Tampilkan postingan dengan label sinau agomo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sinau agomo. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Maret 2009

Misteri Al-Hallaj

Pada abad ke 9 Masehi, berkembang kehidupan kerohanian Islam dengan jalan
melakukan Zuhud (mengabaikan dunia) untuk mencapai kesempurnaan makrifat dan
tauhid kepada Allah. Gagasan-gagasan para ahli sufi dan syiah pada abad tersebut
telah ditemukan, baik yang berupa berupa syair ataupun pemikiran yang
menunjukkan keanekaragaman kemungkinan dalam kehidupan mistik, seperti
halnya Al Ghazaly, Dzun Nun (859 M), Bayezid Bistami (874 M), dan Al Harith al
Muhasibi (857 M) dan Husein Ibn Mansur Al hallaj (858 M).
Pemikiran dan peranan para tokoh inilah yang perlu kita ketahui sebagai wacana
keilmuan dan sejarah, sekaligus menganalisa konflik pemikiran yang tidak pernah
habis dibahas, karena pihak-pihak yang berbeda pendapat tidak pernah saling
bertemu untuk memberikan klarifikasi dalam satu majelis, kecuali hanya saling
mengecam dan mengkafirkan dengan musabab bibit konflik politik kekuasaan yang
serakah dan licik sejak lama.
Banyak kisah keshalehan serta kata-kata bijak penuh hikmah yang mengisi setiap
referensi kitab-kitab keislaman di Timur maupun di Barat yang berasal dari para
tokoh Sufi ini, baik yang bisa difahami oleh kaum awam sampai pernyataannya yang
banyak mengundang perdebatan yang tidak henti-hentinya sampai sekarang.
Menarik untuk dikaji kembali penyataan yang populer yang di lontarkan oleh Husein
Ibnu Al Hallaj " Akulah kebenaran Yang Tertinggi ". Peristiwa ini merubah pandangan
masyarakat umum terhadap kaum Sufi atau para Zahid yang menjalankan olah
kerohaniannya dengan melakukan dzikir secara rutin, shalat malam dan menjauhkan
diri dari perbuatan maksyiat. Sehingga pada ujungnya berpengaruh terhadap
perkembangan ilmu tafsir yang menjadi mandek.
Terlihat para mufassirin agak ragu-ragu menafsirkan kata-kata hiperbolis kedalam
pengertian proporsi yang sebenarnya, dan sampai kini orang menjadi merasa takut
apabila membicarakan mengenai ilmu hakikat dan makrifat. Mereka mengira ilmu
tasawuf adalah ajaran sesat dan membahayakan. Saya menganggap pandangan
mereka terlalu gegabah dan tidak bijaksana. Pandangan yang mengakibatkan ajaran
Islam menjadi amat dangkal, karena nilai spiritual yang seharusnya diajarkan telah
hilang, yaitu nilai psikologi keihsanan kepada Allah dalam setiap peribadatan, yang
mestinya paling dianggap menentukan dalam kaitan diterima atau ditolaknya
perilaku keagamaan seseorang.
Saya terkesan dengan pandangan Yahya, seorang Sufi yang shaleh menanggapi
pernyataan orang Yang menganggap dirinya Tuhan dengan doa dalam bentuk
dialektis :
Oh Allah , kau telah mengirim Musa dan Harun ke Fir'aun si pemberontak dan
berkata, " berbicaralah baik-baik dengannya" , Oh Allah , inilah kebaikan hati-Mu
terhadap orang yang menganggap dirinya Tuhan; bagaimana pula gerangan
kebaikan hati-Mu terhadap orang menjadi abdimu sepenuh jiwanya ? …Oh Allah, ada
takut kepada-Mu karena aku budak, dan aku berharap pada-Mu karena kaulah Tuan
! …Oh Allah bagaimana pula aku tidak takut padaMu karena Kau Maha Kuasa ? Oh

Allah , bagaimana aku datang kepada-Mu karena aku budak yang memberontak, dan
bagaimana aku tidak datang kepada-Mu karena Kau Penguasa yang pemurah? (
Dimensi Mistik dalam Islam, Annemarie Schimmel hlm,53 )
Sebagai tokoh yang tiada hentinya dibicarakan di dunia mistik Islam maupun
dikalangan yang memusuhinya, Al Husain ibnu Mansur Al Hallaj pada tahun 922 M
dijatuhi hukuman mati oleh para wakil kaum ahli hukum karena ajaran yang
disebarkannya, yang dianggap telah keluar dari aqidah Islam -yang terutamaberasal
dari ucapannya yang terkenal, Ana 'l Haqq ( Akulah kebenaran Tertinggi ).
Pro dan kontra dari jatuhnya hukuman tersebut -sampai sekarang- masih juga
terjadi, namun demikian saya memiliki alasan sendiri mengapa tokoh ini masih
pantas dibahas pada sebuah telaah seperti ini, yaitu kemungkinan a priori bahwa
riwayat hidup dan ajarannya lebih banyak berpengaruh terhadap Islam di Indonesia
dari pada ditempat lain.
Sejak lama, terutama karena penelitian Snouck Hurgronje dan B.O. Schrieke, kita
tahu dengan pasti bahwa para saudagarlah yang berperan dalam ekspansi agama
Islam di Indonesia berasal dari India, khususnya dari daerah Gujarat, dipantai Barat
Laut semenanjung India. Daerah tersebut mempunyai hubungan yang khusus
dengan Al Hallaj, dimana dia sendiri membawa agama Islam kesana dan bahkan
berhasil membawa tiga kasta ke dalam pangkuan agama Islam. Bahwa konteks itu
memang cukup luas jangkauannya terbukti oleh kenyataan, bahwa sebagian dari
kasta-kasta itu sampai sekarang ini masih disebut orang Mansuri, sedangkan makam
Al Hallaj di Bagdad tetap didatangi oleh orang-orang Gujarat. ( Massignon, Hallaj,
halm.85 ,).
Saya kira tidak mungkin mengabaikan riwayat beliau karena banyak memainkan
peranan penting dalam dunia Islam di Indonesia dari pada di tempat lain, terutama
di Jawa dan Aceh. Kita bisa melihat baik tersirat maupun tersurat, dalam ajaran
sinkretisme Jawa terdapat unsur-unsur pantheisme atau manunggaling kawula Gusti,
yang berakar dari ajaran Mistik Islam kejawen dengan latar belakang ajaran Tharikat
Naqsabandiyah yang dianut oleh Pujangga besar Raden Ngabehi Ranggawarsita
dalam kitabnya Serat Wirid Hidayat Jati ataupun ajaran Hindu yang merupakan
sumber paham pantheisme.
Syekh Siti Jenar juga mengalami nasib tragis ketika harus menghadapi hukuman
mati yang dijatuhkan penguasa Demak yang didukung penuh oleh Dewan Agama
yang dipimpin wali Songo, karena dianggap telah membuka tabir rahasia ketuhanan
dalam dirinya, yaitu manuggaling kawula Gusti. Jika Al hallaj tewas dipancung
kepalanya, Syekh Siti Jenar memilih sendiri cara untuk mati ( DR. Abdul Munir
Mulkhan, Ajaran Dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar, hal 51 ).
Bagaimana penilaian dunia Islam terhadap Al hallaj ??
Banyak pendapat umum yang mengatakan Al hallaj mati karena ajaran mistiknya
yang terkenal Ana'l Haqq (Akulah Kebenaran Tertinggi ). Tidak banyak kaum
muslimin yang mengetahui dengan persis apakah sebenarnya yang terjadi terjadi
terhadap kasus yang didakwakan kepadanya. Benarkah Al hallaj penganut faham
ittihad (pantheisme) yang banyak dipengaruhi ajaran Hindu dan mistik katholik, atau
ajaran Zanadika, tentang cinta kasih manusia terhadap Allah sebagai suatu daya
tarik material antara sumber cahaya dan percikan-percikan yang mengalir dari
sumber itu (emanasi).
Di kalangan kaum mistisi sendiri banyak yang berpendapat, bahwa kesalahan Al
Hallaj ialah menyiarkan dimuka umum kebenaran-kebenaran esoteris (merenggut
selubung rahasia). Konon kabarnya As Sibli mengatakan kepada seorang utusan
menjelang eksekusinya, pergilah mencari Al Husein ibnu Mansur dan katakan
kepadanya, "Allah telah memberikan kepadamu jalan untuk mengetahui salah satu
rahasia -Nya , tetapi karena engkau menyiarkan kepada umum, maka kau harus
merasakan pedang" :( Massignon Hallaj, hal.310 ).
Ada yang berpendapat, bahwa ajarannya mengenai manunggalnya Allah dan
manusia tidak dibenarkan, namun dapat dimaafkan sebagai suatu ketidaktelitian
hiperbolis, akibat kekuatan ekstasis (Massignon, hallaj, hlm.352, dikutip dalam buku
Manunggaling kawula Gusti P.J Zoetmulder, Gramedia, Jakarta 1990). Sementara
para sufi moderat tidak memberikan komentar terlalu banyak atas kejadian ini.
Mereka hanya berpendapat bahwa Al Hallaj hanyalah menghayati firman Allah dalam
surat Thaha: 14, innani Ana Allah laailaha illah Ana fa'budni …sesungguhnya Aku ini
adalah Allah , tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan
dirikanlah Shalat untuk mengingat Aku.
Sedangkan Al ghazaly yang juga membahas pengalaman para mistisi menandaskan,
bahwa ekstasis itu bukanlah terleburnya makhluk dalam Allah sebagai kesatuan
dalam identitas (ittihad) juga bukan manunggalnya atau penyatuan antara dua pihak
yang berada pada tingkat "ADA" yang sama, tetapi penyatuan itu hanyalah seolaholah
dan ucapan-ucapan para mistisi yang mengalami kedahsyatan Allah, sehingga
hendaknya kita pandang sebagai hiperbola, kiasan yang melebih-lebihkan, akibat
kemabukan cinta kasih (dalam Ihya' ulumuddin, bagian II kitab adabi s sama'I wa 'l
wajdi , fi atari 's sama'I adabihi)
Saya tidak ingin masuk kedalam kesimpulan terlalu dini, karena banyak sekali ayatayat
Alqur'an yang dijadikan landasan oleh para sufi sebenarnya mengandung
makna hiperbolis; sehingga kalau diungkapkan sekilas, kita akan terjebak kepada
pengertian yang salah. Misalnya pada firman-firman Allah berikut ini: innahu bikulli
syaiin muhithun, Sesungguhnya Dia Maha Meliputi Segala Sesuatu
( Fushilat:54); selanjutnya kullu syai in halikun illa wajhahu, dan tiap-tiap sesuatu
pasti binasa, kecuali wajahnya ( Qasas: 88 ); juga pada ayat : Nahnu akrabu ilaihi
min hablil waridi, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya ( Qaaf:
16 ); falam taqtuluuhum walakin 'l allaha qatalahum wama ramaita idza ramaita
walakin 'l allaha rama, Maka ( yang sebenarnya ) bukan kamu yang membunuh
mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang
melempar, tetapi Allah-lah yang melempar ( Al anfaal : 17 ).
DB Mac Donald menafsirkan ungkapan-ungkapan ini sebagai expression of implicit
pantheism atau in philosophical language immanential monism . Pandangan ini harus
juga ditafsirkan eksplisit, namun bahwa ada peluang bagi suatu penafsiran pantheis,
memang tak dapat disangkal. Perkembangan seterusnya membuktikan, bahwa
peluang itu memang ada. Banyak mufassir takut terjebak kepada makna hiperbolis
atau mutasyabihat, sehingga mereka tidak berani menterjemahkan arti yang
sebenarnya.seperti dalam surat Fushilat:54 Bahwa yang meliputi segala sesuatu
adalah dhomir Hua, yang menunjukkan sosok orang ketiga tunggal yang melakukan
suatu perbuatan. Akan tetapi dengan alasan apa mereka menggantikan arti Hua (
Dia), menjadi sebuah sifat yang meliputi segala sesuatu. Sedangkan kita tahu bahwa
sifat itu ada, karena ada "wujud"(Hua ) tempat bergantungnya (sandaran) sifat.
Inilah yang saya maksudkan bahwa dhomir Hua menunjukkan bukan kepada sifat-
Nya, akan tetapi wujud secara sempurna (bikamalaatihi). Yaitu kesempurnaan
meliputi Dzat, sifat, af'al dan Asma'. Dhommir Hua menunjukkan "Wujud",
sedangkan sifat, af'al dan Asma merupakan diluar Diri-Nya (wujudnya) tetapi
bergantung kepada Diri-Nya, karena adanya disebabkan oleh Dzat (sosok). Beberapa
Mufassir menterjemahkan :"kekuasaan-Nya lah meliputi segala sesuatu", ada juga
yang menterjemahkan : "ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu" dan banyak lagi
terjemahan / tafsiran pada sekitar sifat-sifat-Nya. Hanya ulama' yang memiliki ilmu
makrifat kepada Allah yang berani terang-terangan menterjemahkan : "DIA (Dzat)
Meliputi Segala Sesuatu", sehingga kata DIA tidak ditafsirkan kedalam makna atau
digantikan dengan bentuk yang lainnya. Saya berprasangka, kemungkinan besar
para Mufassir ragu-ragu menterjemahkan kalimat hiperbolis, karena dikhawatirkan
memasuki wilayah konflik politik yang sedang marak masa itu, yaitu adanya perintah
penguasa melarang pandangan Wihdatul Wujud yang di gagas oleh Al Hallaj.
Ali Ash shabuni menafsirkan, innahu bikulli syai in muhith; Sesungguhnya Allah
Ta'ala Meliputi Segala Sesuatu dengan pengetahuannya (ilmu-Nya), baik secara
global maupun tafshila ( mendetail ) : tafsir Shafwatut tafaasir: Juz III hlm. 129.
Lebih tegas lagi Syekh Nawawi memberikan keterangan dalam tafsir Al munir, Allah
merupakan Subjek Yang Meliputi Segala Sesuatu, Dia sebagai fail (subjek) Al 'alimu
yang mengetahui semua ma'lumat yang tidak ada batasnya. Dia Mengetahui yang
dhahir dan yang tersembunyi dalam diri orang-orang kafir. Sedangkan penafsiran
beliau mengenai wanahnu aqrabu ilaihi min hablil waridi ( Qaaf: 16). Fa ka anna
dzatuhu ta'ala qaribatun minhu ..yaitu seolah Dzat itu sendiri yang lebih dekat dari
urat leher.( hal 243 Juz III , tafsir shafwatut tafaasir, Ali as shabuni). Didalam tafsier
Munir karangan Syekh Nawawi dijabarkan fallahu ta'ala aqrabu ilal insaani min
'uruqihi almukhalithi lahu, Allah lebih dekat terhadap Manusia daripada keringatnya
yang bercampur baginya. ( hal 319).
Kemudian, baik syekh Nawawi maupun Ali Ash shabuni menafsirkan kullu syaiin
halikun illa wajhahu, sebagai Segala sesuatu pada hakikatnya adalah fana (binasa)
kecuali Dzat-Nya Yang Kekal dan Quddus. Dari pendapat tersebut diatas, dapat kita
simpulkan bahwa kita tidak bisa memungkiri adanya konsep-konsep qurani yang
menjadi sumber timbulnya atau menjurus kedalam paham
penyatuan atau pantheisme.Memang masih bisa diperdebatkan dari mana pengaruhpengaruh
yang membuat doktrin tersebut muncul. Menurut Massignon (massignon,
Essai, hlm 84) perkembangan tersebut ada akarnya dalam Alqur'an sendiri,
sedangkan menurut sementara ahli lainnya, perkembangan tadi disebabkan karena
kontak dengan aliran-aliran mistik kristen di Suria serta Neoplatonisme, atau
pengaruh dari Syi'ah dengan ajarannya mengenai inkarnasi Zat keallahan dalam diri
Ali dan para pengikutnya (menurut DB Mac Donald, Development of Mouslem
Theology, Jurisprudence and constitional theory, hal 182), atau karena pengaruh dari
India, (menurut M Horten, dalam indische stromungen in der inslamischen Mystik,
Heidelberg 1928) , tulisan ini dikutip dalam buku pantheisme dan monisme dalam
sastra suluk Jawa hlm 21. PJ, Zoetmulder,Gramedia , Jakarta 1990).
Dalam ajaran Tasawuf, para sufi mendahulukan pemahaman kerohaniannya melalui
tahapan (martabat) untuk mencari Tuhannya, yang biasa dikenal dengan ajaran
martabat tujuh. Diharapkan ajaran ini bisa membantu memberikan petunjuk bagi
kita untuk meluruskan pemahaman tauhid dan menguak tabir rahasia para sufi
dalam menyelami ekstasis, yang terkadang menimbulkan polemik dan absurditas,
yaitu menempatkan Allah sebagai wujud yang tak tergambarkan ( asy syura: 11)
dan tidak ada individuasi maupun presepsi. Prinsip ini didasari ayat yang
menyatakan Segala sesuatu akan binasa kecuali wajah-Nya ( Al qashash: 88 ).
Didalam penghayatan mistisnya, para sufi menafikan segala sesuatu termasuk
dirinya sendiri; sehingga muncul kesadaran "Yang wajib ada adalah Yang Mutlak",
laa maujuda illallah. Sebenarnya hal ini merupakan prinsip monotheisme, yang
dibawa oleh Rasulullah saw dalam misinya, yaitu menafikan segala bentuk tuhantuhan
selain Allah, " laa ilaha illallah" ….. pada hakikatnya segala sesuatu akan
binasa (fana) kecuali wajah-Nya yang tetap abadi (baqa) , kullu man alaiha faanin,
wayabqaa wajhu rabbika dzul jalaalil wal ikraam ( Ar rahman: 26-27).
Selanjutnya kita akan mencoba menelusuri ajaran Al hallaj dengan CARA tidak serta
merta menerima atau menolaknya; karena kita membutuhkan pemahaman yang
jernih akan hal ini. Sekilas memang ayat-ayat tersebut diatas banyak mengarah
kepada pemahaman pantheisme sebagaimana ajaran Hindu dan Katholik oleh karena
itu saya akan mencoba memaparkan ajaran-ajaran mengenai penyatuan diri dengan
Tuhan agar memiliki garis yang tegas sesuai misi Rasulullah dalam meluruskan
tauhid kepada Dzat Yang Mutlak. Bedanya sangat tipis sekali antara pemahaman
pantheisme yang berasal dari ajaran Hindu dan kristen dengan monotheisme yang
berasal dari Alqur'an.
