
syukur serta ajarkan kekhusyu'an dalam beribadah kepada-Mu".
Wasiat di atas merupakan pintu untuk membuka jalur komunikasi kepada Allah
dimana ada hal-hal yang manusia tidak mampu mendialogkan kepada orang lain
atau manusia tidak bisa menunjuki jalan yang diinginkan. seperti yang tercantum
dalam do'a Sayyidina Muadz bin Jabal di atas, hanya kepada Allah-lah kita meminta
pertolongan dan petunjuk. (QS 1:5)
Komunikasi adalah melakukan dialog langsung secara lugu dan polos sesuai dengan
keadaan hati kita, tidak perlu bergaya-gaya dihadapan Allah apalagi dilagu-lagukan.
Cukup diam dengan rasa rendah hati (tawadhu'), dan menjaga kesopanan di
hadapan Allah, serta rasakan bahwa Allah sedang berada sangat dekat bahkan lebih
dekat dari urat leher kita. Panggillah Asma-Nya yang baik-baik .... Ya Allah...Ya Allah
... Ya Allah berulang-ulang dengan menghadirkan hati serta kerinduan yang dalam.
Hal tersebut selalu harus terus anda lakukan setiap habis melakukan shalat.
Kemudian kalau ada kesempatan waktu lakukanlah dialog-dialog dimana saja berada
karena Allah ada dimana saja anda berada.
Kalau seandainya tiba-tiba anda menangis ketika berdzikir atau bahkan ketika shalat
... hal tersebut tidak perlu dirisaukan karena Al Qur'an telah menjamin dan akan
membimbing perjalanan kita ... mudah-mudahan anda mendapatkan karunia dari
Allah swt. amin (buka surat Maryam ayat 58).
Didalam tafakkur kita sebaiknya tetap berbekal ilmu syariat , bahwa Allah bukan
laki-laki juga bukan wanita atau tidak bisa dibayangkan dan disamakan dengan
makhluqnya.
Mulailah setiap melakukan dialog dengan didahului membaca :
BismIlahirrahmanirrahim.....
Dua kalimat syahadat
Shalawat kepada Rasulullah
Bisa dilakukan dalam posisi berdiri, duduk, maupun berbaring ..(QS 4:103).
Hubungkan hati kita, perasaan kita, dan coba timbulkan rasa rindu dan cinta kepada
Allah, panggil Asma-Nya berulang-ulang (tanpa menghitung-hitung jumlahnya)
dengan suara hati yang dalam ... lakukan dengan sungguh-sungguh sehingga terasa
ada sambutan yang menyeruak dalam kalbu kita ... rasakan kedamaian dan
keheningan yang sejuk di dada ... sebut terus Ya Allah ...Ya Allah ... Ya Allah ... dan
kuatkan hati kita tetap berpegang kepada tauhid hanya Allah tujuan kita, hunjamkan
sampai kedalam lubuk hati yang dalam ... sehingga akan ada bimbingan di dalam
hati kita untuk selalu ingat Allah ... hati kita akan bergerak terus seakan-akan tidak
mau diajak untuk berhenti ... terkadang ucapan dzikirnya berubah dengan sendirinya
... ya Allah .... ya Allah berganti la ilaha illallah ....dan seterusnya ...
Tubuh akan semakin ringan dan pasrah ... hati menjadi lebih tenang dan terang
benderang ... rasanya sejuk dan nyaman yang akan mengakibatkan hati menjadi
lunak dan mudah terkendali.
Keadaan tubuh kadang terasa semakin berat ... getaran jiwa semakin kuat dan ...
emosi jiwa semakin tidak bisa dibendung, rasanya ingin sekali berteriak sekeraskerasnya
untuk mengungkapkan rasa kerinduan yang dalam kepada Allah ... Saat
itulah kita pasrahkan seluruh jiwa raga kita dengan ikhlash ... sehingga Allah akan
berkehendak membimbing sholat... membimbing ruku' dan membimbing hati kita
untuk bersabar...(lihat surat Az Zumar ayat 22-23)
"Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama
Islam lalu ia mendapat cahaya dari Allah (sama dengan orang yang membatu
hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya
untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata" (QS 39:22-23)
Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur'an yang serupa
mutu ayat-ayatnya lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang
takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit serta hati mereka diwaktu
mengingat Allah, itulah petunjuk
Allah ...
Sebelum saya lanjutkan pada bab-bab berikutnya ... sebaiknya semua pembaca
mengulangi sekali lagi membaca artikel saya tentang bab syariat, bab etika Islam,
dan hakikat manusia ... karena disanalah dasar-dasar hukum yang saya tulis untuk
bekal menuju kehadhirat Allah Swt.