Di dalam Al qur'an telah di ungkapkan bagaimana kaum musyrik melontarkan alasan
yang dijadikan prinsip, bahwa berhala-berhala bukanlah Tuhan yang sebenarnya
sebagai sesembahan, melainkan hanya sebagai perantara (washilah) untuk menuju
Yang Maha Mutlak.
Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik ). dan orangorang
yang mengambil pelindung selain Allah (berkata) : "Kami tidak menyembah
mereka (berhala) melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah
dengan sedekat-dekatnya". ( QS. Az zumar : 3 )
Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka : " Siapakah yang menciptakan
langit dan bumi ?" , niscaya mereka menjawab; " Allah". Katakanlah : " Maka
terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak
mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhala itu dapat
menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat
kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya ? …..( QS. Az zumar: 38 )
Berhadapan dengan berbagai macam pendapat tadi, mari kita kaji uraian sekitar
ajaran Al hallaj yang telah dipaparkan oleh Massignon dalam kajian Al Hallaj , hlm
352. dalam buku Manunggaling Kawula Gusti , PJ. Zoetmulder , hlm 38,39 )
Al Hallaj mencari kesatuan dengan Allah bagi dirinya sendiri, sehingga kata-kata
yang diwariskan -spontan- berasal dari perasaan pribadinya. Al Hallaj ingin
menerangkan apa yang dialami dalam lubuk hatinya dengan meneruskan keterangan
itu kepada orang-orang lain, sehingga dalam kajian terhadap ajaran Al Hallaj
hendaknya kita juga mencari keterangan mengenai ucapan-ucapan emosionalnya,
yang kalau dipandang dari luar konteksnya, mudah dianggap sebagai ucapan-ucapan
pantheistis. Di sini pertama-tama saya teringat akan ucapan-ucapannya mengenai
Allah, dengan mempergunakan kata ganti pertama, seperti konon kabarnya
diucapkannya dalam malam terakhir sebelum ia menjalani hukumannya.
"Adapun Engkau membagikan kepada saksi ini (Al Hallaj sendiri) kepribadian-Mu
sendiri dan kodrat ilahiMu. Bagaimana ini dapat terjadi karena Engkaulah (yang
memegang peranan dari kodratku sendiri untuk menampakkan Diri-Mu di tengahtengah
manusia, pada tahap-tahap terakhir keadaanku- bila Engkau telah datang
kedalamnya untuk menampakkan kodratku ( Engkau, Ya Tuhan ) lewat kodratKu ) (
mulai kalimat ini Al hallaj berbicara atas nama Tuhan dan mempergunakan kata
ganti pertama guna mengungkapkan penyatuan mesra dengan Tuhan. Saya
berusaha menyatakan peralihan itu dengan menulis awal kata positif dengan hurufhuruf
besar: catatan dari Massignon ) Serta mempermaklumkan kenyataan ilmuKu
dan mukjizatKu- sambil mengangkat DiriKu, dalam kenaikanKu, sampai tahta-tahta
kelanggenganKu, sambil memelihara DiriKu dalam ciptaan-ciptaanKu: Bagaimana
bisa terjadi bahwa aku sekarang ditahan, dimasukkan kedalam penjara , diserahkan
kepada maut, ditempatkan diatas kayu salib, dibakar, lalu debuku diserahkan
kepada ombak-ombak ( Massignon, 297,298 )
Dalam membicarakan Al Hallaj, penting untuk dibahas sosok Beyazid Al Bustami,
seorang tokoh terkenal, yang banyak menghiasi khasanah keilmuan mengenai mistik
dari pengalaman bathinnya sendiri, yang sesuai dengan citra pengalaman Mi'rajnya
Rasulullah. Ungkapan-ungkapannya penuh dengan makna, bahwa alam-alam yang
dilaluinya merupakan bentuk citra yang hina dan fana termasuk dirinya. Kemenakan
Beyazid, yang mencatat sejumlah besar ungkapan-ungkapannya, pernah bertanya
tentang pengingkaran terhadap dunia (zuhud) dan sang paman menjawab:
"Pengingkaran ( Zuhud) itu tak ada nilainya. Tiga hari lamanya aku dalam
pengingkaran, dan pada hari keempat selesailah sudah. Hari pertama kuingkari
dunia ini, hari kedua kuingkari akhirat, hari ketiga kuingkari segalanya kecuali
Tuhan, ketika hari keempat tiba, tak ada lagi yang tersisa bagiku kecuali Tuhan. Aku
telah mencapai damba yang menyakitkan . kemudian ada suara menyeruku : O, Abu
Dzun-Nun, kau tak cukup kuat untuk bertahan bersama-Ku sendiri. Kujawab : itulah
memang yang hamba inginkan. Kemudian suara itu berkata : kau telah
menemukannya, kau telah menemukannya !!"
Beyazid menyadari dan pada akhirnya menemukan, bahwa Tuhan mengingatnya
sebelum ia mengingat Tuhan, bahwa Tuhanpun mengenalnya sebelum ia mengenal
Tuhan, dan bahwa cinta Tuhan mendahului cinta manusia terhadap-Nya. Kemudian
Beyazid mengungkapkan pencapaiannya dengan kebanggaan seseorang yang sudah
mencapai tujuannya :
"Ia segera bangkit dan menaruhku di hadapan-Nya dan kata-Nya kepadaku : "O
Beyazid, makhluk-makhlukku sangat ingin memandangmu, dan aku pun berkata:
Hiasi hamba dengan kesatuan-Mu dan dandani hamba dengan ke- AKU-an Mu dan
angkatlah hamba ke Keesaan-Mu sehingga, kalau makhluk-makhluk-Mu
memandangku, mereka akan berkata: Kami telah menyaksikan-Mu, dan Kaulah itu
dan hamba tidak lagi berada di hadapan mereka itu."
Beyazid, dalam keadaan ekstase (fana ) berkata : "Subhani, Subhani - Maha suci
Aku, Maha suci Aku, Maha Suci Aku." Ungkapan-ungkapan ini telah menjadi teka-teki
bagi kaum mistik pada zaman kemudian dan telah sering menjadi inspirasi bagi
penyair mistik dalam menggambarkan kesempurnaan perjalanan kerohanian
seseorang, disamping banyak sekali orang yang mengecam dan mengkafirkan
Beyazid. Sebagian kalangan sufi moderat, yaitu Sarraj mengganggap perkataan
Beyazid seolah-olah membaca sabda dalam Qur'an "Sesungguhnya Aku ini adalah
Allah, tidak ada Tuhan selain AKU, Innani Ana 'Allah, laailaha illa Ana (QS.
Taha:14)."
Beyazid mencapai keadaan ini melalui 'negationis' yang gigih, dengan
menghilangkan kesadaran dirinya sendiri, sampai ia mencapai - walaupun hanya
sesaat-, keadaan penyatuan mutlak yaitu ketika pecinta, kekasih, dan cinta menjadi
satu. Kenyataan yang dialami Beyazid di kritik oleh Mansur Al Hallaj yang berkata,
bahwa Abu Yazid yang merana itu baru sampai diambang ilahi saja, karena ia tidak
mampu melepaskan dirinya dari ketiadaan.
Para sarjana Barat banyak yang tertarik dengan ajaran Al hallaj karena dianggap
bisa mewakili kelangsungan kebenaran ajaran kristus didalam penyatuan dengan
Allah atau pantheisme. Seorang sarjana ahli teologi protestan dari Jerman bernama
F.A.D. Tholuck menyebut Al hallaj adalah sufi yang paling terkenal karena
ketenarannya dan nasibnya, yang menguak cadar di depan umum dengan
keberaniannya yang luar biasa. Kutipan Tholuck pada waktu itu dieja dan ditafsirkan
keliru sehingga citra Hallaj sungguh menjadi rusak pada zaman-zaman berikutnya. (
Friedrich August Deofidus Tholuck, Sufismus sive theosophia persarum pantheistica ,
Berlin, 1972 hlm 68. dalam buku dimensi mistik dalam Islam, annemarie schimmel
hlm 64 ) Tholuck menganggap Al Hallaj seorang pantheis, hal itu menjadi pandangan
para sarjana abad ke 19. Mereka telah menemukan beberapa naskah dalam kitabkitab
yang ditulis oleh Al Hallaj yang menunjukkan arah kepada pantheisme.
Pandangan lain adalah ada yang menganggap Al Hallaj sebagai seorang Kristen
rahasia. Pandangan terakhir itu muncul pada akhir abad ke 19, diajukan August
Muller dan tetap di ikuti oleh beberapa sarjana. Para orietalis lain, berdasarkan
sumber-sumber yang ada , cenderung menyebutnya seorang 'monism' murni. Alfred
von Kremer berusaha mencari sumber Hallaj yang terkenal Anal Haqq dalam
sumber-sumber India, dan Max Horten membandingkan pernyataan mistik itu
dengan aham brahmasmi dalam upanishad , dan beberapa sarjana lain
menyetujuinya.
Reynold A Nicholson mempunyai pandangan, bahwa Mansur Al Hallaj menekankan
monotheisme keras dan hubungan yang sangat pribadi antara manusia dan Tuhan
dalam pemikirannya, sedangkan Adam Mez melihat kemungkinan adanya hubungan
antara sufi agung itu dengan teologi Kristen.
Louis Massignon telah berhasil mengumpulkan data-data tentang Al Hallaj dari
lingkungan tempat dia berasal dan pengaruh-pengaruh atas Hallaj telah dijelajahi,
sehingga kehidupan dan ajarannya bisa diketahui lebih lengkap dan dimengerti lebih
baik di Barat. Massignon telah banyak belajar dari sebuah kitab yang terkenal "At
Tawasin", yang isinya sulit dipahami, karena sebenarnya banyak paradoks yang
tersimpan didalamnya, kecuali oleh orang yang memiliki kecerdasan kerohanian
yang tinggi. Ajaran yang ditulis dalam buku tersebut berbentuk sajak,
mengungkapkan keagungan Tuhan dan imanensi-Nya dalam hati manusia. Rahasia
penyatuan cinta dipuja dalam sajak-sajak yang bebas dari segala lambang cinta
'profane'. Massignon menyelidiki dunia rohani Al Hallaj secara terus-menerus,
menambahkan hal-hal kecil dalam catatannya, dan kemudian diterbitkan sebagai
sebuah biografi monumental syuhada mistik tersebut pada tahun 1922; seribu tahun
setelah hukuman mati terhadap Al hallaj. Nyatanya, Hallaj seperti yang dikatakan
Hans Heinrich Schaender dalam resensinya atas buku Massignon, adalah syuhada
Islam par exelence karena ia merupakan contoh kemungkinan-kemungkinan
terdalam dari keshalehan pribadi yang ada dalam agama Islam. Ia menunjukkan
akibat cinta sempurna dan makna mendapatkan kesucian pribadi macam apapun,
akan tetapi agar bisa mengabarkan rahasia ini, harus hidup di dalamnya dan mati
untuknya. Seperti pengorbanan Yesus Kristus dalam penebusan dosa ummatnya.
Siapakah orang ini sebenarnya, yang telah menjadi bahan kebencian dan cinta,
contoh penderitaan, raja bid'ah dalam tulisan-tulisan ortodoks (salafi), tokoh idaman
para sufi yang terpesona ??
Fana bukan Pantheisme
Kesimpulan yang diungkapkan oleh para sarjana Barat (Orientalis), bahwa ajaran Al
hallaj adalah phanteisme, masih mengundang pertanyaan yang belum tuntas. Para
peneliti itu memaparkan ajaran Al hallaj melalui data-data dalam prosa, bukan
melalui perjalanan ekstasisnya, dan kemudian membandingkan dengan ajaran
trinitas dalam Kristen atau dalam kesatuan aham brahmasmi dalam upanishad. Saya
menganggap kesimpulan ini hanyalah merupakan cara mereka untuk meminjam
peristiwa yang terjadi agar sama persis dengan eksekusi yang dilakukan terhadap
Yesus Kristus. Hal ini terlihat sekali dalam uraian Louis Massignon sendiri, yang
masih banyak melibatkan emosi kepercayaannya (doktrin keimanan) sebagai orang
kristen, dan bukan sebagai peneliti murni, sehingga kesimpulannya sangat
mempengaruhi hasil penelitiannya.
Ungkapan-ungkapan Al Hallaj dalam prosa tidak bisa disimpulkan dalam bahasa
formal, karena ungkapan itu merupakan pengalaman 'transcendental'. Sebagaimana
ayat-ayat Al- Qur'an sering menggunakan kalimat mutasyabihat untuk
mengungkapkan kedalaman makna hakikat, ketika bahasa manusia tidak lagi
mampu mengungkap rahasia. Didalam kitab At Tawasin termuat anekdot sufi yang
pada akhirnya menghebohkan dunia, yaitu pernyataan Al Hallaj yang kontroversial.
Ketika ia mengetuk pintu Junayd, sang Guru bertanya : Siapakah itu ? dan ia
menjawab : Ana 'l Haqq - Akulah kebenaran Mutlak (kreatif), Akulah kenyataan Yang
benar.
Pada bab itu Al Hallaj menjelaskan mengenai kesadaran Aku Yang Mutlak
dibandingkan dengan kesadaran yang diucapkan Fir'aun dan Iblis. Menurut Al-
Qur'an, Fir'aun menegaskan, Akulah Tuhanmu Yang Paling Tinggi (Surat An Naziat:
24), dan Iblis berkata, " Aku lebih baik daripada Adam (Surat Al A'raaf: 12).
Kemudian Al Hallaj menegaskan pernyataannya, Akulah Kebenaran Mutlak".
Pada bagian ini para sufi merenungkan mengenai ke-Aku-an dirinya, tatkala ia
menafikan segala sesuatu, yang wajib ada ialah AKU, ketika merenungkan ayat kullu
syaiin halikun illa wajhahu, segala sesuatu pada hakikatnya tidak ada (binasa)
kecuali wujud-Nya yang kekal. Para mistisi merenungkan dalam-dalam perkara
adanya dua Aku yang berbeda, yakni Aku Fir'aun dan Aku ahli mistik yang
bercinta. Kesimpulannya diberikan dalam wahyu ilahi bahwa, Fir'aun hanya melihat
dirinya sendiri dan kehilangan AKU, sedangkan Husain hanya melihat AKU sehingga
kehilangan dirinya sendiri. Aku penguasa Mesir itu ( Fir'aun) merupakan pernyataan
kekafiran, sedangkan Aku Hallaj mengungkapkan keagungan Tuhan. inilah alasan Al
Hallaj mengapa ia berkata Akulah kebenaran.
Apapun alasan pernyataan Ana'l Haqq itu, Junayd -salah seorang guru Al Hallajtelah
menyatakan sikapnya terhadap bekas pengikutnya tersebut, dengan menuduh
telah menyebarluaskan pernyataan religius yang berbahaya.
Disisi lain, Al Hallaj mempunyai pandangan lain dari pernyataan Beyazid yang juga
menyatakan AKU pada kalimat "Maha Suci Aku" (Subhani), dan menganggap
Beyazid sebagai orang yang menipu, karena dia baru berada diambang ilahiyah saja
. Beyazid tidak layak mengucapkan kalimat suci tersebut, karena ia masih ada dan
merasakan keadaan mabok mistik (syakr), ia belum lenyap (fana). Hal inipun
diakuinya sendiri oleh Beyazid : Demi sadarlah aku dan tahulah aku bahwasanya
sama sekali itu hanyalah tipuan hayalan belaka.
Berkaitan dengan hal tersebut, dalam Mathnawi, Rumi mengisahkan legenda tentang
pengikut-pengikut Beyazid yang memberontak gurunya ketika si guru itu berkata :
Dibalik jubahku ini tak ada apapun selain Allah !!
Terlebih dahulu marilah kita mencoba untuk memahami maksud ketiadaan (fana),
sehingga memahami mengapa Al Hallaj begitu yakin, bahwa Beyazid belum sampai
kepada taraf tertinggi.
Seorang sufi besar Abu Bakar al Kharraz ( 899 M ) dikenal di Barat lewat karyanya "
kitab As-Sidq" - kitab kebenaran, yang diterjemahkan oleh Arberry. (Abu Bakr al
Kharraz, kitab as sidq, the book of Truthfulness, diedit dan diterjemahkan oleh A.J .
Arberry (Oxford, 1937) mengungkapkan bahwa hanya Allah yang berhak berkata "
AKU", sebab siapapun yang mengatakan " Aku" tak akan bisa mencapai taraf
makrifat. Itulah sebabnya iblis dihukum, karena berkata ' Aku lebih baik dari Adam ".
Lebih jauh Kharraz menunjukkan bahwa " Aku" ilahy ini secara ontologis terkait
dengan Nama Ilahi Al Haqq; "Kenyataan" inilah tampaknya yang menjadi inti
ungkapan terkenal Hallaj Ana 'l Haqq.
Apakah Al Hallaj benar-benar mengungkapkan Ana 'l Haqq pada saat keadaan
ekstase (syathathat) atau hanya merupakan pengajaran di dalam Majelis, sebab
dalam kritiknya terhadap Beyazid, beliau mengatakan "Kasihan Beyazid, ia merana
karena ia tidak mampu meninggalkan dirinya (fana), ia baru sampai di ambang ilahi.
Orang yang fana dirinya tidak akan berkata " AKU" sebab ia telah tiada."
Didalam kitab yang berjudul Raitullah "Aku melihat Allah" karya ulama sufi yang
terkenal Syekh An nafiri, diungkapkan mengenai Bab " AKU" :
"Tidak akan diucapkan kalimat AKU, kecuali bagi orang yang berkawan dengan
kealpaan dan oleh setiap orang terhijab oleh hakikat."
"Engkau berani mengatakan AKU, sedangkan engkau masih terhijab dari pada-KU,
gemerlap duniawi masih mengusik nafsumu, masing-masing akan menyambar
dirimu dengan seruan zat dirinya, engkau masih saja dalam kegaiban yang kelam
dari pada-Ku. Maka apabila engkau telah melihat " Aku" dan Aku - pun telah
menampakkan diri dihadapanmu, tetaplah keteguhanmu, maka tiada Aku lagi
melainkan AKU." (diri manusia akan hancur atau binasa, sebagaimana peristiwa
yang terjadi kepada Nabi Musa surah Al A'raaf: 143 ).
"Telah Kuciptakan (kuadakan) untukmu dan untuk sesuatu menjadi tujuan, antara
lain tujuan itu ialah, cintamu kepada dirimu sendiri, itulah tetesan waham (kalimat)
yang engkau warisi, kata-kata mu " Aku" adalah egomu sendiri (Aku terlepas
anggapan dari yang demikian) dan tidak lain zat itu melainkan kepunyaan-Ku, dan
tidak lain Aku itu kecuali untuk-Ku, bukanlah zat dan bukan pula persoalan, hanya
sesungguhnya engkau berada pada pembagian yang bersifat prasangka, hal ini
disebabkan karena caramu sendiri berfikir dan pencapaianmu pada pendakian jiwa
dan persoalan."
Pandangan diatas bisa dibandingkan dengan pernyataan Syekh Siti Jennar -seorang
tokoh mistik di pulau Jawa-, yang telah menyimpulkan bahwa Tuhan itu adalah
dirinya sendiri karena dimana saja ia pergi disitu ada Aku, dan ia sadar Akunya
selalu ada dan abadi. Konon beliau banyak terpengaruh ajaran Al Hallaj :
Syekh Siti Jennar berkata : "Kelilingilah cakrawala dunia, membumbunglah engkau
ke langit yang tinggi, dan selamilah dalamnya bumi hingga lapis ke tujuh, engkau
tidak akan bisa menemukan Wujud Yang Mulia. Kemana saja engkau pergi, engkau
hanya akan menemukan kesunyian dan kesenyapan. Jika engkau ke utara,
keselatan, kebarat, ketimur dan ketengah, yang ada di semua tempat itu hanya
disini adanya. Apa yang ada disini bukan wujud saya, yang ada didalam diriku ini
adalah kehampaan yang sunyi. Isi dalam daging tubuh ini adalah isi perut yang
kotor, bukan jantung dan bukan pula otak yang terpisah dari tubuh, tetapi nafas
yang melaju pesat bagaikan anak panah terlepas dari busurnyalah yang bisa
mejelajah ke Mekkah dan Madinah."
Menurut Siti Jennar selanjutnya, "Dirinya bukanlah budi, bukan angan-angan hati,
bukan pula fikiran yang sadar, niat, udara, angin, panas, atau kekosongan dan
kehampaan. Wujud dirinya hanyalah jasad yang akhirnya menjadi jenazah, yang
membusuk bercampur tanah dan debu. Nafasnyalah yang mengililingi dunia,
meresap dalam tanah, api, air dan udara yang akhirnya kembali ketempat asal dan
aslinya. Hal itu disebabkan karena semuanya merupakan barang baru dan bukan
yang asli. Hakikat dirinya dipandangnya sebagai dzat yang sejiwa dan menyuksma di
dalam Hyang Widi."
Bagi Siti Jennar, Tuhannya adalah Tuhan yang bersifat Jalal dan Jamal yaitu Maha
Mulia dan Maha Indah. Siti Jennar tidak mau mengerjakan shalat karena
kehendaknya sendiri, karena itu ia juga tidak memerintahkan siapapun untuk shalat,
baginya orang shalat karena budhinya sendiri yang memerintahkan shalat. Namun
budi itu juga bisa menjadi budi yang laknat dan mencelakakan, yang tidak dapat
dipercaya dan diturut, karena perintahnya berubah-ubah. Perkataannya tidak dapat
dipegang, tidak jujur, yang jika dituruti lalu berubah dan kadang mengajak mencuri.
Inilah yang katakan oleh Al Junayd dan Syekh An Nafiri, bahwa baik Beyazid, Siti
Jennar ataupun Al Hallaj (??), telah terhijab oleh dirinya. Tatkala mereka mencari
Tuhan di mana, ternyata hanya dirinya yang ada; ketika ia melambung jauh
keangkasa ghaib, tetap dirinya yang ada, di sana ada, di sini ada , di atas ada, di
bawah ada, di selatan ada, di utara ada, di barat ada, di timur ada, di mana-mana
ada. Yang ada tetap yang langgeng dan kesunyian dan kehampaan. Aku dirinya
merasakan ada di mana-mana (inilah yang dimaksud oleh Al Hallaj ambang ilahi)
bukan fana. Keadaan inilah yang dianggap bersatu (ittihad) atau manunggaling
kawula Gusti. Antara diri dan Tuhan tidak bisa dibedakan; hal ini dalam ajaran
vedanta disebut tat twam asi .
Untuk lebih jelasnya kita simak pendapat Al Junayd, mengenai pernyataan "Aku"
yang diungkapkannya. Mengapa beliau menyalahkan bekas muridnya; karena beliau
tahu bahwa Al Hallaj belum mampu melepaskan ego dirinya, karena itulah ia
terhukum sebagaimana iblis dihukum Tuhan, ia tidak layak menyingkap selubung
rahasia Tuhan, karena yang berhak mengungkapkan Aku adalah AKU itu sendiri,
bukan ego kita dimana kesadaran dirinya masih ada. Sebab jika instrumen dirinya
itu masih ada, maka ia tidak akan pernah bisa menggambarkan Tuhan seperti apa,
ia akan mengungkapkan Tuhan seperti apa yang dirasakan oleh dirinya, bukan
keadaan Tuhan yang sebenarnya Sebagaimana Musa membiarkan dirinya hancur
(fana) bersama Bukit Thursina, dan pada saat itu Allah menampakkan Dirinya,
bahwa AKU tidak bisa dilihat dengan matamu dan oleh dugaan egomu (tidak bisa
digambarkan oleh presepsi pikiranmu, hatimu, perasaanmu, dan jiwamu sendiri;
dalam Alqur'an Musa digambarkan pingsan ) AKU mengenali diri-Nya secara
sempurna. Inilah yang membedakan dengan phanteisme Hindu dan kristen, yang
menganggap Tuhan telah beremanasi kepada Sri Kresna ataupun Yesus Kristus.
Al Junayd memaparkan pandangannya mengenai tasawuf yang sebenarnya, sebagai
berikut :
"Tasawuf merupakan penyucian dan perjuangan kejiwaan yang tidak ada habishabisnya.
Kita tidak melaksanakan tasawuf dengan obrolan dan kata-kata, tetapi
dari kelaparan dan penolakan terhadap dunia dan memutuskan hubungan dengan
hal-hal yang sudah menjadi kebiasaan kita dan segala yang sudah kita anggap
sesuai dengan diri kita. Baginya kehidupan mistik berarti usaha abadi untuk kembali
ke asal-usulnya, yang bersumber pada Allah awal mula segala sesuatu, sehingga
akhirnya si ahli mistik bisa mencapai suatu keadaan di mana ia berada sebelum ada,
yakni suatu keadaan, ketika Tuhan sendirian dan yang diciptakan-Nya dalam waktu
belum lagi ada. Hanya ada pada saat itulah ia bersaksi bahwa Tuhan adalah Esa dari
keabadian ke keabadian."
Dari data-data yang telah kita peroleh bisa disimpulkan bahwa fana (monotheisme)
dan manunggal ( pantheisme ) sangatlah berbeda .
Pantheisme adalah seperti yang diungkapkan oleh Harun Hadiwiyono sebagai
berikut:
Bagian terdalam dari manusia yaitu atma, sejajar dengan atman di dalam agama
Hindu. Atma dipandang identik dengan Allah sebagai Zat Mutlak. Kesamaan
sedemikian rupa hingga Allah melihat, mendengar dan sebagainya, hanya dengan
perantara manusia. Dapat dikatakan bahwa manusia adalah Allah yang menjadi
daging. Menurut ungkapan jawa; manusia seperti katak berselimutkan liangnya
(kodok kinemulan ing lenge) Allah berada di dalam manusia, karena manusia pada
hakikatnya adalah Allah sendiri :
Sedangkan Fana (monotheisme ) adalah seperti ungkapan Al Junayd :
Menyadari bahwa dirinya pada awalnya tiada (fana), kullu syain halikun illa wajhahu
(Al Qashash, 28 : 88 ), Segala sesuatu binasa kecuali wujud Allah yang abadi. Kullu
man alaiha fanin, wayabqa wajhu dzul jalali wal ikram ( Ar rahman, 55 : 26-27)
Kehidupan mistik berarti usaha abadi untuk kembali keasal usulnya, yang bersumber
pada Allah awal mula segala sesuatu, sehingga akhirnya si ahli mistik bisa mencapai
suatu keadaan di mana ia berada sebelum ada, yakni suatu keadaan ketika Tuhan
sendirian dan yang diciptakan-Nya dalam waktu belum lagi ada. Hanya ada pada
saat itulah ia bersaksi bahwa Tuhan adalah Esa dari keabadian ke keabadian. La
syaiun illallah, laailaha ilallaha. Inilah martabat yang tersembunyi (kesenyapan),
karena keadaan belum ada apa-apa, belum mengenal individuasi, namanya Zat
Mutlak, Hakikat ketuhanan. Tak seorangpun dapat meraihnya, nabi-nabipun tidak
(termasuk Nabi Musa). Para malaikat yang berdiri dekat Allah-pun tidak dapat
meraih Hakikat Yang Maha Luhur. Tak seorangpun mengetahui atau merasakan
hakikatnya. Sifat-sifat dan nama-nama belum ada. Hanya Dialah Yang Ada dan
nama-Nya ialah wujud makal, zat langgeng, hakikat segala hakikat, adanya ialah
kesepian (kosong). Siapakah gerangan yang tahu akan tahap ini. ??? Barang siapa
mengatakan mengetahui zat yang sejati, dia telah tersesat .
Al Hallaj menyadari, bahwa ia tidak mampu melepaskan kenyataan ketuhanan yang
tidak bisa dipresepsikan oleh hatinya sendiri, sehingga ia harus rela melenyapkan
dirinya dengan harapan ia mampu meniadakan dengan cara kematian yang tragis,
bukan dengan peniadaan (fana) pengertian spiritual yang dialami Junayd maupun
Nabi Musa, maka ia berkata dengan tulus agar ia mampu cepat melepaskan
keterikatannya dengan dirinya, dengan sebenarnya : uqtuluni ya thiqati - inna qatli
hayati - Bunuhlah aku, ya sahabatku, sebab terbunuhku itulah hidupku.
Inilah kenyataan yang sebenarnya, bahwa kematiannya merupakan harapan yang
dinantikan olehnya. Ia menemukan hidup yang Hakiki, setelah alat-alat kemanusiaan
tidak lagi ada, karena alat-alat pada diri manusia seperti penglihatan, pendengaran,
perasaan dan angan-angan, tidak mampu meraih kenyataan yang sebenarnya. Ia
mati dalam kebahagiaan yang abadi. Ia telah bebas dari keterikatannya, ia tidak lagi
berada didalam ambang ilahi, tetapi ia telah fana melalui pertolongan tangan Algojo
yang memenggal kepalanya.
Didalam kitab Jati Murti diuraikan mengenai kenyataan (hakikat) yang tidak bisa
dibandingkan dengan sesuatu (laisa kamistlihi syaiun, surah Asy syura, 42 : 11).
Sebagai berikut :
Kesejatian itu sangat luas, tidak bisa di kira-kira besar luasnya, tidak bisa dicapai di
dalam hati, tidak bisa ditemui diseluruh jagad raya, sebab didalam kesejatian
(hakikat) mempunyai arah yang disebut lahir dan bathin. Segala alam (jirim) berada
disisi luar kesejatian (hakikat), yaitu diantara lahir dan bathin, itu arah yang tidak
bisa direka-reka oleh pikiran dan perasaan manusia.
Karena kesejatian (hakikat) itu bersemayam dalam bathinnya alam atau badan yang
berada dialam, maka kesejatian tidak membutuhkan alam untuk bersemayam,
malahan berada dalam segala trmpat (berada di mana-mana), seperti
keberadaannya benda terhadap permukaan, atau seperti keberadaannya permukaan
terhadap garis. Jadi seandainya keadaan hakikat dibentengi besi yang amat rapat,
seperti halnya tempurung kemiri, tetap masih lebih luas (leluasa) sekali serta tidak
berpengaruh apapun.
Ibarat orang menggambar seekor kuda dengan sebuah pensil. Bentuk seekor kuda
yang dikelilingi dengan goresan (garis) bekas pensil, seperti tampaknya pensil tadi
yang berada di kulit kuda.
Kesejatian tidak terpengaruh sama sekali, sebab bukan benda. Yang bersemayam
dalam kesejatian, yaitu : Saya, maksudnya : Pribadi = AKU, Innani Ana Allah,
laailaha illa ANA, sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan kecuali AKU,
berada berjajar dengan segala kejadian, yaitu yang diakui oleh makhluk seisi alam
semesta, tempat bergantungnya segala sesuatu (Allahush shamad ), rabbul `alamin,
Rabb alam semesta.
Sesungguhnya keadaan hakikat (sejati ) tidak bisa diperbandingkan dengan segala
sesuatu yang ada pada keadaan alam-alam, sebab bukan tandingannya. Jika
memaksakan untuk membayangkan, maka ibarat batu dibandingkan dengan warna
yang ada pada permukaan batu tersebut, atau seperti satu meter persegi
dibandingkan dengan satu meter. Oleh karena itu perasaan manusia (sarana yang
dipakai untuk membayangkan atau mengukur) bukanlah rasa yang sejati. Jika
perasaan manusia dibandingkan dengan perasaan sejati (keadaan hakikat),
kejadiannya seperti halnya warna yang ada pada permukaan, sebuah benda
dibandingkan dengan benda yang menyatu yang memiliki permukaan tadi. atau
dapat diumpamakan seperti halnya wayang yang sedang dimainkan oleh dalang,
dibandingkan dengan dalang yang sedang menjalankan wayang tersebut. Menurut
dalang : Perilaku wayang itu pada hakikatnya tidak ada, yang ada adalah perilaku si
dalang tersebut, tanpa ada perbandingan (tandingan).
Sebagaimana firman Allah:
"Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah
yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu
melempar, tetapi Allah-lah yang melempar (QS Al Anfaal, 8:17 ) Pendek kata
manusia sebenarnya hanya "diam"(fana). Diamnya dapat diumpamakan : Salah satu
perilaku wayang berhenti, tidak dimainkan lagi oleh dalang, maka
yang ada tinggal perilaku dalang, si wayang tidak tahu apa-apa lagi, penglihatannya
tidak ada, pendengarannya tidak ada, perasaannya tidak ada, kekuatannya tidak
ada, hidupnya tidak ada, kesadarannya tidak ada, maka dirinyapun tidak ada seperti
pada mulanya sebelum diciptakan. Sekarang si wayang tidak tahu apa-apa, yang
tahu adalah tinggal AKU yang sejati yang meliputi segala sesuatu. Si wayang
kembali kepada asal muasalnya, yaitu dari tidak ada menjadi ada lalu tidak ada,
inilah hakikat innalillahi wainna ilaihi rajiuun, sesungguhnya kami berasal dari Allah
dan kepada-Nya kami kembali. Jadi manusia hanya diam saja (lenyap tanpa memiliki
presepsi apa-apa) itulah layaknya manusia yang masuk kedalam kesejatian
(hakikat), dan masuknya kealam kesejatian melalui proses penyucian dari anggapan
( dhzan, presepsi), artinya Allah suci dari anggapan pikiran dan rekayasa hati
manusia (dhzan); suci dan hilangnya sifat kemanusiaan oleh kekuatan yang
menganggap dengan I'tikat yang kuat, ia menganggap kekuatan itu adalah dirinya
sendiri; akan tetapi semuanya itu milik Allah dan harus kembali kepada-Nya.
Bukan manuggaling kawula Gusti seperti anggapan Siti Jennar, yang terpengaruh
oleh ajaran Vedanta, yang mendorong ke perluasan Atman "inti diri", sampai si inti
diri itu menyadari kesatuannya dengan hakikat segala sesuatu seperti yang
dinyatakan dalam ungkapan tat twam asi, itulah engkau !!
Karena hakikat itu tidak bisa dibandingkan dengan apa-apa (alam yang bukan
sejati), maka keadaannya tidak ada perbandingan seperti suka dan duka, senang
dan benci, bosan dan betah. Karena tanpa pemilahan, maka tidak ada hitungan dan
bilangan.Yang dimaksud dengan istilah tanpa hitungan maknanya ialah : Tidak ada
jumlahnya, karena jika dikatakan satu maka satu itu membutuhkan tandingan
adanya dua, tiga , empat dan seterusnya. Memang kebiasaan kita menyebut dia itu
Tunggal (satu), tetapi bukan berarti satu seperti penyebutan untuk sebuah benda,
satu jeruk, satu mobil. Untuk jelasnya, maka penyebutannya seharusnya sebagai
berikut : tidak ada apa-apa kecuali hanya ada: "Pribadi".
Bobotnya sudah disebut demikian, maksudnya adalah : tidak ada apa-apa kecuali
hanya - walaupun menurut alam jirim bukanlah suatu hal yang aneh, namun
menurut keadaan hakiki hal tersebut menjadi aneh. Anehnya adalah mengapa mesti
diomongkan sebagai : Tidak ada apa-apa kecuali ….. apa sebabnya ?? itu ibarat
orang berkata : air itu tidak ada yang bukan air, atau jagad segala jagad ya tetap
segala jagad .
Oleh karena tidak ada pemilahan dan bilangan, maka maksud istilah "gusti dan
kawula berada dalam keadaan sejati" juga menjadi aneh. Anehnya kenapa ada
perbandingan , yaitu kawula dibandingkan dengan gusti, seperti halnya kuda
dibandingkan dengan warnanya, atau gelang dibandingkan dengan emas yang
dipakai untuk membuat gelang tersebut. Warna itu ya warna kuda, bukan
semestinya dibandingkan dengan yang memiliki warna tersebut, sebab warna itu
tidak akan ada (tampak ) kalau tidak ada kuda (yang memiliki warna), bukan wujud
yang sebenarnya, akan tetapi wujud yang sebenarnya adalah kuda itu sendiri.
Gelang itu terbuat dari emas, gelang dengan emas itu berbeda, gelang merupakan
kejadian yang terbuat dari emas. Emas merupakan wujud yang sebenarnya,
sedangkan gelang adalah kejadian (ciptaan) yang tetap tergantung kepada bahan
emas tadi, sehingga gelang itu diliputi oleh emas

Senin, 02 Maret 2009

Patrap (Makna Dzikrullah)

Kita mengetahui bagaimana bintang-bintang itu beredar pada porosnya sebagaimana
mengetahui tumbuh-tumbuhan, gunung-gunung berdiri dan bergerak mengikuti
sunnah-Nya, sesungguhnya semuanya itu bersujud dan bertasbih kepada khaliknya.
Akan tetapi kita tidak mengetahui bagaimana cara mereka bersujud dan bertasbih.