Dan kali ini saya menepati janji saya untuk mengungkapkan praktek dalam
Dzikrullah (pembersihan jiwa). sebab pada intinya "JIWA" lah yang menjadi
penyebab kerusakan manusia ... , dan pada jiwa pula manusia menjadi tinggi
derajadnya disisi Allah ... sedang kebersihan jiwa hanya bisa ditempuh dengan jalan
mengingat Allah (Dzikrullah) secara terus menerus ... serta ... berusaha keras
menghadap untuk berbakti kepada Allah kemudian berpaling dari kemauan syahwat
itulah yang membersihkan dan menjernihkan hati.
Secara luas, Al Qur'an menggambarkan sebagai fokus dari apa yang membuat
seorang manusia menjadi manusiawi, pusat dari kepribadian manusia. Dan karena
manusia terikat erat dengan Allah, pusat ini merupakan tempat dimana mereka
bertemu Tuhan. Pertemuan ini merupakan dimensi kognitif dan juga dimensi moral.
Karena hati merupakan pusat sejati dari seorang manusia. Tuhan menaruh perhatian
khusus padanya dan kurang begitu memperhatikan amalan-amalan aktual yang
dilakukan orang-orang "Tidak ada celanya jika kamu berbuat salah, kecuali jika
hatimu menyengaja" (QS 33:5).
"Tuhan tidak akan menghukummu karena sumpah yang tidak disengaja, akan tetapi
Tuhan akan menghukummu karena sumpah yang disengaja oleh hatimu . Dan Tuhan
maha pengampun lagi maha penyantun" (QS 2:225).
Dan sebuah Hadist menyatakan bahwa "Allah tidak melihat badanmu atau bentukmu
,melainkan kedalam hatimu ".
Karena hati adalah tempat yang dilihat Tuhan, ia merupakan kunci menuju
kemunafikan, watak yang paling buruk dalam pandangan muslim. "Tuhan tahu apa
yang ada dalam hatimu" (QS 33:51).
Hati adalah tempat dimana Tuhan mengungkapkan diri-Nya sendiri kepada manusia .
Kehadiran-Nya terasa didalam hati, dan wahyu diturunkan kedalam hati para Nabi .
"(Jibril ) menurunkan wahyu kedalam hati nurani mu dengan izin Tuhanmu ,
membenarkan wahyu sebelumnya , ........." (QS 2:97)
tetang dasar-dasar agama, ... persoalan-persoalan furuiyah (khilafiyah / perbedaan
pendapat) mari kita kesampingkan dulu, ... kita hadapkan hati kita dan wajah kita
kehadirat Allah dengan penuh tawaddhu' dan rasa ihsan. Seandainya kebetulan
saudara adalah seorang yang mahir tentang agama sementara yang lain kurang
dalam hal pengetahuan agama. Bisakah kiranya kita mencontoh sayyidina Bilal bin
Rabah seorang budak berkulit hitam dan sayyidina Salman Alfarisi yang
intelektualnya diacungi jempol oleh Rasulullah. Dimana keduanya sangat mencolok
mata dari segi fisik dan derajat dimata manusia, namun keduanya duduk sama
derajatnya di hadapan Allah tanpa melihat dia sebagai apa. Merekalah contoh orang
yang mendapatkan petunjuk dan rasa iman yang tinggi serta kemakrifatan akan
Tuhannya.
Saya mengingatkan kembali bahwa setiap tulisan saya, adalah bertujuan mengajak
bersama-sama menelusuri kajian "Dzauq" atau kedalaman rasa iman, yang bahkan
Rasulullah menyebutnya sebagai "halawatul iman" (manisnya iman )
Kajian pada bab-bab sebelumnya sudah saya jelaskan secara singkat mengenai
syariat, etika Islam, dan hakikat manusia , dimana didalamnya tercantum persoalan
dasar untuk menelusuri jalan Allah . Kita tinggal menjalaninya dengan perlahan dan
sungguh-sungguh !!!
Yang pertama sekali kita perhatikan adalah sosok " JIWA"
Allah berfirman :
"Demi jiwa dan Dia yang menyempurnakannya dan memperkenalkannya kepadanya
keburukannya dan kebaikannya. Sungguh beruntung orang yang dapat mensucikan
jiwa itu, dan merugilah orang yang mengotorkannya" (QS 91: 7-10).
Ketahuilah bahwa jiwa adalah musuh dengan wajah seorang teman. Kekejaman dan
daya tipunya tidak ada habisnya. Menolak kejahatannya dan menaklukkannya
merupakan tugas yang paling penting, karena jiwa adalah musuh yang paling buruk,
lebih buruk dari setan dan kaum kafir......
Untuk melatih jiwa dan membawanya kembali kepada keadaan yang sejahtera dan
membuatnya meningkat dari sifat menguasai kejahatan menuju tingkat berdamai
dengan Allah merupakan tugas besar. Puncak kebahagiaan manusia terletak pada
penyucian jiwa. Sementara puncak kesengsaraan manusia terletak pada tindakan
membiarkan jiwa mengalir sesuai dengan tabiat alamiah. Itulah sebabnya Allah
befirman : "Sungguh beruntung orang yang membersihkan jiwanya dan sungguh
merugi orang yang mengotorinya ... "
Alasannya karena penyucian jiwa dan latihan jiwa mengakibatkan dikenalnya jiwa,
dan pengenalan jiwa menimbulkan pengetahuan akan Tuhan, sebab barang siapa
yang mengenal jiwanya sendiri akan mengenal Tuhannya.
Pembersihan dari kotoran yang melekat pada jiwa, adalah salah satu fokus kita kali
ini, sehingga kita benar-benar bisa merasakan bagaimana rasanya hati kita menjadi
bening dan nyaman. Jiwa menjadi tenang dan akan mendapat sapaan Allah seperti
dalam ayat-Nya :
"Wahai jiwa yang tenang datanglah kehadirat Tuhanmu dengan keadaan ridho dan
diridhai " (QS 89:27-28).
Jiwa yang seperti inilah yang kita tuju, tentunya dengan niat dan perjuangan yang
sungguh-sungguh.
Membuka Jalur Komunikasi Dengan Allah
Rasulullah pernah berwasiat kepada Sayyidina Muadz bin Jabal tentang bacaan doa
yang didawamkan "Ya Allah , ajarkan aku tentang ingat (dzikir ) kepada Engkau, dan
syukur serta ajarkan kekhusyu'an dalam beribadah kepada-Mu".
Wasiat di atas merupakan pintu untuk membuka jalur komunikasi kepada Allah
dimana ada hal-hal yang manusia tidak mampu mendialogkan kepada orang lain
atau manusia tidak bisa menunjuki jalan yang diinginkan. seperti yang tercantum
dalam do'a Sayyidina Muadz bin Jabal di atas, hanya kepada Allah-lah kita meminta
pertolongan dan petunjuk. (QS 1:5)
Komunikasi adalah melakukan dialog langsung secara lugu dan polos sesuai dengan
keadaan hati kita, tidak perlu bergaya-gaya dihadapan Allah apalagi dilagu-lagukan.
Cukup diam dengan rasa rendah hati (tawadhu'), dan menjaga kesopanan di
hadapan Allah, serta rasakan bahwa Allah sedang berada sangat dekat bahkan lebih
dekat dari urat leher kita. Panggillah Asma-Nya yang baik-baik .... Ya Allah...Ya Allah
... Ya Allah berulang-ulang dengan menghadirkan hati serta kerinduan yang dalam.
Hal tersebut selalu harus terus anda lakukan setiap habis melakukan shalat.
Kemudian kalau ada kesempatan waktu lakukanlah dialog-dialog dimana saja berada
karena Allah ada dimana saja anda berada.
Kalau seandainya tiba-tiba anda menangis ketika berdzikir atau bahkan ketika shalat
... hal tersebut tidak perlu dirisaukan karena Al Qur'an telah menjamin dan akan
membimbing perjalanan kita ... mudah-mudahan anda mendapatkan karunia dari
Allah swt. amin (buka surat Maryam ayat 58).
Didalam tafakkur kita sebaiknya tetap berbekal ilmu syariat , bahwa Allah bukan
laki-laki juga bukan wanita atau tidak bisa dibayangkan dan disamakan dengan
makhluqnya.
Mulailah setiap melakukan dialog dengan didahului membaca :
BismIlahirrahmanirrahim.....
Dua kalimat syahadat
Shalawat kepada Rasulullah
Bisa dilakukan dalam posisi berdiri, duduk, maupun berbaring ..(QS 4:103).