Firman Allah :
"Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada didalamnya bertasbih kepada Allah.
Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu
sekalian tidak mengerti mereka. Sesungguhya Dia adalah maha penyantun lagi
maha Penyayang" (QS 17:44)
Kemudian Dia mengarah kepada langit yang masih berupa kabut lalu Dia berkata
kepadanya dan kepada bumi. silahkan kalian mengikuti perintah-Ku dengan suka
hati atau terpaksa. Jawab mereka "Kami mengikuti dengan suka hati" (QS 41:11)
Ayat-ayat di atas memberikan gambaran kepada kita bahwa tasbih mereka bukanlah
sebuah kata-kata seperti manusia bertasbih, akan tetapi merupakan bentuk
kepasrahan dan kepatuhan atas perintah Allah, sehingga gerak mereka serta arah
tujuannya berserah atas kehendak perintah Ilahi. Dengan demikian butir-butir atom,
bumi, matahari, bintang-bintang bergerak pada orbit atau garis yang telah
ditentukan oleh-Nya. Itulah yang dinamai ber-islam, yang artinya berserah diri atas
kemauan Allah Yang Maha Pengasih. Yaitu pasrah atas peraturan-peraturan (sunnahsunnah)
yang telah ditentukan oleh Allah Swt. Maka dari itu paradigma pasrah
bukanlah orang pasif yang tidak bergerak, malah sebaliknya orang yang pasrah
adalah orang aktif yang mengikuti perintah-perintah di dalam syariat, berdagang,
belajar, berperang, membayar zakat, berhaji, beternak, bertani, bermanajemen dll.
Hal ini diibaratkan seperti kalau kita membeli sebuah mobil. Si perancang telah
menyiapkan manualnya untuk memudahkan kita menghidupkan dan menjalankan
mesin mobil tersebut, serta untuk mengetahui suku cadang yang harus diganti jika
terjadi kerusakan. Manual yang berisi ketentuan/aturan ini tidak bisa diganti
seenaknya sesuai dengan kemauan kita, karena bisa-bisa akan mengakibatkan
benturan/berlawanan dengan keinginan perancangnya, yang pada akhirnya mungkin
akan membuat mesin mobil menjadi rusak dan tidak dapat berjalan dengan baik.
Perbuatan mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan oleh perancang dalam ilustrasi
diatas menggambarkan kepasrahan dan kepatuhan terhadap ketentuan si
perancang. Demikian pula dengan kepasrahan terhadap ketentuan yang telah ditulis
dalam Al Qur'an dan Al Hadist ataupun dalam ayat-ayat kauniyah (hukum yang
diikuti oleh alam semesta / hukum alam), semuanya mengikuti sistem dan keinginan
ilahi. Mereka bersujud patuh atas ketetapan-Nya dengan suka hati.
Didalam serat Pepali Ki Ageng Selo, dzikir berarti patrap, yaitu orang susila, orang
beradab. Peradaban atau kesusilaan seseorang ditentukan oleh pendirian hidupnya

dan kesusilaan dalam arti kata yang sedalam-dalamnya dan terikat pada sarat-sarat
utama, yaitu dapat menguasai diri sendiri, yang dijabarkan sbb :
1. Menguasai tubuh sepenuhnya, yang berarti mampu untuk menguasai perjalanan
nafas dan darah, sehingga orang tidak lekas naik darah dan tidak mudah
dipermainkan oleh urat syarafnya (nervous) yang besar faedahnya bagi kesehatan
badan.
2. Menguasai perasaan, yaitu dapat menahan rasa marah, jengkel, sedih, takut dan
sebagainya, sehingga dalam keadaan bagaimanapun juga selalu tenang dan sabar,
oleh karena itu lebih mudah untuk dapat mengambil tindakan-tindakan yang
setepat-tepatnya.
3. Menguasai pikiran, sehingga pikiran itu dalam waktu-waktu yang terluang tidak
bergelandangan semaunya sendiri dengan tidak terarah dan bertujuan, akan tetapi
dapat diarahkan untuk memperoleh pengertian dan kesadaran tentang soal-soal
hidup yang penting.
Orang patrap (dzikir, sadar) dalam Islam diidealisasikan dalam sosok Nabi
Muhammad sebagai uswatun hasanah, tidak kenal rasa takut tidak gentar dalam
keadaan bagaimanapun juga, beliau selalu sabar, dan tenang dan selalu diliputi oleh
rasa kasih sayang kepada sesama hidup dan karena itu beliau dicintai oleh semua
ummat manusia, beliau mencintai segala ciptaan Allah.
Sikap dzikir sempurna seperti itu pernah dicontohkan Rasulullah, tatkala tiba-tiba
Da'tsur menodongkan pedangnya kearah leher nabi, seraya berkata lantang: "Siapa
yang akan menolong engkau dalam keadaan seperti ini, ya Muhammad?". "Allah
yang menolongku", jawab nabi dengan tenang.
Jawaban sederhana yang tidak disangka-sangka oleh Da'tsur, merontokkan karang
hati yang pongah, tubuhnya bergetar seakan tidak lagi disanggah oleh tulangtulangnya
yang besar. Daya apa gerangan yang mengalir dari mulut Muhammad,
membuat jiwanya sesaat seperti mati tak berdaya. Pedangnya terpental jatuh
ketanah, kemudian Rasulullah berganti membalas menodongkan pedang
kearah leher Da'tsur, dan beliau berkata : "Siapa yang akan menolong engkau ,ya
Da'tsur?" Ia jatuh bersimpuh pada kaki Rasulullah sambil mengiba untuk diampuni
atas sikapnya yang congkak dan berkata hanya enkau ya Muhammad yang bisa
menolongku. Seketika itu Rasulullah menasehatinya agar ia kembali ke jalan Islam.
Peristiwa di atas merupakan sikap sempurna dari Dzikir Rasulullah. Keadaan seperti
itulah yang dimaksudkan islam sebagai kepasrahan dan kepercayaan akan
kekuasaan Allah, perlindungan, kedekatan dan kemahatinggian Allah diatas segalagalanya.
Dzikir kepada Allah bukan hanya sekedar menyebut nama Allah di dalam lisan atau
didalam pikiran dan hati. Akan tetapi dzikir kepada Allah ialah ingat kepada Asma,
Dzat, Sifat, dan Af''al-Nya. Kemudian memasrahkan kepada-Nya hidup dan mati
kita, sehingga tidak akan ada lagi rasa khawatir dan takut maupun gentar dalam
menghadapi segala macam mara bahaya dan cobaan. Sebab kematian baginya
merupakan pertemuan dan kembalinya ruh kepada raja diraja Yang Maha Kuasa.
Mustahil orang dikatakan berdzikir kepada Allah yang sangat dekat, ternyata hatinya
masih resah dan takut, berbohong, tidak patuh terhadap perintah-Nya dll.
Konkritnya berdzikir kepada Allah adalah merasakan keberadaan Allah itu sangat
dekat, sehingga mustahil kita berlaku tidak senonoh
dihadapan-Nya, berbuat curang, dan tidak mengindahkan perintah-Nya.
Seperti yang pernah saya singgung mengenai syetan yang ma'rifat kepada Allah,
bertauhid kepada Allah, dan berdo'a kepada-Nya, memuja-Nya, namun ia enggan
mengikuti perintah-Nya. Orang berdzikir seperti ini sama kedudukannya dengan
kedudukan syetan yang terkutuk.
Allah berfirman : "Hai iblis , apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang
telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri atau
kamu merasa termasuk orang yang lebih tinggi ?"
Iblis berkata : Aku lebih baik dari padanya, karena Engkau ciptakan aku dari api,
sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.
Allah berfirman: "Maka keluarlah kamu dari surga, sesungguhnya kamu adalah yang
terkutuk, sesungguhnya kutukan-Ku tetap atas kamu sampai hari pembalasan."
Iblis berkata: "Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan."
Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk orang yang diberi tangguh. Sampai
hari yang telah ditentukan waktunya ( hari kiamat)."
Iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka kecuali
hamba-hamba-Mu yang mukhlis diantara mereka. (QS 38:75-83)
Kalau kita perhatikan dialog Iblis dengan Allah di atas, kelihatan sekali bekas
keakraban antara Khaliq dan makhluq-Nya. Dia sangat percaya kepada Allah, dia
bertauhid, dan mengetahui bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah, dia juga memuja
Allah dengan menyebut "faizzatika" (demi kekuasaan Engkau). Dia selalu memanggil
Allah dengan sebutan "Ya Rabbi" (Ya tuhanku), dan yang terakkhir dia dikabulkan
doanya agar dipanjangkan usianya sampai hari kiamat. Hampir saja sempurna sang
iblis sebagai hamba yang sangat dekat, memohon kepada Allah (berdo'a), bertauhid
dan berma'rifat kepada-Nya. Hanya satu kesalahan sang iblis ini, yaitu tidak mau
mengindahkan perintah-Nya untuk bersujud (menghormati) kepada Adam. Berarti ia
tidak mengakui atau tidak menerima keputusan
Allah yang Maha Bijaksana, disebabkan kesombongan merasa paling baik dari
dirinya, ana khairu minhu , aku lebih baik dari Adam !!!
Ada sebagian ahli dzikir yang tidak mau melaksanakan ibadah shalat, dengan dalil
sudah sampai kepada tingkat ma'rifat atau fana. Dengan alasan wa aqimish shalata
lidzikri (dirikanlah shalat untuk mengingat Aku ... QS 20:14), karena tujuan shalat
adalah ingat. Namun ia tidak sadar, bahwa ingat disini ... tidak hanya kepada nama-
Nya atau kepada dzat-Nya, akan tetapi konsekwensinya harus menerima apa
kemauan yang diingat, yaitu kemauan Allah Swt seperti apa yang telah
diperintahkan didalam syariat-Nya .
Bandingkan dengan sikap syetan yang tidak mengikuti kemauan Ilahi. Perbuatan
khariqul `adah (meninggalkan kebiasaan syariat) dianggap perbuatan seorang
waliyullah. Padahal nabi Muhammad dan para sahabat menegakkan syariat shalat,
dan mu'amalah. Sedang kedudukan beliau berada diatas para wali manapun di
dunia. Dengan alasan yang seakan masuk akal, serta dengan ditandai
(ditambahi) kelebihan-kelebihan spiritual yang menakjubkan. Janganlah anda heran
jika setanpun mampu menembus alam-alam ghaib dan mampu menyelami pikiran
dan hati manusia, ... bahkan ia mampu berjalan melalui aliran darah (yajri dam)
karena memang ia dikabulkan permintaannya. Seorang wali adalah kekasih Allah
dan merupakan wakil Allah didalam melaksanakan tugas-tugas
menegakkan syariat Alqur'an dan As sunnah.
Lalu Apa yang Dimaksud dengan Dzikir Lisan, Dzikir Qalbi atau Dzikir Sirri?
Syekh Ahmad Bahjad dalam bukunya "Mengenal Allah", memberikan pengertian sbb
: "Dzikir secara lisan seperti menyebut nama Allah berulang-ulang. Dan satu tingkat
diatas dzikir lisan adalah hadirnya pemikiran tentang Allah dalam kalbu, kemudian
upaya menegakkan hukum syariat Allah dimuka bumi dan membumikan Al Qur'an
dalam kehidupan. Juga termasuk dzikir adalah memperbagus kualitas amal seharihari
dan menjadikan dzikir ini sebagai pemacu kreatifitas baru dalam bekerja dengan
mengarahkan niat kepada Allah ( lillahita'ala )."
Sebagian ulama lain membagi dzikir menjadi dua yaitu: dzikir dengan lisan, dan
dzikir di dalam hati. Dzikir lisan merupakan jalan yang akan menghantar pikiran dan
perasaan yang kacau menuju kepada ketetapan dzikir hati; kemudian dengan dzikir
hati inilah semua kedalaman ruhani akan kelihatan lebih luas, sebab dalam wilayah
hati ini Allah akan mengirimkan pengetahuan berupa ilham.
Imam Alqusyairi mengatakan : "Jika seorang hamba berdzikir dengan lisan dan
hatinya, berarti dia adalah seorang yang sempurna dalam sifat dan tingkah lakunya."
Dzikir kepada Allah bermakna, bahwa manusia sadar akan dirinya yang berasal dari
Sang Khalik, yang senantiasa mengawasi segala perbuatannya. Dengan demikian
manusia mustahil akan berani berbuat curang dan maksiat dihadapan-Nya. Dzikir
berarti kehidupan, karena manusia ini adalah makhluq yang akan binasa (fana),
sementara Allah senantiasa hidup, melihat, berkuasa, dekat, dan
mendengar, sedangkan menghubungkan (dzikir) dengan Allah, berarti menghubungkan
dengan sumber kehidupan (Al Hayyu).
Sabda Rasulullah : "Perumpamaan orang yang berdzikir dengan orang yang tidak
berdzikir seperti orang yang hidup dengan orang yang mati." (HR. Bukhari)
Itulah gambaran dzikir yang dituturkan Rasulullah Saw. Bahwa dzikir kepada Allah
itu bukan sekedar ungkapan sastra, nyanyian, hitungan-hitungan lafadz, melainkan
suatu hakikat yang diyakini didalam jiwa dan merasakan kehadiran Allah disegenap
keadaan, serta berpegang teguh dan menyandarkan kepada-Nya hidup dan matinya
hanya untuk Allah semata.
Firman Allah :
"Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu (jiwamu) dengan merendahkan diri
dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan
janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai." (QS 7:205)
Aku hadapkan wajahku kepada wajah yang menciptakan langit dan bumi, dengan
lurus. Aku bukanlah orang yang berbuat syirik, sesungguhnya shalatku, ibadahku,
hidupku, dan matiku kuserahkan (berserah diri) kepada Tuhan sekalian Alam ....
Adapun hitungan-hitungan lafadz, seperti membaca Asmaul Husna, membaca
Alqur'an, shalat, haji, zakat, dll, merupakan bagian dari sarana dzikrullah, bukan
dzikir itu sendiri, yaitu dalam rangka menuju penyerahan diri (lahir dan batin)
kepada Allah. Tidak ada kemuliaan yang lebih tinggi dari pada dzikir dan tidak ada
nilai yang lebih berharga dari usaha menghadirkan Allah dalam hati, bersujud karena
keagungan-Nya, dan tunduk kepada semua perintah-Nya serta menerima setiap
keputusan-Nya Yang Maha Bijaksana
Dzikir berarti cinta kepada Allah, tidak ada tingkatan yang lebih tinggi diatas
kecintaan kepada Allah …, maka berdzikirlah kamu (dengan menyebut ) Allah,
sebagaimana kamu ingat kepada orang tua kalian, atau bahkan lebih dari itu …. (QS
2:200)
"Katakanlah, jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum
keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaaan yang kamu
khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tinggal yang kamu sukai, adalah lebih
kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka
tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. dan Allah
tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik." (QS 9:24 )
Dzikrullah Rohnya Seluruh Peribadatan
Pada tatanan spiritualitas Islam, dzikrullah merupakan kunci membuka hijab dari
kegelapan menuju cahya Ilahi. Alqur'an menempatkan dzikrullah sebagai pintu
pengetahuan makrifatullah, sebagaimana tercantum dalam surat Ali Imran 190-191 :
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan
siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, yaitu orang-orang yang
mengingat Allah sambil berdiri, atau sambil duduk atau dalam keadaan berbaring
dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) Ya
Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia maha suci Engkau,
maka peliharalah kami dari siksa neraka" (QS 3:190-191)
Kalimat "yadzkurunallah" orang-orang yang mengingat Allah, didalam `tata bahasa
arab' berkedudukan sebagai ma'thuf (tempat bersandar) bagi kalimat-kalimat
sesudahnya, sehingga dzikrullah merupakan dasar atau azas dari semua perbuatan
peribadatan baik berdiri, duduk dan berbaring serta merenung (kontemplasi).
Dengan demikian praktek dzikir termasuk ibadah yang bebas tidak
ada batasannya. Bisa sambil berdiri, duduk, berbaring, atau bahkan mencari nafkah
untuk keluarga sekalipun bisa dikatakan berdzikir, jika dilandasi karena ingat kepada
Allah. Juga termasuk kaum intelektual yang sedang meriset fenomena alam,
sehingga menemukan sesuatu yang bermanfaat bagi seluruh manusia.
Dzikrullah merupakan sarana pembangkitan kesadaran diri yang tenggelam, oleh
sebab itu dzikir lebih komprehensif dan umum dari berpikir. Karena dzikir melahirkan
pikir serta kecerdasan jiwa yang luas, maka dzikrullah tidak bisa hanya diartikan
dengan menyebut nama Allah, akan tetapi dzikrullah merupakan sikap mental
spiritual mematuhkan dan memasrahkan kepada Allah Swt.
Dari Dardaa Ra :
Bersabda Rasulullah Saw "Maukah kalian saya beritakan sesuatu yang lebih baik dari
amal-amal kalian, lebih suci dihadapan penguasa kalian, lebih luhur di dalam derajat
kalian, lebih bagus bagi kalian dari pada menafkahkan emas dan perak, dan lebih
bagus dari pada bertemu musuh kalian (berperang) kemudian kalian menebas leherleher
mereka atau merekapun menebas leher-leher kalian ?" Mereka berkata : "baik
ya Rasulullah". Beliau bersabda : "dzikrullah" atau ingat kepada Allah (dikeluarkan
oleh At thurmudzy dan Ibnu Majah, dan berkata Al Hakim: shahih isnadnya).
Betapa dzikrullah ditempatkan pada posisi yang sangat tinggi, karena merupakan
jiwa atau rohnya seluruh peribadatan, baik shalat, haji, zakat, jihad dan amalanamalan
lainnya. Dari sisi lain, Allah sangat keras mengancam orang yang tidak ingat
kepada Allah didalam ibadahnya. Seperti dalam surat Al Ma'un ayat :4-6 :
"Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai
dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat riya'." fashalli lirabbika … maka dirikanlah
shalat karena Tuhanmu ( QS. 108:2 )
Perbuatan riya' ialah melakukan suatu amal perbuatan tidak untuk mencari
keridhaan Allah, akan tetapi untuk mencari pujian atau kemasyhuran di masyarakat.
Amal perbuatan seperti itu yang akan ditolak oleh Allah, dan dikategorikan bukan
sebagai perbuatan Agama (Ad dien).
Banyak orang yang mendirikan shalat, sementara ia hanya mendapatkan rasa lelah
dan payah ( Al Hadist )
Sabda Nabi Saw :
"Akan datang pada suatu masa, orang yang mengerjakan shalat, tetapi mereka
belum merasakan shalat" (HR. Ahmad, dalam risalahnya: Ash shalatu wa ma
yalzamuha)
Jadi jelaslah maksud hadist-hadist di atas bahwa seluruh peribadatan bertujuan
untuk memasrahkan diri dan rela kepada Allah, sebagaimana pasrahnya alam
semesta…
Untuk mencapai kepada tingkatan yang ikhlas kepada Allah serta menerima Allah
sebagai junjungan dan pujaan, jalan atau sarana yang paling mudah telah diberikan
Allah, yaitu dzikrullah. Keikhlasan kepada Allah mustahil bisa dicapai, tanpa melatih
dengan menyebut nama Allah serta melakukan amalan-amalan yang telah
ditetapkan-Nya.
Telah menyebutkan Abdullah bin Yusr, bahwa sesungguhnya ada seorang lelaki
berkata. wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat iman itu sungguh amat banyak
bagiku, maka kabarkanlah kepadaku dengan sesuatu yang aku akan menetapinya.
Beliau bersabda :
"Senantiasa lisanmu basah dari dzikir (ingat) kepada Allah Ta'ala."
Keluhan laki-laki yang datang kepada Rasulullah menjadi pelajaran dan renungan
bagi kita, yang ternyata syariat iman itu amat banyak jumlahnya dan tidaklah
mungkin kita mampu melaksanakan amalan syariat yang begitu banyak tersebut,
kecuali mendapatkan karunia bimbingan dan tuntunan dari Allah Swt. Rasulullah
telah memberikan solusinya dengan memerintahkan selalu membasahi lisan kita
dengan menyebut nama Allah.
Dengan cara melatih berdzikir kepada Allah kita akan mendapatkan ketenangan,
kekhusyu'an dan kesabaran yang berasal dari Nur Ilahi.
Keutamaan Berdzikir Kepada Allah
Apabila benar-benar mengerjakan dzikir menurut cara yang dikehendaki oleh Allah
dan Rasul-Nya, sedikitnya ada dua puluh keutamaan yang akan dikarunikan kepada
yang melakukannya, yaitu (Al Fathul Jadied : syarah At Targhieb Wat Tarhieb):
1. Mewujudkan tanda baik sangka kepada Allah dengan amal shaleh ini.
2. Menghasilkan rahmat dan inayat Allah.
3. Memperoleh sebutan yang baik dari Allah dihadapan hamba-hamba yang pilihan.
4. Membimbing hati dengan mengingat dan menyebut Allah.
5. Melepas diri dari azab.
6. Memelihara diri dari was-was syaitan khannas dan membentengi diri dari
ma'syiat.
7. Mendatangkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
8. mencapai derajt yang tinggi di sisi Allah.
9. Memberikan sinaran kepada hati dan menghilangkan kekeruhan jiwa.
10. Menghasiilkan tegaknya suatu rangka dari iman dan islam.
11. Menghasilkan kemuliaan dan kehormatan pada hari kiamat.
12. Melepaskan diri dari rasa sesal.
13. Memperoleh penjagaan dari para malaikat.
14. Menyebabkan Allah bertany tentang keadaan orang-orang yang berdzikir itu.
15. Menyebabkan berbahagianya orang-orang yang duduk beserta orang-orang yang
berdzikir, walaupun orang turut duduk itu tidak berbahagia.
16. Menyebabkan dipandang ahlul ihsan, dipandang orang-orang yang berbahagia
dan pengumpul kebajikan.
17. Menghasilkan ampunan dan keridhaan Allah.
18. Menyebabkan terlepas dari suatu pinti fasik dan durhaka. Karena orang yang
tidak menyebut Allah (tidak berdzikir) dihukum sebagai orang fasik.
19. Merupakan ukuran untuk mengetahui derajat yang diperoleh di sisi Allah.
20. Menyebabkan para Nabi dan orang-orang mujahidin (syuhada) menyukai dan
mengasihi.
Dengan sebagian manfaat yang tercantum di atas, layaklah jika dzikrullah
didudukkan sebagai pintu pembuka jalan kebajikan dan jalan makrifatullah.
Keutamaan-keutamaan tersebut bukan sekedar catatan yang menarik bagi kaum
muslimin, akan tetapi hal tersebut bisa kita peroleh dan dirasakan dengan sebenarbenarnya,
apabila kita serius dan sungguh-sungguh dalam melaksanakan
amalan-amalan dzikir kepada Allah.
DALIL-DALIL YANG MENGANJURKAN DZIKRULLAH SERTA ANCAMAN BAGI YANG
MENINGGALKANNYA.
AYAT-AYAT AL-QUR'AN
1. Surat Ali"Imran (190-191)
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan
siang terdapat tanda-tanda dari orang yang berakal. (3-190) (yaitu) orang-orang
yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan
mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan
kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka
peliharalah kami dari siksaan neraka (QS 3:190-191).
2. Surat An Nisaa' (103)
Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah diwaktu berdiri,
diwaktu duduk dan diwaktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman,
maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguh-nya shalat itu adalah
fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman (QS 4:103).
3. Surat Al Anfaal (45)
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka
berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu
beruntung (QS 8:45).
4. Al Munaafiquun (9)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu
melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa berbuat demikian maka mereka
itulah orang-orang yang rugi (QS 63:9).
5. Al Mujaadilah (19)
Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah;
mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa golongan syetan itulah golongan
yang merugi( QS 58:19).
6. Az Zukhruf (36)
Barang siapa yang berpaling dari ingat kepada yang maha pemurah, kami adakan
baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syetan itulah yang menjadi teman yang
selalu menyertainya (QS 43:36).
7. An Nisa (142)
Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas
tipuan mereka . Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan
malas,...mereka bermaksud riya'( dengan shalat) dihadapan manusia,… tidaklah
mereka menyebut Allah kecuali hanya sedikit sekali (QS 4:142).
8. Al Baqarah (152)
Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan
bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmatku) (QS 2:152)
9. Al Baqarah (200)
Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah (dengan
menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan)
nenek moyangmu, atau bahkan lebih banyak dari itu (QS 2:200).
10. Al Ahzab (35)
Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah , Allah telah
menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang benar (QS 33:35).
11. Al Ahzab (41)
Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah , dzikir
sebanyak-banyak nya (QS 33:41).
12. An Nur (37)
Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari
mengingat Allah , dan (dari) membayar zakat . mereka takut kepada suatu hari yang
( dihari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang (QS 24:41).
13. Al A'Raaf (205)
Dan sebutlah (nama) Tuhanmu didalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa
takut dan tidak mengeraskan suaramu, diwaktu pagi dan petang, dan janganlah
kamu termasuk orang-orang yang lalai (tidak berdzikir) (QS 7:205)
14. Ar Ra'd (28)
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan
mengingat Allah, ingatlah, hanya dengan mengingat Allalh hati menjadi tentaram
(QS 13:28).
15. Al Jumu'ah (9)
Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk sembahyang pada hari jum'at,
maka segeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang
demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui (QS 62:9)
HADIST-HADITS RASULULLAH
1. Dari Abu Hurairah Ra. Dari Rasulallah Saw. Bersabda : barang siapa yang duduk
pada suatu tempat duduk yang dia tidak dzikir (ingat) kepada Allah, dan atau
ditempat itu, maka ada atasnya kebencian dari Allah ta'ala. Dan barang siapa

bertiduran pada tempat tidur yang ia tidak dzikir kepada Allah ditempat itu, maka
ada atasnya kebencian dari Allah, artinya merupakan kekurangan tabiat jelek dan
kerugian. (dikeluarkan oleh Abu Dawud)
2. Banyaklah olehmu menyebut Allah disegenap keadaan karena tak ada sesuatu
amal yang lebih disukai Allah dan tak ada yang sangat melepaskan hamba dari suatu
bencana di dunia dan akhirat dari pada menyebut Allah (HR: At Tabrany )
3. Berfirman Allah Swt. Aku menurut persangkaan hamba-Ku kepada-Ku dan aku
besertanya dimana ia mengingat akan Aku (HR Bukhari-Muslim)
4. Tidaklah duduk sesuatu kaum disuatu majelis lantas mereka menyebut nama
Allah di majelis itu melainkan mengelilingi mereka dan rahmat menutupi mereka dan
Allah menyebut mereka dihadapan orang-orang yang disisi-Nya ( HR Ibn Syaiban.
Tahfudz Dzikirin:12)
5. Tiada berkumpul suatu kaum didalam suatu rumah Allah (masjid) untuk menyebut
Allah hendak memperoleh keridhoan-Nya melainkan Allah memberikan ampunan
kepada mereka itu. Dan menggantikan keburukan-keburukan mereka dengan
berbagai kebaikan (HR Ahmad … At Targhieb 3:63 )
6. Barang siapa tiada banyak menyebut Allalh, maka sesungguhnya terlepas dia dari
imannya ( HR. At Tabrany dalam Al Ausath )
7. Bahwasanya Allah berfirman: hai anak Adam, apabila engkau telah menyebut
akan Aku, berarti engkau telah mensyukuri akan Aku. Dan apabila engkau telah
melupakan akan Aku, berarti engkau telah mengingkari nikmat dan ihsan-Ku ( HR.
At Tabrany dalam Al Ausath )
8. Perumpamaan orang yang menyebut tuhannya dengan orang orang yang tidak
menyebut tuhannya, adalah umpama orang yang masih hidup dibanding dengan
orang mati. ( HR. Bukhary ..At TarghiebWat Tarhieb 3:59)
9. Berkata Abu Hurairah Ra. Bersabda Nabi Muhammad Saw. Telah mendahului
"mufarridun ". Mereka (para sahabat) berkata: Apakah Mufarridun itu? Beliau
menjawab: orang-orang lelaki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah
(dikeluarkan oleh Imam Muslim)
10. Telah menyebutkan Abdullah bin Yusr bahwa sesungguhnya ada seorang laki-laki
berkata : Sesungguhnya syari'at iman itu sungguh amat banyak bagiku, maka
kabarkanlah kepadaku dengan sesuatu yang aku menetapinya. Beliau bersabda :
senatiasa lisanmu basah dari dzikir (ingat) kepada Allah Ta'ala.
Sudah terlalu banyak yang kita mengerti dari perintah-perintah Allah didalam Al
Quran dan Al Hadist. Namun apakah akan tetap menjadikan dalil tinggallah dalil, dan
kita tetap saja tidak mau berbuat banyak dalam melaksanakan peribadatan kepada
Allah. Sampai kapan kita hanya mengumpulkan data-data keislaman yang tidak
terhitung banyaknya. Apakah sebenarnya tujuan kita
beragama !? Bukankah kita akan kembali kepada-Nya dengan tidak membawa apaapa
(Pasrah) !?
Terlalu panjang ... kalau kita membicarakan persoalan yang tiada habis-habisnya.
Apalagi mempersoalkan hal furuiyyah … syariat Islam itu tidak sekedar soal hukumhukum
positif saja, tetapi banyak nilai spiritual yang belum digali dengan benar.
Akibatnya kita ketinggalan dengan para Yogi India yang menekuni realitas kejiwaan
yang bersifat universal, sehingga para penganutnya bukan saja dari kalangan hindu,
akan tetapi sebagian orang Islam dan bangsa Eropa yang beragama Kristen telah
menekuninya tanpa harus menjadi Hindu. Dan membawa manfaat baik lahir maupun
mental spiritualnya. Mengapa nilai spiritual Islam tidak mampu menembus wilayah
bangsa-bangsa lain yang bermanfaat bagi kedamaian manusia, yang diakui
menyatakan Rahmatan lil'alamin !? Mengapa kita memandang mereka dengan rasa
kebencian dan bermusuhan.? Padahal tidak semua orang kafir harus diperangi
(harbi).
Mengapa kita tidak melakukan saja pekerjaan yang bermanfaat untuk kesejahteraan
ummat manusia dan alam? Mengapa kita tidak menjadikan manusia itu cerdas dan
bermental spiritual yang damai? Lihatlah bangsa Jepang, negara yang amat kecil dan
disegani lawannya, dikagumi semua Ummat, padahal dia tidak memiliki pasukan
penggempur musuh. Kita Ummat yang mengaku
khairun Ummat (Ummat yang terbaik), ternyata dilecehkan dan dihinakan, dijajah,
dan tidak dipandang sebagai ummat yang cerdas, bahkan hampir disamakan dengan
bangsa primitif, karena menonjolkan sifat kekasaran, dan kekuatan ototnya. Kita
mudah marah dan tersinggung, jika dikatakan ummat islam itu terbelakang, yang
identik dengan kemiskinan dan kebrutalan.
Kenyataannya kita sering dihambat oleh ummat sendiri. Al islam mahjubun bil
Muslim, kreatifitas dan inovasi pemikiran dan kajian ummat, terkadang diserang
habis habisan tanpa ikut meneliti terlebih dahulu kebenarannya dengan alasan
bid'ah.
Orang yang menekuni bidang pendidikan, filsafat, dan ilmu-ilmu sain dianggap tidak
memperjuangkan ummat, padahal mereka adalah orang yang mengisi khasanah
keilmuan yang digali dalam literatur Islam yang penuh dengan persoalan-persoalan
manusia, alam dan fenomenanya.
Saya mengajak segenap ummat Islam agar kembali kepada jalan suci yang dirintis
para pendahulu kita, yang lebih banyak berbuat ketimbang berbicara. Islam
berkembang bukan dengan kekerasan, akan tetapi melalui kebudayaan, melalui
sains yang digali oleh para Ulama yang mengungkapkan keagungan dan keunikan
alam semesta. Ulama-ulama yang sangat intens terhadap ilmu fisika,
matematika, dan kedokteran seperti, Ibnu Sina, Al Jabber, Ibnu Rusydi dll,
mempunyai andil mengangkat derajat dan kebesaran Islam pada abad ke tujuh
sampai akhir abad kedua belas, ... hingga akhirnya terpuruk pada saat ini. Menurut
pandangan saya, Jepang , Singapura, Perancis adalah potret negara Islami yang
sebenarnya, sebab disanalah dasar-dasar filsafat Islam tertanam menjadi budaya
yang tinggi seperti kedisiplinan, ketekunan, kesadaran hukum, kebersihan, wajib
belajar, memperhati-kan hak asasi manusia, binatang, dan lingkungan. Hanya satu
yang belum … yaitu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya
Demikian harapan dan sentuhan rasa yang dalam akan keinginan khasanah
keislaman dijalankan melalui gerakan jiwa yang dalam dan bersih. Dan hanya
dengan berbuat melalui kesadaran spiritual yang tinggi keinginan itu akan tercapai.
Sebab kesadaran adalah modal tertinggi untuk mencapai sesuatu. Bukan dengan
emosi dan cemburu terhadap karya orang lain lalu kemudian memusuhinya tanpa
jelas perkaranya. Hanya dengan berdzikir kepada Allah hati menjadi tenang …
sehingga melahirkan karya-karya yang bermanfaat dan berperilaku akhlaq yang
mulia.
Memasuki Kesadaran Diri (Aku)
Kali ini saya akan mengajak pembaca sekalian menyelami kesadaran diri yang
sebenarnya, dan mengenali hakikat ruh yang biasa menyebut dirinya "Aku". Dan
saya tidak akan lagi bicara soal dalil-dalil. Ibaratnya kita melakukan shalat, kita tidak
lagi butuh dalil, akan tetapi kita tinggal memasuki keadaan shalat yang sebenarnya.
Diskusi kita sudah selesai dalam hal hukum-hukum berdzikir.
Manusia merupakan makhluq yang sempurna … sehingga diangkat sebagai wakil
Tuhan di muka bumi ini. Biarpun sebagian besar orang tidak mengerti banyak
tentang sifat sebenarnya dari diri sendiri. Dalam susunan fisik, mental dan
kerohaniannya terdapat sifat yang tertinggi maupun terendah. Didalam tulang-tulang
terdapat kehidupan bersifat mineral, badan dan darahnya benar-benar
mengandung bahan mineral. Kehidupan fisik badan manusia mirip dengan kehidupan
tanaman. Banyak keinginan /nafsu fisik serta emosi mirip dengan yang dimiliki oleh
binatang. kemudian manusia mempunyai seperangkat sifat mental yang menjadi
miliknya, dan tidak dimiliki oleh binatang yang bersifat rendah. Selain itu masih ada
sifat lebih tinggi yang dimiliki oleh sebagian orang yang
lebih maju kerohaniannya, meskipun masih terdapat daya kemauan yaitu daya sang
"Aku", yang merupakan daya yang diterima (ditiupkan) dari Yang Maha Mutlak.
Benda-benda fisik dan mental tersebut adalah milik manusia, dan bukannya manusia
itu sendiri. Sebelum manusia ("Aku") dapat menguasai atau mengalahkan, dan
mengarahkan benda yang menjadi miliknya yaitu alat dan instrumennya terlebih
dahulu ia harus menyadari dirinya secara benar. Ia harus dapat membedakan mana
yang merupakan Aku dan mana yang merupakan alat atau milik Aku, dapat
membedakan mana yang Aku dan mana yang bukan Aku. Inilah tahapan pertama
yang harus disadari.
Katakan bahwa Ruh itu adalah dari amar-amar-Ku … Aku adalah ruh yang ditiupkan
kedalam tubuh yang terbuat dengan komposisi kosmos yang sempurna setelah
diberi bentuk. (QS 15:28-29) … sang aku bersifat abadi - tidak bisa mati -tidak bisa
rusak. Ia memiliki kekuasaan, kebijaksanaan dan kenyataan. Tetapi seperti halnya
seorang bayi yang kemudian menjadi dewasa, batin manusia tidak menyadari sifat
potensial yang tertidur dalam dirinya, dan tidak mengenal dirinya sendiri yang
sebenarnya. Bila diri sendiri yang sebenarnya sudah bangun, ia mengenal mana
yang disebut Aku dan mana yang bukan Aku sebagai dirinya sendiri atau Aku. Aku
inilah yang akan kembali kehadirat asalnya yaitu Inna lillahi wa inna ilaihi raji'uun.
Sesungguhnya Aku adalah berasal dari Allah dan kepada-Nya-lah Aku kembali….