Hubungkan hati kita, perasaan kita, dan coba timbulkan rasa rindu dan cinta kepada
Allah, panggil Asma-Nya berulang-ulang (tanpa menghitung-hitung jumlahnya)
dengan suara hati yang dalam ... lakukan dengan sungguh-sungguh sehingga terasa
ada sambutan yang menyeruak dalam kalbu kita ... rasakan kedamaian dan
keheningan yang sejuk di dada ... sebut terus Ya Allah ...Ya Allah ... Ya Allah ... dan
kuatkan hati kita tetap berpegang kepada tauhid hanya Allah tujuan kita, hunjamkan
sampai kedalam lubuk hati yang dalam ... sehingga akan ada bimbingan di dalam
hati kita untuk selalu ingat Allah ... hati kita akan bergerak terus seakan-akan tidak
mau diajak untuk berhenti ... terkadang ucapan dzikirnya berubah dengan sendirinya
... ya Allah .... ya Allah berganti la ilaha illallah ....dan seterusnya ...
Tubuh akan semakin ringan dan pasrah ... hati menjadi lebih tenang dan terang
benderang ... rasanya sejuk dan nyaman yang akan mengakibatkan hati menjadi
lunak dan mudah terkendali.
Keadaan tubuh kadang terasa semakin berat ... getaran jiwa semakin kuat dan ...
emosi jiwa semakin tidak bisa dibendung, rasanya ingin sekali berteriak sekeraskerasnya
untuk mengungkapkan rasa kerinduan yang dalam kepada Allah ... Saat
itulah kita pasrahkan seluruh jiwa raga kita dengan ikhlash ... sehingga Allah akan
berkehendak membimbing sholat... membimbing ruku' dan membimbing hati kita
untuk bersabar...(lihat surat Az Zumar ayat 22-23)
"Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama
Islam lalu ia mendapat cahaya dari Allah (sama dengan orang yang membatu
hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya
untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata" (QS 39:22-23)
Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur'an yang serupa
mutu ayat-ayatnya lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang
takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit serta hati mereka diwaktu
mengingat Allah, itulah petunjuk
Allah ...
Sebelum saya lanjutkan pada bab-bab berikutnya ... sebaiknya semua pembaca
mengulangi sekali lagi membaca artikel saya tentang bab syariat, bab etika Islam,
dan hakikat manusia ... karena disanalah dasar-dasar hukum yang saya tulis untuk
bekal menuju kehadhirat Allah Swt.
Dan kali ini saya menepati janji saya untuk mengungkapkan praktek dalam
Dzikrullah (pembersihan jiwa). sebab pada intinya "JIWA" lah yang menjadi
penyebab kerusakan manusia ... , dan pada jiwa pula manusia menjadi tinggi
derajadnya disisi Allah ... sedang kebersihan jiwa hanya bisa ditempuh dengan jalan
mengingat Allah (Dzikrullah) secara terus menerus ... serta ... berusaha keras
menghadap untuk berbakti kepada Allah kemudian berpaling dari kemauan syahwat
itulah yang membersihkan dan menjernihkan hati.
Secara luas, Al Qur'an menggambarkan sebagai fokus dari apa yang membuat
seorang manusia menjadi manusiawi, pusat dari kepribadian manusia. Dan karena
manusia terikat erat dengan Allah, pusat ini merupakan tempat dimana mereka
bertemu Tuhan. Pertemuan ini merupakan dimensi kognitif dan juga dimensi moral.
Karena hati merupakan pusat sejati dari seorang manusia. Tuhan menaruh perhatian
khusus padanya dan kurang begitu memperhatikan amalan-amalan aktual yang
dilakukan orang-orang "Tidak ada celanya jika kamu berbuat salah, kecuali jika
hatimu menyengaja" (QS 33:5).
"Tuhan tidak akan menghukummu karena sumpah yang tidak disengaja, akan tetapi
Tuhan akan menghukummu karena sumpah yang disengaja oleh hatimu . Dan Tuhan
maha pengampun lagi maha penyantun" (QS 2:225).
Dan sebuah Hadist menyatakan bahwa "Allah tidak melihat badanmu atau bentukmu
,melainkan kedalam hatimu ".
Karena hati adalah tempat yang dilihat Tuhan, ia merupakan kunci menuju
kemunafikan, watak yang paling buruk dalam pandangan muslim. "Tuhan tahu apa
yang ada dalam hatimu" (QS 33:51).
Hati adalah tempat dimana Tuhan mengungkapkan diri-Nya sendiri kepada manusia .
Kehadiran-Nya terasa didalam hati, dan wahyu diturunkan kedalam hati para Nabi .
"(Jibril ) menurunkan wahyu kedalam hati nurani mu dengan izin Tuhanmu ,
membenarkan wahyu sebelumnya , ........." (QS 2:97)
Langganan:
Postingan (Atom)