Orang primitif dan orang beradab jarang menyadari "Aku" nya, rasa keakuan mereka
hanya merupakan kesadaran mengenai nafsu badani pemenuhan keinginan,
pemuasan kesenangan, memperoleh kenyamanan bagi dirinya. Bagian bawah dari
batin naluri merupakan tempat rasa keakuan orang-orang primitif. Bila seorang
primitif mengatakan "Aku", maka yang dimaksud adalah badannya. Badan
ini mempunyai perasaan, keinginan dan nafsu. Tetapi pikiran semacam itu terdapat
pula pada banyak orang yang mengaku beradab. Mereka menggunakan daya
pikirnya guna memenuhi nafsu dan keinginan fisiknya, padahal mereka sebenarnya
hidup dalam tingkat batin naluri. Tentu, setelah orang menjadi lebih beradab maka
perasaannya menjadi lebih halus, sedangkan orang primitif mempunyai perasaan
kasar. Yang perlu dicatat adalah, pikiran orang beradabpun masih diperbudak oleh
keinginan dan nafsu badannya.
Setelah manusia semakin tinggi tingkatannya, mulailah ia mempunyai konsep
tentang Aku nya yang lebih tinggi. Ia mulai menggunakan pikirannya dan akalnya,
maka ia pindah dari tingkat batin naluri ke tingkat batin mental - ia mulai
menggunakan kecerdasannya, ia mulai merasakan bahwa batinnya adalah lebih
nyata bagi dirinya dari pada badannya, bahkan kadang ia melupakan badannya
bila sedang terbenam dalam pemikiran secara serius.
Setelah kesadaran orang meningkat - yaitu kesadarannya berpindah dari tingkat
mental ke tingkat kerohanian - ia menyadari bahwa "Aku" yang sebenarnya adalah
sesuatu yang lebih tinggi dari pada pikiran, perasaan dan badan fisiknya, bahwa
semuanya ini dapat digunakan sebagai alat atau instrumennya. Pengetahuan ini
bukan merupakan pengertian saja, tetapi merupakan kesadaran yang khas, artinya
orang benar-benar merasakan sebagai Aku yang sebenarnya (sebagai bashirah).
Dalam kajian kali ini, kami coba menunjukkan kepada anda cara mengembangkan
atau membangkitkan kesadaran Aku yang fitrah. Ini merupakan amalan pertama
yang harus disadari, sebab kita tidak akan bisa melakukan pendekatan kepada Allah
kalau tidak menyadari hakekat diri yang hakiki. Seperti tujuan melakukan amalan
puasa dibulan ramadhan adalah mencapai fitrah (idul fitri,
kembali kepada fitrah yang mempunyai sifat suci seperti bayi yaitu diri yang sejati
atau "Aku").
Kesadaran `Aku" ini merupakan langkah pertama pada jalan menuju keadaan yang
disebut sebagai `penerang", merupakan realisasi hubungan dengan Yang Maha
Agung.
Latihan ini harus dipraktekkan, bukan sekarang saja tetapi diberbagai tahapan
perjalanan sampai anda memperoleh penerangan jiwa.
Memasuki Keadaan Dzikir (Patrap Pertama)
Bila mungkin, carilah tempat atau ruangan, yang terbebas dari gangguan, agar batin
anda merasa aman dan tenang. Duduklah yang enak agar anda dapat
mengendorkan otot-otot dan membebaskan ketegangan syaraf. Lepaskan
ketegangan dan biarkan otot-otot menjadi lemas, sampai terasa tenang dan damai
meresapi seluruh tubuh. Istirahatkan badan dan pasrahkan seluruh jiwa raga. Atau
lakukanlah dengan posisi berdiri, hal ini dilakukan untuk menghindari mudah terlena
dan tertidur …
Kondisi tersebut sangat baik bagi tahap permulaan praktek latihan, tetapi setelah
pengalaman hendaknya mampu melakukan pengendoran badan dan menenangkan
pikiran dimana pun dan kapanpun anda memerlukannya. Ingat bahwa keadaan dzikir
harus berada di bawah penguasaan kemauan yang keras. Didalam melakukan
praktek dzikir harus diterapkan pada waktu yang tepat dan atas kemauan sendiri.
Sadari bahwa Aku adalah hakiki nya manusia yang tidak pernah tidur - tidak mati -
abadi, ...selalu sadar tidak pernah mengalami sedih dan takut … Aku sang roh suci
(fitrah) yang mampu menembus alam mimpi, alam malakut dan alam uluhiyah…
Sekarang anda memasuki tahapan yang menyebabkan Aku merasa sebagai makhluk
mental. Kalau anda memejamkan mata anda akan merasakan dan bisa membedakan
mana Aku yang sebenarnya … disitu ada aku yang memperhatikan sensasi badan,
seperti misalnya : lapar, haus, sakit, sensasi yang menyenangkan, kesedihan. Anda
akan merasakan ternyata bukan aku sebenarnya yang lapar, sakit dan sedih, akan
tetapi itu adalah sensasi peralatan atau instrumen yang dimiliki oleh sang Aku. Anda
sebenarnya diluar atau diatas semua alat-alat tadi!! Maka dari itu anda harus
melepaskan diri anda dari yang bukan hakiki, agar tidak diombang-ambingkan oleh
peralatan anda sendiri. Sadari Aku adalah yang menguasai perasaan dan pikiran,
jadilah tuan atas diri anda … keluarlah anda seperti anda melepaskan baju, lalu
tinggalkan & jangan anda memikirkan semuanya itu. Karena peralatan anda
mempunyai batin naluri yang akan bergerak menurut fungsinya. Perhatikan saat
anda tidur … Aku anda meninggalkan tubuh anda tanpa harus memikirkan
bagaimana nantinya badanku, kenyataanya instrument tubuh bekerja menurut yang
dikehendaki oleh nalurinya sendiri.
Sadarkan sang Aku. Hubungkan dengan dzat yang Maha Mutlak ...hadirlah
dihadapan-Nya sebagaimana kesaksian Aku dialam `Azali...Panggillah …penuh
santun ya Allah … ya Allah … tundukkan jiwa anda dengan hormat … dan datanglah
kehadirat-Nya dengan terus memanggil ya Allah …ya Allah … timbulkan rasa cinta
yang dalam …hadirlah terus dalam dzikir … biarkan sensasi pikiran dan perasaan
melayang-layang …Sadarkan dan kembalikan bahwa Aku bukan itu semua … Aku
adalah yang menyaksikan semuanya … bersaksilah dengan mengucapkan dua
kalimat syahadat … sampaikan do'a salawat untuk Rasulullah .dan keluarganya.
Teruskan Aku melayang menembus semua alam-alam yang menghalangi, biarkan
Aku berjalan menuju Yang Maha tak Terhingga …
jangan perdulikan kebisingan diluar diri kita .. teruskan jangan berhenti sampai ada
sambutan … hingga dzikir anda akan berubah dengan sendirinya bukan dari rekayasa
pikiran … menjadi laa ilaaha illallah atau subhanallah ... Kalau sudah mencapai
keadaan seperti ini …dzikir anda ... akan terbawa saat anda bekerja … menyetir
mobil dan mengangkat takbir, saat shalat ataupun wudhu' …
Suasana dzikir terus membekas dan menyebabkan hati menjadi tenang luar biasa,
dzikir bukan lagi sebuah lafadz akan tetapi merupakan suasana ingat dan ihsan.
Apabila keadaan dzikir anda sudah terasa menyelimuti hati … pikiran … dan badan
anda, frekwensi getaran makin lama makin terasa … dan semakin kuat rasa
sambung kepada Allah. Hati anda semakin sensitif … mudah menangis … dan kadang
tidak bisa ditahan saat anda membaca Alqu'an dan shalat walaupun anda tidak
mengerti artinya.
SENSASI YANG BIASANYA MUNCUL SAAT BERDZIKIR
Ketika anda menghadirkan atau menghubungkan diri anda dengan Allah, tiba-tiba
muncul rasa haru … merinding …. Badan terasa agak berat dan bergoncang ….
seperti ada muatan getaran yang menyelimuti badan …semakin kuat hubungan anda
dengan Allah, maka akan semakin kuat getaran yang ditimbulkannya … biarkan
getaran itu mengalir …dengan getaran itulah anda tidak lagi
terganggu oleh pikiran dan khayalan yang melayang-layang … Adanya getaran
merupakan tanda kesambungan anda dengan Allah … biasanya anda tidak akan kuat
menahan tangis yang tiba-tiba muncul ….Kadang anda akan dituntun shalat
..dituntun berdzikir … dituntun bersujud. Biarkan jangan ditolak atau dilawan ...
pasrahkan saja dengan ikhlas. Anda tidak akan mengalami rasa penat,
capek dan jenuh walaupun itu terjadi berjam-jam lamanya. Sekalipun hal itu anda
lakukan pada waktu malam hingga pagi .. tubuh rasanya menjadi segar dan tidak
lemas ... bahkan terasa lebih rileks dan nyaman.
Semakin anda tekun berkomunikasi kepada Allah semakin halus getaran yang
muncul. anda mungkin menjadi heran tatkala anda agak sulit marah, hati anda lebih
terkendali tanpa ada penahanan atau pemaksaan. Hati menjadi lunak dan
menimbulkan perangai yang sangat lembut. Hati terus menerus berdzikir bukan dari
keinginan nafsu… dzikir itu muncul dari rasa Aku yang dalam… tiada
bisa dibendung ….rasanya seperti ditarik oleh rasa kesambungan yang sangat kuat.
kondisi seperti itu pikiran menjadi lemah tidak lagi liar seperti semula Nafsu menjadi
teredam dan istirahat …yang ada tinggal rasa atau getaran iman yang dalam dan
muncul tiada bisa dicegah…
PENEGASAN PATRAP PERTAMA
Praktekkan patrap pertama ini pada waktu-waktu senggang. Sebagai catatan:
sebaiknya dalam melakukan patrap hendaknya anda membersihkan dari hadast
besar dan kecil. Kemudian shalat sunnah dua rakaat.
Ambil posisi berdiri seperti hendak shalat menghadap kiblat …
Hubungkan rasa Ingat Anda kepada Allah ...
Timbulkan rasa rindu dan cinta kepada Allah ...
Hadirkan hati anda dan pasrahkan jiwa raga ...
Mohonlah bimbingan kepada-Nya …
Ya Allah Ampuni kami ….
Ya Allah Ajarkan kami dan bimbinglah kami didalam menuju makrifat kepada Engkau
Ya Allah lindungilah kami dari godaan nafsu dan syetan yang terkutuk
Bismillahirrahmanirrahiem……
Asyhadu anlaa ilaha ilallah wa asyhadu anna Muhammadarrasulullah
Allahumma shalli `ala Muhammad wa `ala aali Muhammad
Ya … Allah … Ya Allah …Ya Allah …Ya Allah …..
Ya Allah … Ya Allah …Ya Allah ...
(tidak perlu anda menghitung jumlah lafadz yang diucapkan ….)
Hantarlah jiwa Anda dengan nama Allah sampai anda mendapatkan sambutan ….
Apabila anda serius biasanya lebih cepat. Lakukanlah patrap ini setiap hari …
walaupun hanya sepuluh menit…Atau bisa
dilakukan sambil berjalan, diatas kendaraan, menjelang tidur sambil berbaring …
Tutuplah patrap dengan bersujud dan berdo'a
Mudah-mudahan anda mendapatkan bimbingan dari Allah Swt…. amin

Kamis, 26 Februari 2009

Membuka Hijab

Istilah hijab sebenarnya baru muncul setelah orang mulai serius mendalami
pengetahuan tentang ma'rifatullah, segala cara amalan ibadah diterapkan untuk
memudahkan sampainya seseorang kepada tingkat mukhlasin. Yaitu orang yang
benar-benar berada dalam keadaan rela dan menerima Allah sebagai Tuhannya
secara transenden. Amalan amalan ibadah yang mereka lakukan merupakan
kutipan-kutipan perintah ibadah sunnah maupun yang wajib. Sehingga mereka
menyakininya bahwa mutiara-mutira Al Qur'an itu memang benar adanya.
Hijab adalah tirai penutup, didalam ilmu tasawuf biasa disebut sebagai penghalang
lajunya jiwa menuju Khaliknya. Penghalang itu adalah dosa-dosa yang setiap hari
kita lakukan. Dosa merupakan kabut yang menutupi mata hati, sehingga hati tidak
mampu melihat kebenaran yang datang dari Allah. Nur Allah tidak bisa ditangkap
dengan pasti. Dengan demikian manusia akan selalu berada dalam keragu-raguan
atau was-was. Didalam bab ini saya tidak membahas masalah dosa seperti apa yang
saya sebut diatas. Karena ketertutupan atau terhijabnya kita atas keberadaan Allah
disebabkan ketidak tahuan (kebodohan) dan sangkaan (dzan) akan Allah yang
keliru. Maka dari itu saya hanya ingin membuka wawasan dalam hal ketidaktahuan
kita akan Allah, yaitu jawaban-jawaban Allah atas pertanyan kita selama ini
Seperti yang pernah saya katakan pada artikel bab hati, bahwa hati merupakan
pusat dari segala kemunafikan, kemusyrikan, dan merupakan pusat dari apa yang
membuat seorang manusia menjadi manusiawi. Dan pusat ini merupakan tempat
dimana mereka bertemu dengan Tuhannya. Merupakan janji Allah saat fitrah
manusia menanyakan dimanakah Allah? Lalu, Allah menyatakan diri-Nya berada
"sangat dekat", sebagaimana tercantum dalam Al Qur'an :
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang "Aku" maka (jawablah)
Bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a
apabila berdo'a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-
Ku) dan hendaklah mereka itu beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam
kebenaran " (QS 2:186)
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang
dibisikkan oleh hatinya dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya (QS
50:16)
Pertanyaan tentang keberadaan Allah sering kali kita mendapatkan jawaban yang
tidak memuaskan, bahkan kita mendapatkan cemoohan sebagai orang yang terlalu
mengada-ada. Menanyakan keberadaan "Tuhanku" adalah merupakan pertanyaan
fitrah seluruh manusia.
Allahpun mengetahui akan hal ini, sehingga Allah memberikan jawaban atas
pertanyaan hamba-hamba-Nya melalui Rasulullah.
Didalam ayat-ayat di atas, mengungkapkan keberadaan Allah sebagai "wujud" yang
sangat dekat. Dan kita diajak untuk memahami pernyataan tersebut secara utuh.

Maka dari itu jawaban atas pertanyaan "dimanakah Allah?". Al Qur'an
mengungkapkan jawaban secara dimensional. Jawaban-jawaban tersebut tidak
sebatas itu, akan tetapi dilihat dari perspektif seluruh sisi pandangan manusia
seutuhnya. Saat pertanyaan itu terlontar "dimanakah Allah ", Allah menjawab
"….Aku ini dekat ", kemudian jawaban meningkat sampai kepada "Aku lebih dekat
dari urat leher kalian…atau dimana saja kalian menghadap disitu wujud wajah-Ku
….dan Aku ini maha meliputi segala sesuatu."
Keempat jawaban tersebut menunjukkan bahwa Allah tidak bisa dilihat hanya dari
satu dimensi saja, akan tetapi Allah merupakan kesempurnaan wujud-Nya, seperti
didalam firman Allah :
"Ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keragu-raguan tentang
pertemuan dengan Tuhan mereka. ingatlah bahwa sesungguhnya Dia maha meliputi
segala sesuatu. (QS 41:54)
"Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap
disitulah wajah Allah maha luas lagi maha mengetahui" (QS 2:115)
Sangat jelas sekali bahwa Allah menyebut dirinya "Aku" berada meliputi segala
sesuatu, dilanjutkan surat Al Baqarah ayat 115 ..dimana saja engkau menghadap
disitu wajah-Ku berada!!! Kalau kita perhatikan jawaban Allah, begitu lugas dan
tidak merahasiakan sama sekali akan wujud-Nya.
Namun demikian Allah mengingatkan kepada kita bahwa untuk memahami atas ilmu
Allah ini tidak semudah yang kita kira. Karena kesederhanaan Allah ini sudah dirusak
oleh anggapan bahwa Allah sangat jauh. Dan kita hanya bisa membicarakan Allah
nanti di alam surga. Untuk mengembalikan dzan kita kepada pemahaman seperti
yang diungkap oleh Al Qur'an tadi, kita hendaknya memperhatikan peringatan Allah,
bahwa Allah tidak bisa ditasybihkan (diserupakan) dengan makhluq-Nya.
Didalam kitab tafsir Jalalain ataupun didalam tafsir fi dzilalil qur'an, membahas
masalah surat Fushilat ayat 54, … Allah meliputi segala sesuatu … adalah ilmu atau
kekuasaan-Nya yang meliputi segala sesuatu, bukan dzat-Nya.
Pendapat ini merupakan tafsiran ulama, untuk mencoba menghindari kemungkinan
masyarakat awam mentasybihkan (menyerupakan) wujud Allah dengan apa yang
terlintas didalam fikirannya ataupun perasaannya. Sehingga "Allah" sebagai wujud
sejati ditafsirkan dengan sifat-sifat Nya yang meliputi segala sesuatu. Untuk itu,
saya huznudzan memahami pemikiran para mufassirin sebagai pendekatan ilmu dan
membatasi pemikiran para awam.
Akan tetapi kalau "Allah" ditafsirkan dengan sifat-sifat-Nya, yang meliputi segala
sesuatu. Akan timbul pertanyaan, kepada apanya kita menyembah? Apakah kepada
ilmunya, kepada kekuasaan-Nya atau kepada wujud-Nya? Kalau dijawab dengan
kekuasan-Nya atau dengan ilmu-Nya maka akan bertentangan dengan firman Allah :
"Sesungguhnya Aku ini Allah , tidak ada tuhan kecuali "Aku", maka sembahlah "Aku"
(QS 20:14)
Ayat ini menyebutkan "pribadinya" atau dzat Allah, kalimat … sembahlah "Aku". Ayat
ini menunjukkan bahwa manusia diperintahkan menghadapkan wajahnya kepada
wajah Dzat yang Maha Mutlak. Sekaligus menghapus pernyataan selama ini yang
justru menjauhkan "pengetahuan kita " tentang dzat, kita menjadi takut kalau
membicarakan dzat, padahal kita akan menuju kepada pribadi
Allah, bukan nama, bukan sifat dan bukan perbuatan Allah. Kita akan bersimpuh
dihadapan sosok-Nya yang sangat dekat.
Ungkapan tentang Tuhan, juga disebut sebagai dalil pertama yang menyinggung
hubungan antara dzat, sifat, dan af'al (perbuatan) Allah. Diterangkan bahwa dzat
meliputi sifat … sifat menyertai nama … nama menandai af'al. Hubungan-hubungan
ini bisa diumpamakan seperti madu dengan rasa manisnya, pasti tidak dapat
dipisahkan. Sifat menyertai nama, ibarat matahari dengan sinarnya, pasti tidak bisa
dipisahkan. Nama menandai perbuatan, seumpama cermin, orang yang bercermin
dengan bayangannya, pasti segala tingkah laku yang bercermin, bayangannya pasti
mengikutinya. Perbuatan menjadi wahana dzat, seperti samudra dengan ombaknya,
keadaan ombak pasti mengikuti perintah samudra.
Uraian di atas menjelaskan, betapa eratnya hubungan antara dzat, sifat, asma, dan
af'al Tuhan. Hubungan antara dzat, dan sifat ditamsilkan laksana hubungan antara
madu dan rasa manisnya. Meskipun pengertian sifat bisa dibedakan dengan
dzat..namun keduanya tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya.
Kalimat …. Allah meliputi segala sesuatu (QS 41:54) adalah kesempurnaan ..dzat ,
sifat, asma, dan af'al. Sebab kalau hanya disebut sifatnya saja yang meliputi segala
sesuatu, lantas ada pertanyan, "sifat" itu bergantung kepada apa atau siapa ? Jelas
akan bergantung kepada pribadi (Aku) yang memiliki sifat. Kemudian kalau sifat
yang meliputi segala sesuatu, kepada siapakah kita menghadap? Kepada Dzat atau
sifat Allah. Kalau sifat Allah sebagai obyek ibadah kita, maka kita telah tersesat,
sebab sifat, asma dan perbuatan Allah bukanlah sosok dzat yang Maha Mutlak itu
sendiri.
Semua selain Allah adalah hudust (baru),.karena "adanya" sebagai akibat adanya
sang Dzat. seperti adanya alam, adanya malaikat, adanya jin dan manusia. Semua
ada karena adanya dzat yang maha qadim. Seperti perumpamaan madu dan
manisnya, sifat manis tidak akan ada kalau madu itu tidak ada. Dan sifat manis itu
bukanlah madu. Sebaliknya madu bukanlah sifat manis. Artinya sifat manis
tergantung kepada adanya "madu". Apakah Dzat itu, … seperti apa? Apakah ada
orang yang mampu menjabarkan keadaannya ?
Singkat kata, dualitas berkaitan dengan sifat diskursus manusia tentang Tuhan.
Untuk bisa memahami Tuhan, kita harus mengerti keterbatasan-keterbatasan
konsepsi kita sendiri, karena menurut perspektif ketakperbandingan tak ada yang
bisa mengenal Allah kecuali Allah sendiri!!! Karena itu kita punya pengertian tentang
Tuhan, "Tuhan" konsepsi saya dan "Tuhan" konsepsi hakiki, yang berada jauh diluar
konsepsi saya. Tuhan yang dibicarakan berkaitan dengan "konsepsi saya". Konsepsi
Dzat yang hakiki tidak bisa kita fahami, baik oleh saya maupun anda. Karena itu kita
tidak bisa berbicara tentangnya secara bermakna. bagaimana kita bisa memahami
tentang Dia, sedang kata-kata yang ada hanya melemparkan kita keluar dari seluruh
konsepsi manusia. Seperti, Al awwalu wal akhiru (Dia yang Awal dan yang akhir),
Dia yang tampak dan yang tersembunyi (Al dhahiru wal bathinu), cahaya-Nya tidak
di timur dan tidak di barat (la syarkiya wa la gharbiya), tidak laki-laki dan tidak tidak
perempuan, tidak serupa dengan ciptaan-Nya dst….
Kenyataan Tuhan tidak bisa dikenal dan diketahui berasal dari penegasan dasar
tauhid `laa ilaha illallah atau laisa ka mistlihi syai'un' (tidak sama dengan sesuatu).
Karena tuhan secara mutlak dan tak terbatas benar-benar dzat maha tinggi,
sementara kosmos berikut segala isinya hanya secara relatif bersifat hakiki, maka
realitas Ilahi berada jauh diluar pemahaman realitas makhluq. Dzat yang maha
mutlak tidak bisa dijangkau oleh yang relatif.
Kita dan kosmos (alam) berhubungan dengan tuhan melalui sifat-sifat Ilahi yang
menampakkan jejak-jejak dan tanda-tandanya dalam eksistensi kosmos. Kita tidak
bisa mengenal dan mengetahui Tuhan dalam dirinya sendiri, tetapi hanya sejauh
Tuhan mengungkapkan diri-Nya melalui kosmos (sifat, nama, af'al). Firman Allah:
"Dialah Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia, Dia mempunyai nama-nama yang
yang indah "(QS 20:8)
Sifat, nama, dan af'al, secara relatif bisa dirasakan dan difahami "maknanya". Akan
tetapi "Dzat", adalah realitas mutlak. Dan untuk memahami secara hakiki harus
mampu memfanakan diri, ... yaitu memahami keberadaan makhluq adalah tiada….
Untuk lebih jelasnya akan saya berikan perumpamaan keberadaan alam dan yang
menciptakan.
Ketika kita melihat kereta api berjalan diatas rel, terbetik dibenak kita suatu
pertanyaan. Bagaimana roda-roda yang berat itu bisa bergerak dan lari. Tak lama
kemudian kita akan sampai kepada pemikiran tetang alat-alat dan mesin-mesin
itulah yang menggerakkan roda yang berat itu. Adakah setelah itu kita dibenarkan
jika berpendapat bahwa alat kereta itu sendiri yang menggerakkan kereta tersebut.
Perkaranya tidak semudah itu, sebab kita tidak boleh mengabaikan bahwa disana
ada masinis yang mengendalikan mesin. Kemudian ada insinyur yang menciptakan
rancangan dan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan, maka pada hakekatnya tak
ada wujud bagi kereta itu, dan tidaklah mungkin terjadi gerakan dan perputaran
pada roda-roda tanpa kerja insinyur. Mesin-mesin itu bukanlah akhir dari cerita
sebuah kereta api, akan tetapi hakikat yang paling akhir adalah "akal" yang telah
mengadakan mesin itu, kemudian menggerakkan menurut rencana yang telah
dipersiapkan.
Mengikuti ilustrasi realitas kereta api, mulai dari gerbong yang digerakkan oleh rodaroda,
kemudian roda-roda digerakkan oleh mesin, mesin digerakkan oleh masinis,
dan semua itu direncanakan, oleh yang menciptakan yaitu insinyur. Pertanyaan
terakhir adalah : "Mungkinkah roda-roda, mesin, dan alat-alat kereta api itu mampu
melihat yang menciptakan?" Jawabannya adalah insinyur itu sendiri yang
mengetahui akan dirinya, sebab kereta api dan insinyur berbeda keadaan dan bukan
perbandingan….
Realitas instrumen kereta api tidak ada satupun yang serupa jika dibandingkan
dengan keadaan realitas insinyur. Kemudian mengetahui keadaan realitas kereta api
dari awal sampai akhir, merupakan kefanaan atau penafian bahwa realitas kereta api
adalah ciptaan semata.
Firman Allah :
"(yang memiliki sifat-sifat yang..) Demikian itu ialah Tuhan kamu. Tidak ada Tuhan
selain Dia. pencipta segala sesuatu maka sembahlah Dia, dan Dia adalah pemelihara
segala sesuatu. Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat
melihat segala yang kelihatan. Dan Dialah yang maha halus lagi maha mengetahui" (
QS 6:102-103)
Realitas bahwa Dzat tuhan tidak bisa dibandingkan dengan sesuatu (QS 26:11) ...
berlaku sampai diakhirat kelak. Walaupun Tuhan sendiri mengatakan bahwa manusia
di alam surga akan melihat realitas Tuhan secara nyata atas eksistensi Allah, bukan
berarti kita melihat dengan perbandingan pikiran manusia … yang dimaksud melihat
secara hak disini adalah kesadaran jiwa muthmainnah yang telah lepas dari ikatan
alam atau kosmos.
Atau biasa disebut "fana", keadaan ini manusia dan alam seperti keadaan sebelum
diciptakan yaitu keadaan masih kosong 'awang uwung' (jawa), kecuali Allah sendiri
yang ada. Tidak ada yang mengetahui keadaan ini kecuali Allah sendiri.
Keadaan awal (Al Awwalu) tidak ada yang wujud selain Allah, tidak ada ruang, tidak
ada waktu, tidak ada alam apapun yang tercipta. Untuk mengetahui keadaan seperti
ini marilah kita ikuti kisah nabi Musa As. Firman Allah :
"Dan tatkala Musa datang (untuk munajat) dengan Kami, pada waktu yang telah
Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya. Berkatalah Musa :
ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku. Agar aku dapat melihat kepada
Engkau. Tuhan berfirman: kamu sekali-sekali tidak sanggup melihat-Ku, tetapi
melihat-lah ke bukit itu, maka jika ia tetap ditempatnya (sebagaimana sediakala)
niscaya kamu dapat melihat-Ku. Tatkala Tuhannya nampak bagi gunung itu,
kejadian itu menjadikan gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan, maka
setelah Musa sadar kembali dia berkata. Maha Suci Engkau, dan aku bertaubat
kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman …" (QS 7:143)
Ada yang menarik dalam peristiwa "pertemuan" nabi Musa ... dan saya hubungkan
dengan pembahasan mengenai keadaan "kefanaan" manusia dan alam. Yakni
keadaan hancur luluh lantak keadaan gunung Thursina dan keadaan Musa jatuh
pingsan!!! Setelah gunung itu hancur dan Musa-pun jatuh pingsan, tidak satupun
yang terlintas realitas apapun didalam perasan Musa dan fikirannya, kecuali ia tidak
tahu apa-apa. Yaitu realitas konsepsi manusia dan alam tidak ada (fana). Dalam
keadaan inilah Musa melihat realita Tuhan, bahwa benar Tuhan tidak bisa
dibandingkan oleh sesuatu apapun. Kemudian Musa kembali sadar memasuki realitas
dirinya sebagai manusia dan alam. Musa berkata :aku orang yang pertama-tama
beriman..dan percaya bahwa Allah tidak seperti konsepsi "saya".
Setelah kita mengetahui dan faham akan Dzat, sifat, dan af'al Allah, teranglah fikiran
dan batin kita, sehingga secara gamblang kedudukan kita dan Allah menjadi jelas,
yaitu yang hakiki dan yang bukan hakiki. Terbukalah mata kita dari ketidaktahuan
akan Dzat. Ketidaktahuan inilah yang saya maksudkan dengan tertutupnya hijab,
sehingga perlu disadarkan oleh kita sendiri dan kemudian mengenal-Nya (ma'rifat)
Syekh Ahmad bin `Athaillah, didalam Al Hikam menyebutkan bahwa :
"Tiada sesuatu benda yang menghijab engkau dari Allah, tetapi yang menghijab
engkau adalah persangkaanmu adanya sesuatu disamping Allah, sebab segala
sesuatu selain dari Allah itu pada hakikatnya tidak maujud (tidak ada) sebab yang
wajib ada hanya Allah, sedang yang lainnya terserah kepada belas kasihan Allah
untuk diadakan atau ditiadakan".
Seorang arif berkata : "Adanya makhluq semua ini bagaikan adanya bayangan
pohon di dalam air. Maka ia tidak akan menhalangi jalannya perahu. Maka hakikat
yang sebenarnya tiada sesuatu benda apapun yang maujud disamping Allah untuk
menghijab engkau dari Allah. Hanya engkau sendiri mengira bayangan itu sebagai
sesuatu yang maujud."
Ibarat seseorang yang bermalam disuatu tempat, tiba-tiba pada malam hari ketika ia
akan buang air, terdengar suara angin yang menderu masuk lobang sehingga persis
sama dengan suara harimau, maka ia tidak berani keluar. Tiba pada pagi hari ia
tidak melihat bekas-bekas harimau, maka ia tahu bahwa itu hanya tekanan angin
yang masuk ke lobang, bukan tertahan oleh harimau, hanya karena perkiraan
adanya harimau.
Sang Syekhk berkata : "andaikan Allah tidak dhahir pada benda-benda alam ini,
tidak mungkin adanya penglihatan pada-Nya. Dan andaikan Allah tidak
mendhahirkan sifat-sifat-Nya, pasti lenyaplah alam benda-benda. Ketika Allah
bertajalli kepada gunung, hancurlah gunung itu, sedang Musa jatuh pingsan … "
Pertanyaan demi pertanyaan timbul dari ketidaktahuan (hijab), kenyataaan bahwa
Allah sangat dekat … tertutup oleh kebodohan ilmu kita selama ini. Allah seakan jauh
diluar sana …sehingga kita tidak merasakan kehadiran-Nya yang terus menerus
berada dalam kehidupan kita. Dari keterangan diatas menyimpulkan bahwa kita
ternyata telah salah kaprah mengartikan sosok dzat selama ini, yang kita sangka
adalah konsepsi "saya", bukan konsepsi hakiki, yaitu wujud yang tak terbandingkan
oleh perasaan, pikiran , mata hati, dan seterusnya. Allah kita adalah Allahnya Musa,
... Allahnya Ibrahim, ... dan Allahnya Muhammad … yaitu yang Maha tak terjangkau
oleh apapun…
Kini saatnya kita bertakbir tertuju kepada dzat …bukan kepada sifat … (fa' bud nii)
sembahlah AKU …, sehingga fanalah "diri" dan semesta.
Tafakkur dan Meditasi Transendental
Setelah kita mengetahui dan mengenal Allah secara ilmu, maka semakin mudahlah
kita untuk memulai berkomunikasi dan berjalan menuju kepada-Nya. Kita telah
meyakini bahwa kita akan kembali kepada-Nya sekarang ... bukan besok !
Firman Allah :
"Hai manusia, sesungguhnya engkau berusaha sungguh-sungguh menuju kepada
Tuhanmu, maka engkau akan menemuinya". (QS 84:6)
"ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keragu-raguan tentang
pertemuan dengan tuhan mereka. Ingatlah bahwa Allah maha meliputi segala
sesuatu". (QS 41:54).
Didalam ayat lain dikatakan, bahwa shalat itu adalah pekerjaan yang amat sulit,
kecuali bagi orang yang khusyu'. Siapakah orang yang khusyu' itu, ialah orang yang
mempunyai sangkaan bahwa ia akan bertemu dengan Allah dan mereka adalah
orang yang kembali kepada Allah. Rajiun artinya; orang yang kembali
(kedudukannya sebagai fa'il), bukan yang akan kembali.
Kekhusyu'an shalat dan ibadah-ibadah yang lainnya tidak akan bisa dicapai, kalau
kita tidak mengerti ilmu tauhid, yaitu mengerti akan Allah secara hakiki. Dasar
tauhid inilah yang menjadi bekal kita untuk menuju tawajjuh kepada Allah, dan
merupakan jalan yang membedakan dari peribadatan-peribadatan agama lain selain
Islam.
Pada tatanan fenomena fisik dan psikis, mungkin kita akan mengalami kesamaan
dengan perjalanan meditator … penyembuh, pastor, atau pendeta … biksu yang
tekun beribadah … atau kadang juga sama dengan penggali spiritual yang tidak
menggunakan pengertian ke-Tuhanan sama sekali …
Pengalaman-pengalaman ini bukanlah penentu sebuah kebenaran spiritual tertentu.
Akan tetapi hal ini, seperti keadaan ilmu-ilmu yang lainnya yang bersifat universal,
seperti perasaan rindu …cinta … sedih … bahagia dan ketenangan. Keadaan ini bisa
disebut sebagian dari pengalaman perasaan rohani. Yang tidak bisa kita klaim
sebagai milik orang Islam saja..atau orang kristen ... dan yang lain.
Banyak pendeta yang berdoa di gereja memohon kesembuhan bagi si penderita sakit
parah ... ia bisa sembuh …pendeta Budha pun demikian ... dan tidak sedikit pula dari
kalangan Islam yang bukan kyai bisa berdoa untuk yang sakit, ... iapun bisa
sembuh.
Dari sudut pandang psikolgi modern, tafakkur termasuk bagian dari psikologi
berfikir. Lapangan sentral kajian psikologi tradisional pada masa-masa sebelum
aliran behaviorisme mendominasi psikologi. Pada masa-masa awal, psikologi banyak
terfokuskan pada studi sekitar pikiran, kandungan perasaan, dan bangunan akal
manusia. Pembahasan masalah belajar hanya dikaji melalui tema-tema tersebut,
kemudian muncul aliran behaviorisme dengan konsep-konsepnya yang terkenal.
Aliran ini, akhirnya mengubah secara besar-besaran pandangan-pandangan
sebelumnya, kemudian menempatkan kajian mengenai proses belajar manusia,
melalui rangsangan dan respon yang timbul, menjadi tema utama psikologi.
Perasaan, kandungan akal, dan pikiran dianggap sebagai masalah yang tidak dapat
dijangkau dan dipelajari secara langsung, sebagaimana juga metode yang dipakai
untuk mempelajarinya, seperti metode intropeksi, dikritik karena tidak dapat
dibuktikan secara empiris. Para penganut faham behaviorisme menginginkan
psikologi sebagai ilmu empiris berdasarkan fenomena-fenomena lahiriah yang dapat
dikaji dilaboratorium. Menurut mereka, segala kegiatan kognitif dan perasaan yang
ada dan terjadi dalam benda-benda hidup merupakan akibat dari interaksinya
dengan pengaruh-pengaruh tertentu.
Kegiatan-kegiatan "pikiran dalam" itu, mereka anggap sebagai suatu peti terkunci
yang bagian dalamnya tidak mungkin diketahui dengan jelas. Karena itu, tidak perlu
menghabiskan waktu untuk mempelajarinya. Adapun berbagai respon dan
tanggapan yang timbul akibat kegiatan dalam yang dapat diukur dan diamati,
merupakan pusat perhatian kajian ilmiah empiris mereka.
Hal yang lebih pelik dan kompleks bagi kita, orang Islam, adalah bahwa salah satu
unsur pembentukan perilaku manusia terpenting telah ditinggalkan oleh psikologi
barat modern, meskipun banyak penemuan modern telah membuktikan pentingnya
unsur tersebut, yaitu unsur spiritual. Psikologi modern hanya berpegang pada unsur
psikologis, biologis sosial dan kultural sebagai unsur-unsur pembentukan perilaku
manusia, dengan alasan, mudah didefinisikan jika dibandingkan dengan sisi spiritual.
Selain itu, ia juga menolak segi spiritual karena dianggap tumbuh dari pandangan
agama.
Sebagian kalangan Islam juga menolak pentingnya tafakkur, yang merupakan unsur
penting dari suatu agama disamping tatanan hukum syariat. Mereka menganggap
perbuatan itu adalah bid'ah.
Awal dari segala perbuatan adalah kegiatan berfikir dan kognitif dialam sadar.
Berdasarkan hal itu, orang selalu berfikir panjang dan mendalam atau bertafakur
sehingga dengan mudah melaksanakan segala ibadah dan ketaatan lainnya. Dalam
hal ini Al Ghazaly dalam Ihya'nya mengatakan: "Jika ilmu sudah sampai dihati,
keadaan hati akan berubah, jika hati sudah berubah, perilaku anggota badan akan
berubah. Perbuatan mengikuti keadaan (hal), keadaan mengikuti ilmu, dan ilmu
mengikuti pikiran, oleh karena itu pikiran adalah awal dan kunci segala kebaikan,
dan yang menyingkapkan keutamaan tafakkur. Pikiran lebih baik daripada dzikir,
karena pikiran adalah dzikir plus". (Abu Hamid Al Ghazaly, Ihya' ulumuddin jilid IV
hal. 389)
Sebagaimana kegiatan berfikir adalah kunci kebaikan dan amal shaleh, ia juga
merupakan segala perbuatan lahir dan batin. Oleh karena itu, hati yang selalu
merenung atau bertafakkur tentang ketinggian dan keagungan Allah Swt, serta
memikirkan kehidupan akhirat, akan dapat membongkar dengan mudah niat-niat
jahat yang terlintas dalam benaknya. Karena, ia memiliki kepekaan dan ketajaman
sebagai hasil dzikir dan tafakkurnya yang berkesinambungan itu. Setiap kali terlintas
suatu niat jahat atau buruk kedalam hati, maka pikiran, perasaan dan pandangan
baiknya dapat segera mengetahui dan menguasainya, lalu menghancurkan
keberadaannya. Seperti anggota badan yang sehat dapat menolak dan
menghancurkan penyakit yang mencoba menghinggapinya.
Seorang yang alim yang menyambung malam dan siang dengan tafakkur tentang
keagungan Allah, tentang kehidupan dunia dan akhirat adalah seorang yang terjaga.
Manakala terlintas sedikit saja niat jelek yang mencoba menghampirinya, api
kebaikan akan menghantamnya atau membakarnya, seperti lemparan api yang
menjaga langit dari intaian syetan yang hendak mencuri pendengaran;
"sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka ditimpa was-was dari
syetan, mereka mengingat Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahankesalahannya"
(QS 7:201)
Jadi, tafakkur memanfaaatkan segala fasilitas pengetahuan yang digunakan manusia
dalam proses berfikir. Tafakkur adalah menerawang jauh dan menerobos alam dunia
kedalam alam akhirat, dari alam ciptaan menuju kepada pencipta. Loncatan inilah
yang disebut al ibrah, melihat jauh sarat pengetahuan.
Berfikir kadang hanya terbatas, pada upaya memecahkan masalah-masalah
kehidupan dunia, yang mungkin terlepas dari emosi kejiwaan, sedang tafakkur dapat
menerobos sempitnya dunia ini menuju alam akhirat yang luas, keluar dari belenggu
materi menuju alam spiritual yang tiada batas. Mungkin hal ini yang dimaksudkan
oleh psikolog sebagai kecerdasan jiwa yang hebat.
Tafakkur dapat menggerakkan semua kegiatan kognitif serta pikiran dalam dan luar
seorang mukmin. Dr. Malik Badri, ahli psikoterapi dari Sudan berpendapat,
perwujudan tafakkur memiliki dan melalui tiga fase dan berakhir pada fase keempat,
yang disebut istilah "syuhud". Diawali dengan pengetahuan yang didapat dari
persepsi empiris yang langsung. Melalui alat pendengaran, alat raba, atau alat indra
lainnya. Atau dengan tidak langsung, seperti pada fenomena imajinasi, atau kadang
pengetahuan rasional yang abstrak. Sebagian besar pengetahuan ini tidak ada
hubungannya dengan emosi atau sentimen.
Kalau seseorang memperdalam cara melihat dan mengamati sisi keindahan,
kekuatan, keistimewaan lainnya yang dimiliki sesuatu, berarti ia telah berpindah dari
pengetahuan dingin menuju rasa kekaguman akan keagungan ciptaan, susunannya
rapi, pemandangannya yang indah. Fase ini adalah fase kedua, fase tempat
bergejolaknya perasaan. Kalau dengan perasaan ini ia berpindah menuju sang
pencipta dengan penuh kekhusyu'an sehingga dapat merasakan kehadiran Allah dan
sifat-sifat-Nya yang tinggi, berarti ia sudah berada pada fase ketiga. Sekadar dapat
memandang dan menyaksikan ciptaan-Nya tidak lebih dari fase awal yang primitif,
pada fase ini antara pandangan seorang mukmin dan orang kafir tidak ada bedanya.
Fase kedua, yaitu fase tadhawwuk, pengungkapan rasa kekaguman terhadap ciptaan
atau susunan alam yang indah, fase ini dapat dirasakan, baik oleh orang mukmin
maupun oleh orang kafir, tanpa mellihat sisi keimanan atau sisi kekufuran. Akan
tetapi, pada fase pengetahuan ketiga yang menghubungkan antara perasaan akan
keindahan ciptaan dan kerapian tatanan alam dengan penciptanya yang maha agung
dan maha tinggi, merupakan nikmat besar yang hanya dapat dirasakan oleh orang
mukmin.
Fase-fase tersebut merupakan perjalanan yang akan dialami oleh setiap orang yang
melakukan tafakkur. Pada fase-fase ini adakalanya orang hanya sampai kepada
keadaan primitif yaitu fenomena alam, baik yang kasat mata maupun yang abstrak
(ghaib), yang oleh orang tertentu dimanfaatkan untuk melihat (kasyaf), yang lebih
halus, pengobatan, dan kekuatan yang luar biasa.
Sarana - sarana Tafakkur
Di dalam fenomena meditasi transendental pemusatan fikiran dengan mengulangulang
suatu gambaran pikiran tertentu atau makna suatu keyakinan (dzikir, mantra)
memiliki nilai besar bagi orang yang melakukannya. Hal ini akan menghantarkannya
pada angan-angan atau gambaran yang sangat dalam dan pada konsep-konsep baru
tentang sesuatu obyek pikir atau meditasi, lalu naik pada tingkatan bayangan dan
gambaran yang paling sulit didapat dalam kehidupan rutin yang terbatas. Oleh
karena itu pengalaman ini disebut meditasi transendental.
Pada mulanya tafakkur, meditasi transendental berlaku universal, pengalamanpengalaman
serta pengaruh yang dirasakan sama, apakah itu metode yang yang
digagas oleh Hindu, Budha, Kristen dan Islam. Diantaranya yang dilakukan dalam
meditasi ialah, pengosongan pikiran dan melupakan segala keruwetan dalam benak
yang dapat mengganggu proses meditasi dan konsentrasi pada obyek meditasi. Ia
harus kembali mengonsentrasikan pikiran pada "apa" yang ia pilih sebagai obyek
pikiran dan meditasinya. Ia harus mengambil posisi duduk pasif yang rileks. Latihan
ini harus selalu diulang-ulang, sehingga hari demi hari meditasi dan berfikirnya
menjadi lebih dalam, badan terasa lebih ringan, fikiran menjadi bersih, jiwa menjadi
sangat luas tak terbatas. Bersamaan dengan itu, hilang pula segala perasaan gelisah
,sedih, galau, dan segala gangguan jasmani yang dirasakan sebelumnya.
Seorang mukmin akan mudah menemukan cara meditasi semacam ini, karena
metode ini memiliki kesamaan yang jelas dengan proses tafakkur tentang penciptaan
langit dan bumi yang disertai dzikir dan bertasbih kepada obyek yang maha tak
terjangkau yaitu Allah, baik berdiri, duduk rileks, berbaring. Kesamaannya terletak
pada upaya pengkonsentrasian pikiran pada obyek tertentu, ada yang menggunakan
patung, irama musik, roh suci, mantra-mantra suci, dan membayangkan wujud
syekh atau guru pembimbing spiritual. tujuannya adalah upaya melepaskan atau
menjauhkan dari pengaruh yang mengganggu konsentrasi, keruwetan angan-angan
fikiran, perasaan, ataupun kebisingan dan keramaian.
Keduanya juga sejalan dalam hal latihan,proses melihat dan mengulang kata-kata
(dzikir), atau makna obyek meditasi. Oleh karena, itu seseorang yang bertafakkur
bertasbih, dan bermeditasi dapat menangkap makna dan pengetahuan baru yang
sebelumnya tidak terlintas dalam hati. Keduanya mengunakan kedalaman tafakkur
untuk membersihkan pengetahuan lahiriah dari belenggu penjara rutinitas kehidupan
material menuju kebebasan menatap lepas keatas, menuju pengetahuan yang luas
tak terbatas.
Kita akan berada di luar badan kecil ini, menjadi jiwa yang tidak terikat, mempunyai
keluasan wujud dan kemampuan "melihat tanpa bola mata", "mendengar tanpa daun
telinga" dan merasakan keuniversalan jiwa yang tak terbatas oleh waktu dan ruang.
"Inilah jiwa" yang memiliki "watak" yang sama dengan jiwa-jiwa lainnya; dimana hal
yang membedakan adalah "kemana akhir kembalinya jiwa".
Ada beberapa jalan yang digunakan orang untuk melakukan meditasi yaitu menatap
dengan pikiran kepada suatu obyek yang diyakininya. Serta sensasi yang
mempengaruhi terhadap perilakunya. Salah satu penelitian yang dilakukan oleh
Eckankar, didapatkan suatu sensasi yang terjadi pada pelaku meditator, dari seluruh
aliran spiritual yang ada di dunia. Eckankar menamainya kalam semesta Ilahi. Ada
jenis tahapan, serta kata-kata yang dijadikan sarana untuk tafakkur, jenis
pengelompokan, suasana yang dirasakan didalam spiritual, serta penjelasan dan
manfaatnya. (lampiran)
Eckankar membawa kesadaran kita menuju alam spiritual dan batasan-batasan yang
dicapai oleh para meditator. Betapa ia sangat teliti dan hati-hati dalam
mengungkapkan "keadaan" atau suasana yang dialami oleh spiritualis,
pengelompokan dan tahapan-tahapan agar menjadi "catatan" bagi para pemula
didalam menjalani "laku spiritual", terutama obyek apa yang digunakan dalam
menghantarkan jiwa kembali kepada eksistensi diri sejati.
Islam menempatkan "Allah" sebagai obyek yang tak terbandingkan merupakan
sarana membebaskan jiwa dari ikatan dan pengaruh alam yang dilaluinya, sehingga
jiwa yang terlepas dari alam, mustahil syetan dan jin mampu menembus alam jiwa
yang bebas (ikhlas). Firman Allah :
"Iblis menjawab: demi kekuasaan Engkau ,aku akan menyesatkan mereka semua.
Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis diantara mereka" (QS 38:82-83)
Pada alam inilah "jiwa " mencapai puncak kesempurnaan spiritual tertinggi, dan
Allah-pun memanggilnya kembali kesisi-Nya.
"Wahai jiwa yang tenang (yang tidak terikat oleh syahwatnya)…" "Kembalilah kamu
kepada Tuhanmu dengan rela dan meridhai" "Dan masuklah kamu kedalam syurga-
Ku" (QS 89:27-30)
Pada tahapan ini Eckankar tidak mengungkapkan lebih lanjut keberadaan jiwa sejati,
ia hanya mengatakan "di atas the sugmad adalah masih banyak tahapan yang belum
terwujud".
Pada tahapan kesepuluh "Anami lok", dan kata-kata yang digunakan sebagai objek
spiritual adalah "HU" (Hua), (dari konsep laa ilaha illa hua ... tiada Tuhan kecuali
Dia) dia yang tak terbandingkan oleh sesuatu. Suatu konsep qur'ani yang
membedakan dari jalan spiritual manapun dan akan terhindar dari jebakan
kebisingan intuisi alam materi, yang banyak dipenuhi 'anak-anak syetan' yang
menempati setiap ruang angkasa spiritual.
Dilanjutkan kepada tahapan sebelas "alam sugmad" dan tahapan duabelas "sugmad"
yaitu tidak ada lagi kata-kata yang digunakan (sir) yaitu keadaan samudra cinta dan
kalam Ilahi yang mengalir kepada jiwa muthmainnah (jiwa yang telah terbebas dari
ikatan segala macam alam).
Kemenangan perjuangan Rasulullah menghadapi tantangan dan gangguan syetan
saat beliau pergi mi'raj dengan kekuatan jiwa muthmainnah sabda Nabi:
"Orang yang gagah berani bukanlah orang yang dapat menyerbu musuhnya dengan
tangkas dalam pertempuran, akan tetapi orang yang gagah berani itu sebenarnya
yang kuasa dan mampu menahan hawa nafsunya" (al hadist)
"Kalaulah syetan-syetan itu tidak berkerumun di hati Bani Adam, niscaya mereka
dapat memandang ke alam ghaib (abstrak)" (Hr Ahmad dari abu Hurairah)
Pada tahapan tertinggi (Al A'raaf), kita akan mampu melihat fenomena-fenomena
alam di bawah, seperti intuisi yang ditimbulkan oleh halusinasi, fikiran, perasaan,
dan getaran gelombang-gelombang pendek, yang dihembuskan syetan dan jin.
Sebab jiwa telah melampaui tahapan-tahapan dari ikatan seluruh alam semesta
menjulang menuju yang bukan alam, yaitu Dzat yang maha mutlak.
Firman Allah :
"Sesungguhnya orang-orang yag bertaqwa apabila mereka ditimpa was-was dari
syetan, mereka mengingat Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahankesalahannya"
(QS 7:201)
"Syetan-syetan itu tidak dapat mendengarkan (pembicaraan) para malaikat (alam
yang tinggi) dan mereka dilemparkan dari segala penjuru" (QS 37:8)
"Sesungguhnya syetan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman
dan bertawakkal kepada Allah. Sesungguhnya kekuasaannya (syetan) hanyalah atas
yang mengambilnya pemimpin dan atas orang yang mempersekutukannya dengan
Allah" (QS 16:99-100)
Pada ayat-ayat ini dijelaskan bahwa apabila obyek meditasinya bukan tertuju kepada
yang tak terhingga, yaitu zat yang tidak sama dengan makhluq-Nya, maka selain itu
adalah wilayah syetan dan anak cucunya yang siap menerkam jiwa-jiwa yang
tersesat. Maka jangan heran banyak ahli dzikir yang menyimpang seakan ia
mendapatkan ilham dari Allah dan kemudian mengaku sebagai nabi, sebagai imam
mahdi dan wali Allah. Dan dengan seenaknya ia meninggalkan perintah-perintah
Allah, tidak shalat, tidak zakat, dan berperilaku kharikul 'adah (keluar dari ketentuan
syariat Allah).
Untuk diketahui bahwa orang yang sampai kepada Allah adalah orang yang mampu
menangkap ilham-ilham Allah dan itu tidak akan bertentangan dengan perintah yang
tertulis dalam Al Qur'an dan Al sunnah.
Kesombongan dan keangkuhan merupakan bukti keadaan jiwa masih terikat oleh
pengaruh alam ciptaan. Untuk itu islam menolak didalam ibadahnya menggunakan
sarana yang bukan Allah, seperti pembayangan guru, wasilah rasul, dan mantramantra,
untuk menghantarkan jiwanya menuju Allah. Hal ini mustahil akan sampai
kepada Allah yang maha mutlak, sebab bayangan sesuatu hanya akan
menyampaikan jiwa menuju alam yang paling rendah yaitu alam-alam halusinasi,
kekuatan alam, kekuatan jin dan syetan. Walaupun ia menggunakan sarana kalimat
thayyibah (misalnya "Allah, laa ilaha illah, subhanallah"), kalimat-kalimat ini bukan
sekedar kata-kata yang tidak mempunyai makna, seperti para meditator ketika
memulainya meditasi menggunakan sarana bayangan roh suci, patung dan mantramantra
suci, maka hasilnya akan menjadi sama saja dengan mereka. Hanya sampai
kepada pemuasan rasa tenang dan bahagia semata dan memanfaaatkan fenomenafenomena
kekuatan ghaib untuk atraksi kekuasaan dan ke"aku"an manusia. Alam ini
masih termasuk dunia syahwat.
Selama ilmu kita mengenai Tuhan terbatas kepada apa yang dibayangkan oleh
pikiran dan perasaan sebagai obyek meditasi, selama itu pula kita berkutat dalam
dunia spiritual yang menyimpang dari ketentuan Islam.
Didalam akhir bab ini mari kita perhatikan firman-firman Allah tentang perdebatan
kecil antara Allah dan syetan:
Allah berfirman : Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah
Ku- ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah
kamu merasa termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi ?
Iblis berkata : Aku lebih baik dari padanya, karena Engkau ciptakan aku dari api,
sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.
Allah berfirman: maka keluarlah kamu dari syurga, sesungguhnya kamu adalah
orang yang terkutuk. Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atas kamu sampai hari
pembalasan.
Iblis berkata: Ya Tuhanku … beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan.
Allah berfirman: sesungguhnya kamu termasuk orang yang diberi tangguh. Sampai
hari yang telah ditentukan waktunya (hari qiyamat)
Iblis menjawab: Demi kekuasaan Engkau..aku akan menyesatkan mereka semua.
Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis diantara mereka…. (QS 38:75-83)
Demikian penjelasan keadaan atau suasana meditasi, serta tanjakan-tanjakan yang
banyak dilalui orang didalam bermeditasi atau tafakkur yang bersifat universal. Hal
yang membedakan adalah, akhir dari perjalanan jiwa tersebut yaitu kembali pasrah
kepada Allah yang maha mutlak (ber-Islam = berserah diri secara total)..Inna lIlahi
wa inna ilaihi raji'un…..(tidak berhenti pada tahapan-tahapan alam)
Pada bab berikutnya saya akan mengajak anda membuka cakrawala meditasi
dengan melatih mental spiritual. Salah satunya adalah shalat, yang merupakan
sarana mi'rajnya orang mukmin. Dengan shalat inilah kita menyadari bahwa kita
bertemu dengan Tuhan yang maha Agung.
Setelah memahami seluruh rangkaian pengetahuan yang saya tulis didalam setiap
artikel, mudah-mudahan kita mendapatkan hidayah dari Allah Swt